Pemberdayaan Potensi Masyarakat, Kunci Sukses Hadapi Krisis

Bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat, kelompok Satgas Covid-19 lokal dibentuk guna menindaklanjuti berbagai situasi yang terjadi di lingkungan mereka
Dicky Christanto W.D
28 Juni 2022, 17:32

Sejak pandemi Covid-19 melanda, pemerintah Indonesia telah berupaya untuk menghadirkan berbagai terobosan dan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk segera mengendalikan keadaan. Salah satunya adalah dengan menyediakan vaksin dan menggalang penyelenggaraan vaksinasi di berbagai wilayah.

Akan tetapi,  walaupun telah mengantongi akses terhadap vaksin, pemerintah masih kewalahan dalam mengendalikan situasi. Tingkat kepatuhan masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan masih relatif rendah, sementara korban terus berjatuhan.

Kendati demikian, sebagian masyarakat yang memiliki kesadaran dan tingkat kepedulian tinggi berduyun-duyun menggalang usaha, bergotong-royong menolong mereka yang tertular Covid-19 hingga mereka yang terdampak secara ekonomi.

Mulai dari gerakan kecil seperti menggantungkan paket sembako di pagar-pagar rumah, disertai catatan “Silakan ambil jika membutuhkan”, hingga pada tingkat rukun tetangga, dimana banyak warga menyumbangkan waktu, tenaga dan uang dengan membuat fasilitas cuci tangan dilengkapi sabun dan turut mencegah kerumunan pada lingkungan masing-masing.

Secara kolektif, warga juga berupaya menepis stigma terhadap pasien Covid-19 yang biasanya diikuti dengan pengucilan, dengan mengkampanyekan berbagai sikap dan respon yang tepat terhadap pasien positif Covid-19 dan situasi pandemi.

Pada saat bersamaan, para tenaga medis juga berkontribusi melalui gerakan telemedisin guna mendampingi warga dalam menghadapi pandemi.   

Sedangkan di jagat maya, selain akun resmi milik pemerintah, banyak juga akun pribadi yang memberikan counterargument terhadap narasi-narasi menyesatkan yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif pada pasien positif Covid-19.

Keberadaan hoaks dan berbagai informasi menyesatkan itu terbukti tidak hanya berdampak buruk bagi pasien positif, tetapi juga menciptakan kebingungan di tengah masyarakat sehingga banyak dari mereka gagal melindungi keluarga dan lingkungan terdekat.

Secara bersamaan, inisiatif sosial warga terus bergulir, saling bahu-membahu untuk mengatasi keadaan.

Berbagai kelompok warga membantu menyediakan fasilitas untuk isolasi mandiri pasien bergejala ringan, bahkan menyediakan ambulans gratis guna membawa pasien bergejala serius.

Bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat, kelompok Satgas Covid-19 lokal dibentuk guna menindaklanjuti berbagai situasi yang terjadi di lingkungan mereka.

Guna memastikan bentuk bantuan dan mendorong gerakan gotong royong masyarakat optimal dalam melakukan misi sosialnya, pemerintah di sejumlah daerah juga menginisiasi gerakan dengan jangkauan level provinsi.

Provinsi Jawa Timur membentuk Gerakan Saling Jaga, yang melibatkan segenap potensi masyarakat guna memberikan bantuan terhadap warga terinfeksi dan terdampak.

Secara bersamaan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membentuk inisiatif Gerakan Jogo Tonggo yang berfokus pada penanggulangan pandemi.

Gerakan yang bertumpu pada sinergi aparat pemerintahan dan para relawan masyarakat ini terus bekerja sama dengan dalam menyalurkan berbagai bantuan.

Gerakan Jogo Tonggo, yang diketuai oleh ketua RW setempat, berfokus pada sektor kesehatan dan ekonomi warga. Kegiatan pada sektor kesehatan dimulai dari mengidentifikasi warga yang tertular, menentukan status dan tindak lanjutnya.

Pada sektor ekonomi, para relawan Jogo Tonggo memberi bantuan dengan memastikan bahwa warga tetap mendapatkan berbagai kebutuhan dasar, termasuk membantu bekerja menggarap sawah dan kebun mereka yang terinfeksi.

Walaupun secara umum berbagai inisiatif gerakan gotong royong warga ini telah terbukti menjadi salah satu kunci sukses bersama dalam menanggulangi Covid-19, masih cukup banyak “pekerjaan rumah” yang perlu diselesaikan oleh pemerintah dalam rangka menyiapkan masyarakat menghadapi masa transisi pandemi menuju endemi, maupun kesiapan terhadap krisis kesehatan lain.

Penelitian yang dilakukan bersama antara AIHSP dan PKMK FK-KKMK UGM merekomendasikan optimalisasi pada strategi komunikasi yang bersifat dua arah, pelibatan berbagai kalangan, memaksimalkan potensi sosial dan pemilihan media yang tepat.

Terkait strategi komunikasi dua arah misalnya, penelitian ini masih menemukan banyak kasus dimana alih-alih warga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya vaksin, mereka justru diintimidasi.

“Jika tidak mau divaksin, maka kedepannya, jika terjadi sesuatu, pemerintah tidak akan memberikan bantuan,” ujar seorang warga di Gunung Kidul.

Di satu sisi, pemerintah juga diminta untuk meningkatkan pengetahuan petugas medis dalam mengatasi krisis kesehatan, terlebih bagi kelompok rentan seperti lansia dan warga dengan disabilitas, agar mereka mampu menghadirkan dialog berbobot yang mencerahkan.

Mengenai pelibatan berbagai kalangan, pemerintah juga diharapkan untuk mampu melibatkan lebih banyak kalangan, terutama dengan kelompok lansia dan warga dengan disabilitas, yang masih sering menemukan kesulitan mengakses bantuan di lapangan.

Dalam upayanya untuk memaksimalkan potensi sosial, banyak yang mulai menyuarakan perlunya keberlanjutan gerakan sosial seperti Jogo Tonggo di Jawa Tengah untuk ditetapkan secara resmi sehingga masyarakat  dapat lebih cepat tanggap menghadapi situasi serupa di masa datang.

Identifikasi terhadap media yang tepat juga menjadi salah satu kepedulian bersama. Membanjiri semua kanal informasi dan media sosial tidak selamanya dianggap tepat.

Perlu pengenalan dan identifikasi berbagai media secara agar dapat menggunakannya secara tepat terhadap kelompok yang menjadi target.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.