Startup PHK dan Tutup Layanan di RI Bertambah, Kini Giliran Bananas

Bananas menutup layanan di Indonesia. Padahal sektor startup belanja kilat digandrungi oleh investor pada awal tahun ini.
Lenny Septiani
14 Oktober 2022, 17:25
Bananas, startup phk, startup tutup
Bananas
Bananas

Jumlah startup yang melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK dan menutup layanan di Indonesia bertambah. Kali ini giliran perusahaan rintisan belanja kilat alias quick commerce Bananas.

Startup Bananas baru beroperasi pada Januari. Namun kini, perusahaan itu dikabarkan melakukan PHK terhadap 36 karyawan berdasarkan laporan Tech In Asia.

Bananas tidak mengonfirmasi mengenai kabar tersebut. Namun dalam akun Instagram, startup itu menyampaikan bahwa ada pegawai yang terkena dampak penutupan layanan.

“Kami bekerja sama dengan jaringan mitra dan rekan industri untuk menempatkan talenta terbaik kami yang terkena dampak. Ini guna memastikan mereka beralih dengan lancar selama transisi ini,” kata Bananas melalui akun Instagram @bananasindonesia, Jumat (14/10).

Advertisement
Pesan Bananas kepada para konsumen
Pesan Bananas kepada para konsumen (Instagram/BananasIndonesia)

“Sebagian besar sudah melakukan wawancara,” Co-Founder sekaligus CEO Bananas Mario Gaw kepada Tech in Asia.

Startup quick commerce itu memutuskan untuk menutup layanan e-grocery. “Dari lubuk hati, kami ingin terus melayani pelanggan setia,” ujar perusahaan.

“Namun, setelah beroperasi selama berbulan-bulan sambil terus bereksperimen dengan berbagai bagian bisnis, kami tidak bisa membayangkan bagaimana unit ekonomi (yang mereka kembangkan) ini bisa bekerja,” tambah Bananas.

Startup itu akan menggunakan sisa dana yang diperoleh dari investor untuk membangun sesuatu yang lebih baik. Namun perusahaan tidak memerinci hal ini.

Bananas hanya mengonfirmasi akan menghentikan operasional layanan e-grocery. “Setelah kami menjual sisa persediaan produk berkualitas tinggi dengan diskon signifikan,” kata perusahaan.

Seorang investor Bananas mengatakan kepada Tech in Asia bahwa Bananas sebenarnya memiliki runway yang panjang dan uang tunai yang cukup besar di bank. “Ini bisa untuk melanjutkan perjalanan dengan arah yang baru,” kata dia kepada Tech In Asia.

Dalam konteks startup, runway mengacu pada berapa lama perusahaan dapat bertahan di pasar, jika pendapatan dan pengeluaran konstan.

Managing Partner East Ventures Willson Cuaca mengatakan kepada Tech in Asia bahwa mereka akan mendukung keputusan para pendiri Bananas, asalkan tetap berkonsultasi. “Kalibrasi bisnis dan latihan perusahaan adalah hal yang normal,” kata dia.

Bananas didirikan pada akhir tahun lalu oleh Gaw dan Kristian Sinaulan. Pada Februari, startup ini mengumpulkan US$ 1,5 juta dari putaran pendanaan awal yang dipimpin oleh East Ventures, dengan partisipasi SMDV, Arise, MDI Ventures, dan Y Combinator.

Startup itu total menerima investasi setidaknya US$ 31 juta tahun ini.

Reporter: Lenny Septiani
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait