Hadapi ‘Musim Dingin’, Startup RI ‘Bakar Uang’ Tak Diminati Investor

Investor kini lebih selektif dalam menyuntikkan modal ke startup Indonesia. Perusahaan rintisan yang jor-joran dalam 'bakar uang', tak lagi diminati penanam modal.
Image title
23 Mei 2022, 12:54
startup, investor, pendanaan startup, silicon valley
Katadata
Diskusi Katadata Forum dengan tema "Transformasi Indonesia Menuju Raksasa Ekonomi Digital" di Jakarta, pada 2018.

Investor modal ventura menyebutkan bahwa startup Indonesia akan mengalami musim dingin atau winter. Penilaian investor pun lebih ketat dalam menyuntikkan modal dan tidak lagi berminat dengan perusahaan rintisan yang rajin bakar uang.

"Ada istilah winter is coming," kata Managing Partner East Ventures Roderick Purwana pekan lalu (17/5). 

Ia mengatakan, 'winter is coming' atau 'musim dingin segera tiba' menandakan babak baru bagi startup. Kalimat ini dipopulerkan oleh serial Game of Thrones.

Selama babak baru itu, pendanaan ke startup akan lebih sulit. "Tapi bukan berarti kami tidak melakukan apa-apa," katanya. 

Advertisement

Investor menurutnya hanya akan melakukan sejumlah perubahan penilaian terhadap investasi startup. "Investor sekarang bakal mencari startup berkualitas. Akan ada juga perubahan valuasi," ujarnya.

CEO Mandiri Capital Indonesia Eddi Danusaputro juga mengatakan, tren pendanaan ke perusahaan rintisan berubah. "Startup yang diminati bukan lagi yang jor-joran bakar uang, tapi yang punya profitabilitas," ujarnya kepada Katadata.co.id, hari ini (23/5).

“Kami jauh lebih selektif,” tambah dia.

Selain itu, valuasi startup akan lebih rasional. "Ini karena selama ini valuasi startup terlalu tinggi. Maka akan ada koreksi dan itu bukan hal yang buruk. Industri akan jadi lebih sehat," katanya.

Perubahan penilaian startup itu menurutnya, tidak terlepas dari kondisi ekonomi global terutama yang dialami oleh korporasi teknologi di Silicon Valley, Amerika Serikat (AS). 

Silicon Valley merupakan pusat inovasi di Amerika yang mencetak banyak perusahaan teknologi raksasa seperti Apple, Facebook, Google, Netflix, Tesla, Twitter hingga Yahoo. Letaknya di selatan San Francisco, California, AS. Wilayah ini menampung sekitar 2.000 perusahaan teknologi.

Korporasi teknologi di Silicon Valley mencatatkan masa terburuk tahun ini dan disebut ‘zombie unicorn. Frasa zombi unicorn merujuk pada perusahaan rintisan bernilai tinggi tetapi goyah dan membutuhkan investor baru untuk menyelamatkan bisnis mereka.

Harga saham startup olahraga di Silicon Valley, Peloton misalnya turun dari US$ 163 pada akhir 2020 menjadi sekitar US$ 17 pada awal bulan ini (5/5). The Wall Street Journal melaporkan, eksekutif perusahaan ingin menjual saham minoritas kepada investor luar.

Peloton juga memberhentikan atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan karyawannya pada Februari.

Kemudian, perusahaan klip video selebritas Cameo merumahkan 87 orang atau sekitar seperempat dari total staf minggu lalu.

Lalu, platform investasi berbasis online untuk saham, kripto, dan emas, Robinhood mencatatkan penurunan harga saham 4,62% di Nasdaq pada awal bulan ini (6/5). Robinhood juga memberhentikan 9% dari total karyawan penuh waktunya.

Perusahaan barang konsumen Thrasio juga dikabarkan memberhentikan sebagian karyawan. PHK ini menjadi bagian dari reorganisasi yang lebih besar perusahaan.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait