Investor Asing Jual 825 Juta Saham Bakrie & Brothers

Investor asing, Fountain City Investment Limited menjual 825 juta saham Bakrie & Brothers. Emiten dengan kode BNBR ini merugi Rp 46,46 miliar pada semester I.
Image title
6 Oktober 2021, 20:00
Bakrie & Brothers, investor asing, saham
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Logo Bakrie & Brothers

Investor asing melepas kepemilikan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Fountain City Investment Limited menjual 825 juta saham, sehingga kepemilikannya turun dari 1,91 miliar atau setara 9,04% menjadi 1,08 miliar atau sekitar 5,14%.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan Bakrie & Brothers Christofer Alexander Uktolseja pada Rabu (6/10), perseroan tidak mengetahui secara rinci terkait harga, tanggal, dan tujuan transaksi tersebut.

Katadata.co.id menelusuri data Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) terkait kepemilikan saham di atas 5% di seluruh emiten per 20 September. Fountain City Investment diketahui masih mempunyai 1,91 miliar saham per 17 September. Jumlahnya berkurang pada 20 September.

Harga saham Bakrie & Brothers di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di harga paling rendah sejak 13 September 2018yakni Rp 50 per lembar. Perusahaan melantai di Bursa pada 28 Agustus 1989 dengan harga Rp 7.975 per lembar.

Selain Fountain City, pemegang saham lain yaitu Daley Capital Limited melakukan pembelian 200 ribu unit saham. Namunnya jumlah relatif kecil jika dibandingkan total yang dimiliki oleh Daley 2,25 miliar atau setara 10,26%.

Meski begitu, Christofer tidak mengetahui harga, tanggal, dan tujuan transaksi dari Daley Capital Limited.

Berdasarkan penelurusan Katadata.co.id, penambahan kepemilikan Daley Capital Limited terjadi pada 29 September.

Bakrie & Brothers tercatat membukukan pendapatan bersih Rp 1,03 triliun pada semester I. Angka ini menyusut 21,18% year on year (yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 1,31 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan emiten dengan kode saham BNBR ini mayoritas berasal dari bisnis infrastruktur dan manufaktur Rp 944,05 miliar. Namun penghasilan dari lini ini turun 26,92% dari sebelumnya Rp 1,29 miliar.

Bisnis lain yang menopang pendapatan Bakrie & Brothers berasal dari jasa pabrikasi dan konstruksi yang menyumbang Rp 94,74 miliar. Ini meningkat 262% yoy dibanding periode sama tahun lalu Rp 26,16 miliar.

Hal itu menjadi salah satu alasan perusahaan merugi Rp 46,46 miliar sepanjang semester I. Meski begitu, kerugian ini menyusut dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 125,34 miliar.

Presiden Direktur Bakrie & Brothers Anindya Bakrie mengatakan, pandemi Covid-19 yang berkepanjangan berdampak signifikan terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan. "Namun, secara bertahap, perusahaan dapat membalik kinerja negatif itu," katanya dalam siaran pers, pada Agustus (1/8).

Anin mengatakan, Bakrie & Brothers melakukan upaya-upaya efisiensi di berbagai sektor sepanjang tahun ini. Alhasil, kerugian dapat diperkecil.

“Dalam menjalankan efisiensi perusahaan, beberapa cara kami tempuh termasuk langkah-langkah penghematan, penurunan biaya hingga penjadwalan ulang pembayaran kewajiban," katanya.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait