India Buat Teknologi Pengganti GPS, RI Wacana Bangun Browser Gatotkaca

India mengembangkan sistem pengganti GPS untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing, termasuk Amerika. Di Indonesia, Kominfo baru berencana membuat pengganti Google Chrome.
Desy Setyowati
27 September 2022, 14:41
NaVIC, india, google,
Karnavaty University
NaVIC

Pemerintah India mengembangkan teknologi navigasi pengganti GPS alias Global Positioning System. Sedangkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) baru sempat berencana membuat mesin pencarian (browser) seperti Google Chrome bernama Gatotkaca.

GPS adalah salah satu sistem navigasi berbasis satelit. Sedangkan teknologi yang dikembangkan oleh India bernama NavIC atau Navigation with Indian Constellation.

Hal itu sebagai salah satu langkah pemerintah India untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asing, termasuk GPS dari Amerika Serikat (AS).

“NavIC befokus menyediakan navigasi domestik yang lebih akurat bagi konsumen di India,” demikian dikutip dari Reuters, Selasa (27/9).

Advertisement

Pemerintah India menyetujui pengembangan NavIC pada 2006. Namun baru beroperasi penuh pada 2018, dengan delapan satelit yang mencakup seluruh wilayah India dan beberapa negara lain.

India ingin teknologi NavIC digunakan di negara lain. Namun sebelum itu, Negeri Bollywood akan mendorong perusahaan teknologi mengintegrasikan sistem dan perangkatnya dengan NavIC.

Akan tetapi, perwakilan Apple, Xiaomi, dan Samsung dikabarkan keberatan dengan rencana tersebut. Alasannya, biaya produksi bisa meningkat signifikan.

“Penerapan teknologi semacam itu akan membutuhkan lebih banyak izin pengujian," kata sumber yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Salah satu eksekutif Samsung di India mengatakan kepada para pejabat, bahwa mendukung NavIC memerlukan chip baru dan perubahan perangkat keras (hardware) lainnya.

Selain itu, “sebagian besar perusahaan siap untuk model yang akan diluncurkan pada 2024,” ujar dia.

Perusahaan teknologi juga mengkhawatirkan frekuensi yang digunakan untuk operasional sistem NavIC. Saat ini, pemerintah India mengandalkan frekuensi satelit L5, yang jauh lebih jarang digunakan untuk smartphone.

Perusahaan berusaha meyakinkan India untuk menggunakan frekuensi L1, atau yang sama dengan frekuensi GPS.

Meski begitu, sejumlah merek ponsel sebenarnya sudah menyesuaikan gadget mereka dengan aplikasi khusus di beberapa negara. iPhone misalnya, mendukung GLONASS Rusia, Galileo Uni Eropa, QZSS Jepang, dan BeiDou China.

Walaupun, sistem-sistem itu diluncurkan jauh sebelum NavIC. Apple pun membutuhkan beberapa waktu untuk menerapkannya di gawai.

Kominfo Ingin Buat Pengganti Google Chrome

Di Indonesia, Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Johnny G Plate mengatakan pernah berencana membuat mesin pencarian atau search engine sendiri bernama Gatotkaca seperti Google Chrome.

Hal itu ia sampaikan saat wawancara dengan Deddy Corbuzier di kanal YouTube Deddy Corbuzier dalam acara podcast #CloseTheDoor Corbuzier Podcast bulan lalu (3/8). Kala itu, Deddy bertanya apakah mungkin warga Indonesia membuat aplikasi seperti Instagram.

“Harus bisa,” kata Johnny menjawab pertanyaan Deddy, pada Agustus (3/8). “Bukan hanya aplikasi Instagram, tapi search engine pun harus bisa kita (warga Indonesia) buat," tambah dia.

Johnny bercerita, ketika ia pertama kali menjabat menteri Kominfo pada akhir 2019, dia memanggil tim. Ia bertanya kepada timnya, “bisa tidak kita membuat search engine. Name it Gatotkaca misalnya,” ujar dia.

Ia juga sudah menghitung biaya yang mungkin dibutuhkan untuk membuat search engine seperti Google Chrome itu. "Berapa triliun uang yang dibutuhkan untuk membangun itu. Saya sudah mempersiapkannya,” katanya.

Namun ahli informasi dan teknologi (IT) menilai langkah ini terlambat. “Ibarat pertempuran search engine sudah lewat dan pemenangnya sudah jelas di dunia ini ya Google,” kata Spesialis Keamanan Teknologi Vaksincom Alfons Tanujaya kepada Katadata.co.id, Selasa (9/8).

Reporter: Lenny Septiani
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait