BI Tahan Bunga Acuan, Rupiah Paling Perkasa di Asia

BI mempertahankan suku bunga acuan di level 4%. Rupiah pun menguat 0,49%, tertinggi dibandingkan mata uang Asia pada sore ini.
Agatha Olivia Victoria
19 Agustus 2020, 16:52
BI Tahan Bunga Acuan, Rupiah Paling Perkasa di Asia
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Ilustrasi, petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS (USD) di tempat penukaran uang Dolarindo, Melawai, Jakarta, Rabu (22/7/2020).

Nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 0,49% ke level Rp 14.772 per dolar Amerika Serikat (AS) pada sore ini (19/8). Mata uang Garuda terus menguat setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia menguat sore ini. Dikutip dari Bloomberg, yen Jepang naik 0,03%, dolar Singapura 0,08%, dolar Taiwan 0,07%, won Korea Selatan 0,25%, peso Filipina 0,12%, yuan Tiongkok 0,22%, dan ringgit Malaysia 0,19%.

Sedangkan rupee India dan baht Thailand masing-masing melemah 0,08% dan 0,09%. Lalu, dolar Hong Kong cenderung stagnan.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah menguat 121 poin dibandingkan kemarin, menjadi Rp 14.786 per dolar AS. Data ini dipublikasikan oleh BI pada Pukul 10.00 WIB.

BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4%. Sepanjang tahun ini, bank sentral telah memangkas bunga acuan 2% untuk membantu pemulihan ekonomi yang terpukul pandemi corona.

Selain itu, bank sentral mempertahankan suku bunga fasilitas simpanan alias deposito facility sebesar 3,25%. BI juga menetapkan bunga pinjaman atau lending facility 4,75%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, pergerakan nilai tukar rupiah selama ini dipengaruhi oleh faktor teknikal. "Teknikal itu merespons berita hari ke hari. Beritanya apa? Ekonomi AS, ketegangan AS dan Tiongkok, dan juga berita dalam negeri," kata Perry dalam konferensi virtual, Rabu (19/8).

Perry mengungkapkan, rupiah terdepresiasi 2,36% point to point atau 2,92% secara rerata pada Juli, dibandingkan Juni. Hal ini dipicu kekhawatiran terjadinya gelombang kedua pandemi Covid-19, prospek pemulihan ekonomi global, dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat tensi geopolitik AS–Tiongkok.

Kekhawatiran itu berlanjut, sehingga nilai tukar rupiah pada Agustus kembali tertekan. Rupiah terdepresiasi 1,65% point to point atau 1,04% secara rerata, dibandingkan dengan Juli.

Bahkan, rupiah terdepresiasi 6,48% jika dibandingkan level pada akhir tahun lalu. Dengan demikian, Perry menilai rupiah secara fundamental masih undervalued. "Maka, berpotensi terus menguat seiring levelnya," ujarnya.

Optimisme tersebut didukung inflasi yang rendah dan terkendali. Selain itu, defisit transaksi berjalan rendah, daya tarik aset keuangan domestik tergolong tinggi, dan premi risiko Indonesia yang menurun.

Prospek pemulihan ekonomi Indonesia juga dinilai menguat pada semester II. Faktor-faktor tersebut dapat mendukung prospek penguatan nilai tukar.

Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar, bank sentral terus menjaga ketersediaan likuiditas baik di pasar uang maupun pasar valas dan memastikan bekerjanya mekanisme pasar.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait