Induk Instagram Gugat Perusahaan Cina karena Ambil 350 Ribu Data

Meta menggugat perusahaan Cina dan pengguna terkait pengambilan data 350 ribu data profil Instagram.
Fahmi Ahmad Burhan
7 Juli 2022, 10:26
facebook, meta, Instagram
Unsplash/Alexander Shatov
Ilustrasi logo Instagram

Induk Facebook, Meta menggugat perusahaan Cina bernama Octopus dan seorang pengguna Instagram bernama Ekrem Ate terkait keamanan data. Ada 350 ribu data profil Instagram yang diambil dengan metode scraping.

Meta mengajukan tuntutan hukum federal secara terpisah kepada Octopus dan Ekrem Ate.

Menurut Meta, Octopus merupakan anak dari perusahaan teknologi multinasional Cina. Octopus menawarkan layanan pengambilan data dengan cara scraping kepada individu dan perusahaan.

Octopus menjual perangkat lunak yang dapat digunakan orang untuk melakukan kampanye pengumpulan data. Software ini dapat memperoleh sejumlah data seperti nomor telepon, tanggal lahir, dan informasi pribadi lainnya tentang setiap teman di Facebook dan Instagram yang terhubung dengan pelanggan Octopus. 

Advertisement

Atas praktiknya itu, Octopus dinilai melanggar persyaratan layanan dan berusaha menghindari deteksi oleh perusahaan.

“Gugatan kami menuduh bahwa Octopus melanggar ketentuan layanan dan Digital Millennium Copyright Act. Mereka terlibat dalam pengikisan data yang tidak sah,” kata direktur penegakan dan litigasi platform Meta Jessica Romero dikutip dari TechCrunch, Rabu (6/7).

Sedangkan Ekrem Ate merupakan pengguna Instagram yang mengumpulkan informasi tentang lebih dari 350 ribu data profil Instagram. Ia menerbitkan data itu di serangkaian situs tanpa persetujuan.

Meta sebenarnya telah mengambil sejumlah tindakan penegakan hukum terhadap Ate sejak awal 2021. Induk Instagram ini mengirim surat penghentian dan pencabutan aksesnya ke layanan.

Raksasa teknologi itu tengah gencar melakukan upaya hukum atas pelanggaran keamanan data pribadi pengguna. Sebelumnya, Meta membawa kasus pengambilan data pengguna oleh perusahaan Israel bernama BrandTotal ke meja hijau.

Hakim dalam kasus itu berpihak pada Meta dan menyebut BrandTotal melanggar ketentuan penggunaan Facebook. BrandTotal dinilai telah mengakses halaman yang dilindungi kata sandi, serta menggunakan akun palsu.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait