Investor Khawatir Indonesia Resesi, Rupiah Sentuh 14.806 per Dolar AS

Pasar khawatir Indonesia memasuki resesi, jika pertumbuhan ekonomi kuartal III terkontraksi. Rupiah pun melemah pada pagi, hari ini.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
14 Agustus 2020, 09:51
Pasar Khawatir Indonesia Resesi, Rupiah Sentuh Rp 14.806 per Dolar AS
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.
Ilustrasi, petugas menunjukkan angka pada kalkulator di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Jakarta, Rabu (22/7/2020).

Nilai tukar rupiah pada pasar spot dibuka melemah 0,16% ke level Rp 14.775 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi, hari ini (14/8). Analis menilai, ini terjadi karena pasar khawatir Indonesia mengalami resesi ekonomi.

Setelah perdagangan dibuka, mata uang Garuda pun terus melemah hingga menyentuh level Rp 14.806 per dolar AS.

Meski begitu, mayoritas mata uang Asia juga melemah pada pagi ini. Dikutip dari Bloomberg, yen Jepang turun 0,01%, dolar Singapura 0,02%, won Korea Selatan 0,2%, rupee India 0,02%, yuan Tiongkok 0,06%, dan ringgit Malaysia 0,14%.

Sedangkan peso Filipina dan baht Thailand masing-masing menguat 0,04% dan 0,03%. Lalu, dolar Hong Kong cenderung stagnan.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra memperkirakan, rupiah berpotensi terus melemah pada hari ini. “Dari dalam negeri, potensi resesi di Indonesia yang diperkirakan banyak analis, menjadi faktor penekan,” kata dia kepada Katadata.co.id, Jumat (14/8).

Beberapa analis mengatakan, resesi adalah kondisi ketika pertumbuhan ekonomi suatu negara terkontraksi selama dua kuartal berturut-turut.

Sedangkan faktor eksternal yakni paket stimulus AS yang belum disetujui. Selain itu, indikasi pemulihan ekonomi yang lambat membuat rupiah melemah.

Imbas kedua faktor tersebut, Tjendra menilai rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 14.700-Rp 14.850 per dolar AS.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II terkontraksi 5,32% secara tahunan (year on year/yoy). Pencapaian ini di bawah proyeksi pemerintah, minus 4,32%.

Dibandingkan kuartal sebelumnya atau quarter to quarter (qtq), ekonomi Indonesia juga tumbuh negatif 4,19%. Sedangkan sepanjang semester I, pertumbuhan ekonomi minus 1,62% yoy.

Kinerja perekonomian yang buruk itu, utamanya disebabkan oleh anjloknya konsumsi rumah tangga yang terkontraksi 6,51% qtq dan 5,51% yoy. Ini terjadi akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Padahal, konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar setengah dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Jika pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga kembali negatif, maka Indonesia resmi memasuki resesi.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Video Pilihan

Artikel Terkait