Asosiasi Fintech Ungkap Lima Cara Dongkrak Digitalisasi Keuangan

Aftech menjabarkan lima cara untuk mendorong digitalisasi layanan keuangan di Indonesia. Riset bahkan menunjukkan, mayoritas UMKM meningkatkan pendapatan berkat fintech lending.
Image title
24 Maret 2022, 17:55
fintech, aftech, umkm
Ajeng Dinar Ulfiana|KATADATA
(ki-ka) Sri Mulyani Menteri Keuangan Indonesia, Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Triyono Gani, Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia dan moderator dalam acara Indonesia Fintech Summit & Expo 2019 di Jakarta Convention Center,  pada 2019.

Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) menyampaikan, ada empat upaya untuk mendorong digitalisasi layanan keuangan di Indonesia. Keempatnya yakni advokasi kebijakan, kolaborasi komunitas, edukasi keuangan, serta inteligensi dan pusat pengetahuan.

“Ini empat hal yang AFTECH terus upayakan untuk mewujudkan digitalisasi layanan keuangan," kata Ketua Aftech Pandu Sjahrir dalam keterangan pers, Kamis (24/3).

Selain itu, ada satu hal yang dibutuhkan untuk mendorong digitalisasi layanan keuangan, yakni infrastruktur digital. “Salah satunya data centre. Investasi yang signifikan dibutuhkan untuk menjadi berdaulat dalam hal data," ujarnya.

Board of Commissioner Halodoc, Efishery, dan Mapan Aldi Haryopratomo berpendapat, kemudahan akses dan penggunaannya memungkinkan lapisan masyarakat berpenghasilan rendah, bisa ikut menggunakan standardisasi kode quick response atau QRIS.

Advertisement

"Kehadiran QRIS mampu menjembatani penyedia layanan keuangan, baik itu pemodal, asuransi, manajemen aset dengan UMKM," kata Aldi. "Data riwayat transaksi para merchant kini terekam dan memudahkan lembaga asuransi untuk menilai risiko para UMKM yang menggunakannya.”

Rekaman data tersebut juga bisa dijadikan alat untuk mengajukan pinjaman ke bank maupun fintech pembiayaan atau lending. Investree misalnya, menyalurkan pendanaan Rp 14,2 triliun atau melonjak 94% secara tahunan (year on year/yoy).

Investree menggaet 10.908 peminjam atau UMKM. "Pembatasan mobilitas selama pandemi Covid-19 pada 2021 berdampak ke UMKM. Mereka membutuhkan pendanaan untuk menjalankan usahanya," kata Co-Founder sekaligus CEO Investree Adrian Gunadi saat konferensi pers virtual, Kamis (24/3).

Riset dari Tenggara Strategics pun menunjukkan bahwa 59% UMKM yang mendapat pinjaman dari Investree, mencatatkan peningkatan pendapatan. Laporan bertajuk Beyond Lending: Building SMEs’ Resilience During Covid-19 Pandemic ini berdasarkan survei kepada 275 peminjam di Investree.

Tenggara Strategics melakukan survei selama November - Desember 2021 di Jabodetabek, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Luar Pulau Jawa.

Hasil riset tersebut sebagai berikut:

  • 62% borrower mikro mengalami penurunan pendapatan selama pandemi Covid-19
  • 59% dari 62% peminjam yang pendapatannya turun, berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan kembali setelah mendapatkan dana dari Investree
  • 39% lainnya mencatatkan pendapatan tetap
  • Hanya 2% yang mengalami penurunan pendapatan lagi setelah mendapatkan dana dari Investree
  • 29% UMKM mengurangi jumlah pekerja selama pandemi
  • 63% dari 29% UMKM yang mengurangi jumlah pegawai itu, berhasil mempekerjakan lagi karyawannya setelah meraih pinjaman dari Investree
  • 21% dari 29% UMKM yang mengurangi jumlah pegawai itu, menambah jumlah pekerja baru setelah mendapatkan dana dari Investree
  • 39% responden mendapatkan bantuan modal pertama kalinya lewat Investree

“Setelah mendapatkan pendanaan dari Investree, mereka bisa mempertahankan bahkan meningkatkan kembali pendapatannya," kata Economic Research Lead Tenggara Strategics Stella Kusumawardhani.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait