Demonstrasi Berlanjut, Asing Jual Saham di Pasar Modal Rp 2,56 Triliun

Selain demonstrasi, ada dua penyebab investor asing menjual sahamnya di pasar modal Indonesia.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
1 Oktober 2019, 21:12
Demonstrasi berlanjut, investor asing menjual sahamnya di pasar modal Indonesia, senilai Rp 2,56 triliun.
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Demonstrasi berlanjut, investor asing menjual sahamnya di pasar modal Indonesia, senilai Rp 2,56 triliun.

Investor asing merespons negatif demonstrasi mahasiswa di depan gedung DPR sejak pekan lalu. Mereka pun menjual sahamnya di pasar modal Indonesia, yang nilainya mencapai Rp 2,56 triliun.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing melepas sahamnya (net sell) Rp 1,89 triliun di seluruh pasar sepanjang 23-27 September. Mereka kembali melakukan aksi jual saham, masing-masing Rp 68,91 miliar dan Rp 607,11 miliar pada 30 September dan 1 Oktober.

Secara total, investor asing telah menjual sahamnya di pasar modal Indonesia hingga Rp 2,56 triliun sejak pekan lalu. Hal ini membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,49% sejak minggu lalu, menjadi 6.138,25 pada perdagangan hari ini (1/10).

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, demonstrasi yang selalu berujung bentrok antara massa dengan kepolisian memberikan sentimen negatif bagi pasar modal. "Khususnya untuk stabilitas keamanan dan politik dalam negeri," kata dia kepada Katadata.co.id, Selasa (1/10). 

(Baca: Ekonom Pantau Aksi Demonstrasi Tak Berdampak Besar ke Saham & Obligasi)

Sebagai negara berkembang, pasar modal Indonesia rentan dipengaruhi sentimen dari luar negeri. Di satu sisi, kondisi ekonomi dan politik dalam negeri merupakan bantalan untuk menangkis sentimen eksternal yang negatif.

Karena itu, kondisi dalam negeri secara fundamental harus positif untuk mendorong investasi. “Kalau sentimen global jelek, sementara fundamental dalam negeri juga tensinya tidak benar, otomatis bantalannya tipis. Maka, tingkat volatilitas akan tinggi," kata Nico.

Anggota Panel Ahli Katadata Insight Center (KIC) Wahyu Prasetyawan sepakat bahwa investor asing menganggap investasi di Indonesia berisiko, sehingga mereka menjual sahamnya. Namun, menurutnya demonstrasi mahasiswa bukan satu-satunya penyebab asing keluar.

"Ketidakpastian perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok juga menjadi sebab yang tak bisa diabaikan," kata Wahyu. Pelaku pasar memang tengah menanti pertemuan antara kedua negara yang dijadwalkan pada 10 Oktober 2019.

(Baca: Asing Jualan Saham Rp 2,3 Triliun Sepekan, Korbannya Sektor Perbankan)

Head of Equity Capital Markets Samuel International Harry Su menilai, investor juga tengah menunggu dan melihat situasi (wait and see) terkait pembentukan kabinet baru oleh Presiden Terpilih Joko Widodo (Jokowi) untuk masa jabatan yang kedua. Namun, aksi demonstrasi mahasiswa menambah kekhawatiran investor asing.

"Berlanjutnya demonstrasi dan kerusuhan di lapangan, menambah kekhawatiran dan berkontribusi pada arus keluar asing terbesar sejak Juni 2018," kata Harry dikutip dari Bloomberg.

Berdasarkan data Bloomberg, investor asing telah melakukan aksi jual saham bersih US$ 1,2 miliar sepanjang Kuartal II 2019. Penjualan saham oleh investor asing ini merupakan yang terbesar sejak Juni 2018.

(Baca: Pengusaha Khawatir Investasi Terganggu Aksi Demonstrasi)

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Video Pilihan

Artikel Terkait