Kerugian Induk Shopee Membengkak, Bos Kehilangan Rp 253 Triliun

Kerugian induk Shopee, Sea Group melonjak pada kuartal I. Kekayaan CEO-nya melorot sekitar Rp 253 triliun dibandingkan beberapa bulan lalu.
Image title
18 Mei 2022, 15:15
sea group, e-commerce, singapura, Shopee
shopee
Ilustrasi platform Shopee

Induk Shopee, Sea Group mencatatkan kerugian membengkak dari US$ 422,1 juta pada kuartal I 2021 menjadi US$ 580,1 juta atau Rp 8,5 triliun di kuartal I 2022. Pendiri yakni Forrest Li kehilangan kekayaan US$ 17,3 miliar atau sekitar Rp 253 triliun, berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index.

Perusahaan asal Singapura itu mencatatkan peningkatan laba kotor 81,3% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi US$ 1,2 miliar. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA yang disesuaikan US$ 509,9 juta.

Pendapatan juga melonjak 64,4% yoy menjadi US$ 2,90 miliar pada kuartal yang berakhir 31 Maret. Kenaikan omzet Sea terdorong oleh ekspansi pasar kini e-commerce yakni Shopee.

Pendapatan tersebut di atas perkiraan Refinitiv US$ 2,76 miliar. Refinitiv merupakan perusahaan penyedia data dan infrastruktur pasar keuangan global.

Advertisement

“Kami mencatat hasil yang solid di seluruh bisnis kami pada kuartal I 2022, meskipun penuh tantangan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu," ujar Forrest Li dalam siaran pers, Selasa (17/5).

Pendapatan Shopee naik 64,4% menjadi US$ 1,5 miliar. Sedangkan nilai transaksi bruto atau gross merchant value (GMV) meningkat 38,7% menjadi US$ 17,4 miliar.

Di Asia Tenggara dan Taiwan, Shopee terus menempati peringkat pertama untuk kategori belanja online berdasarkan pengguna aktif bulanan dan total waktu yang dihabiskan. Di Indonesia, Shopee mencatatkan pertumbuhan pesanan kotor 77%.

Di Brasil, Shopee menempati peringkat pertama dalam kategori belanja online berdasarkan pengguna aktif bulanan. Data.ai menyebutkan, Shopee menempati peringkat teratas secara global dalam kategori belanja online berdasarkan unduhan.

Shopee pun menjadi platform e-commerce yang paling banyak diunduh secara global pada tahun lalu. Rinciannya sebagai berikut:

Namun, berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index, kekayaan CEO Sea Group Forrest Li turun dari US$ 22 miliar beberapa bulan lalu menjadi US$ 4,7 miliar saat ini. Artinya, dia kehilangan kekayaan US$ 17,3 miliar atau sekitar Rp 253 triliun.

“Dia masih kaya, tetapi tidak lagi cukup untuk masuk ke posisi 500 teratas orang terkaya di dunia,” demikian dikutip dari Bloomberg, Selasa (17/5).

Bloomberg mencatat, kekayaan bersih 500 orang terkaya di dunia memang berkurang lebih dari US$ 1 triliun tahun ini. Hal ini karena harga saham perusahaan teknologi di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Bahkan muncul istilah Zombi Unicorn di Silicon Valley, Amerika Serikat (AS). Dikutip dari NBC News, frasa ini merujuk pada startup dengan valuasi jumbo, tetapi goyah dan membutuhkan investor untuk bertahan hidup.

Silicon Valley adalah pusat inovasi di Amerika yang mencetak banyak perusahaan teknologi raksasa seperti Apple, Facebook, Google, Netflix, Tesla, Twitter hingga Yahoo. Letaknya di selatan San Francisco, California, AS. Wilayah ini menampung sekitar 2.000 perusahaan teknologi.

Penurunan harga saham perusahaan teknologi di Silicon Valley anjlok setelah bank sentral AS, The Fed menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin (bps). Investor beralih ke saham atau investasi lain karena kinerja beberapa unicorn di wilayah ini dinilai buruk.

Sedangkan Sea Group, kapitalisasi pasarnya US$ 70,33 miliar pada Selasa (17/5) menurut data YCharts. Nilainya turun drastis dibandingkan Oktober 2021 sekitar US$ 200 miliar.

“Sea Group akan melihat tantangan yang meningkat tahun ini,” kata Direktur Pelaksana di Blue Lotus Capital Shawn Yang. Blue Lotus Capital adalah perusahaan riset ekuitas independen di Hong Kong yang memangkas target harga saham Sea dari US$ 180 menjadi US$ 105 pada 10 Mei.

“Bisa tidak Shopee, sumber pendapatan utama Sea, mencapai target tahunan US$ 8,9 miliar hingga US$ 9,1 miliar saat menghadapi persaingan yang semakin ketat dari para pesaing termasuk Alibaba Group Holding Ltd.,” kata Yang. Selain itu, “konsumen kembali ke toko offline dengan pelonggaran pembatasan terkait Covid-19.”

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait