OJK: 40% Startup Pinjaman Online Untung

Lenny Septiani
9 Desember 2022, 16:25
startup, pinjaman online, fintech
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Belanja online

Dari 102 startup pinjaman online atau teknologi finansial pembiayaan (fintech lending) yang berizin di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 41 di antaranya sudah untung. Namun kredit macet atau tingkat wanprestasi pengembalian (TWP) meningkat.

“Sebanyak 41 sudah untung secara profitabilitas, sementara 61 masih rugi. Secara ekuitas, ada tiga yang negatif,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank OJK Ogi Prastomiyono dalam konferensi pers, Selasa (6/12).

Menurutnya, sektor fintech lending tumbuh secara agregat. Hal ini dapat dilihat pada pertumbuhan penyaluran pinjaman sebagai berikut:

Seiring dengan meningkatnya penyaluran pinjaman, kredit macet atau TWP 90 alias keterlambatan bayar lebih dari 90 hari meningkat dibandingkan 2021. Rinciannya sebagai berikut:

 

 2020 (%)2021 (%)2022
(%)Nilai
Januari3,981,782,52Rp 785,94 miliar
Februari3,921,592,35Rp 812,57 miliar
Maret4,221,322,32Rp 866,64 miliar
April4,931,372,31Rp 892 miliar
Mei5,11,542,28Rp 917 miliar
Juni6,131,532,53Rp 1,119 triliun
Juli7,991,822,67Rp 1,21 triliun
Agustus8,881,772,89Rp 1,36 triliun
September8,271,93,07Rp 1,49 triliun
Oktober7,582,132,9Rp 1,42 triliun
November7,182,24n/an/a
Desember4,782,29n/an/a

 

Sumber: Data OJK, diolah Katadata.co.id

Ogi mengatakan, OJK mengkaji pengaturan batas maksimal suku bunga yang dibebankan kepada nasabah fintech lending. "Dengan mengutamakan aspek keadilan dan mempertimbangkan aspek kewajaran sebagaimana berlaku di sektor lain yang memiliki kesamaan proses bisnis," ujarnya.

OJK juga akan menyempurnakan regulasi dan sistem informasi fintech lending.

Selain itu, otoritas berkoordinasi dengan Kementerian komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk meninjau kebijakan moratorium perizinan bagi fintech lending. “Kami menyiapkan sistem informasi untuk mendukung proses perizinan, termasuk untuk fintech lending," ujarnya.

Ketua Bidang Humas AFPI Andi Taufan menilai, rasio kredit macet terjadi karena industri fintech lending tumbuh besat. “Peningkatan TWP 90 sulit dihindari,” ujar dia kepada Katadata.co.id, pada September (27/9).

Ia menjelaskan bahwa non performing loan (NPL) atau kredit macet cenderung naik ketika terjadi penambahan jumlah penyaluran secara signifikan, termasuk jumlah borrower.

Reporter: Lenny Septiani
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait