Saham Berkapitalisasi Besar Rontok, IHSG Ditutup Melemah 2,78%

Harga saham berkapitalisasi besar seperti BRI dan Bank Mandiri turun. Alhasil, IHSG anjlok pada penutupan perdagangan hari ini.
Image title
Oleh Muchammad Egi Fadliansyah
3 Agustus 2020, 16:37
Saham Berkapitalisasi Besar Rontok, IHSG Ditutup Melemah 2,78%
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.
Ilustrasi, karyawan mengamati layar pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (17/7/2020).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 2,78% ke level 5.006,23 pada perdagangan hari ini (3/8). Pemberat laju indeks yakni saham-saham berkapitalisasi besar.

Salah satunya, harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang turun 5,38% menjadi Rp 2.990 per lembar. Lalu, harga saham PT HMSP Sampoerna Tbk (HMSP) anjlok 5,28% menjadi Rp 1.615 per lembar.

Harga saham PT Astra Internasional Tbk (ASII) juga turun 5,24% menjadi Rp 4.880 per lembar. Lalu, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang harganya melemah 5,17% menjadi Rp 5,500 per lembar.

Saham berkapitalisasi besar lainnya yang anjlok yakni PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) 6,67% menjadi Rp 6.300 dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) 4,26% menjadi Rp 2,920 per lembar. Begitu juga harga saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), terkoreksi 3,48% ke level Rp 4,440 per lembar.

Setidaknya, ada 401 saham yang ditutup di zona merah, 54 menguat, dan 129 stagnan. Nilai kapitalisasi pasar juga turun Rp 167,2 triliun dibandingkan penutupan perdagangan pekan lalu (30/7).

Investor asing mencatatkan jual bersih (net foreign sell) Rp 1,48 triliun di seluruh pasar. Sedangkan saham yang paling banyak dibeli penanam modal asing yakni BRI dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), masing-masing Rp 593 miliar dan Rp 268 miliar.

Dari sisi pasar modal, ada 10,64 miliar unit saham yang diperdagangkan pada hari ini. Nilai transaksinya Rp 10,9 triliun.

Analis MNC Sekuritas Victoria Venny mengatakan, IHSG terperosok ke zona merah lantaran pelaku pasar mengantisipasi rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II yang diprediksi -4% secara tahunan (year on year/yoy). “Dari domestik, sepertinya market sudah mengantisipasi kalau akan terjadi deflasi pada Juli karena melemahnya demand,” katanya kepada Katadata.co.id.

Selain itu, pasar terpengaruh sentimen kekhawatiran resesi global. Terlebih lagi, kontraksi ekonomi di Amerika Serikat dan Jerman cukup dalam.

Ditambah tingkat kasus harian Covid-19 yang terus melonjak, bahkan terus menyentuh level tertinggi. “Filipina malah sudah lockdown lagi negaranya,” ujar Venny.

Hal senada disampaikan oleh Analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama.  “Faktor resesi teknikal pendorongnya (IHSG melemah),” katanya.

Selain itu, pelaku pasar menantikan rilis data produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal II. Faktor lainnya, masih tingginya tambahan kasus harian positif virus corona di Tanah Air.

 

Reporter: Muchammad Egi Fadliansyah

Video Pilihan

Artikel Terkait