Tokopedia dan Shopee Dorong Pemerintah Kaji Efek Negatif Amazon

Desy Setyowati
27 September 2018, 08:36
digital
Olah foto digital dari 123rf

Dua perusahaan e-commerce, Shopee dan Tokopedia, mendorong pemerintah mengkaji efek negatif kehadiran Amazon di Indonesia. Amazon dinilai menguasai rantai distribusi dari hulu hingga hilir sehingga dikhawatirkan tidak menyisakan ruang bagi perusahaan lokal untuk berkembang.

Pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Tokopedia William Tanuwijaya mengatakan, Amazon berencana masuk ke Indonesia dengan investasi di bidang komputasi awan (cloud computing) lewat anak usahanya, Amazon Web Service (AWS). Namun, bukan tidak mungkin bisnis retailnya yakni Amazon.com bakal masuk ke Indonesia.

Berdasarkan studi internal yang dilakukan Tokopedia, rekam jejak perjalanan bisnis Amazon tidak cukup baik. "Permainan akhir mereka cenderung menguasai rantai distribusi dari hulu ke hilir membuat tak ada lagi ruang bagi merchant dan brand lokal, baik kecil hingga besar," ujar William dalam laporan Tokopedia yang diterima Katadata, Rabu (26/9) malam.

Menurutnya, kedatangan Amazon tidak hanya berdampak pada bisnis e-commerce tetapi juga bisnis lainnya. Amazon memiliki banyak lini bisnis mulai dari infrastruktur teknologi hingga logistik. Ia khawatir, pendekatan ini bakal diterapkan juga di Indonesia. Untuk itu, pemerintah dan pelaku usaha di Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi kehadiran raksasa global tersebut.

Dari studi Tokopedia, bisnis yang pertama kali akan terdampak oleh kehadiran Amazon adalah bisnis retail. Berdasarkan laporan Business Insider, Department Store Amazon membeli retail modern online terbesar di AS, Whole Foods pada Agustus 2017. Hal ini dilakukan agar Amazon bisa mengakses berbagai informasi sehingga lebih mudah melakukan ekspansi. Akibat akuisisi ini, perusahaan retail Macy’s, JCPenney, dan department store lainnya menutup ratusan gerai mereka di AS.

Amazon juga menjual buku elektronik melalui Kindle. Bahkan, harganya lebih murah dibandingkan e-book lainnya. Hal ini menyebabkan penjualan salah satu toko buku terbesar di AS, Barnes & Noble, menurun 5,8% pada kuartal I 2018.

Raksasa e-commerce asal AS itu juga menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari yang diproduksi sendiri sejak 2009. Amazon memakai platformnya untuk mendorong penjualan produknya sehingga menguasai hampir sepertiga penjualan baterai secara online dalam waktu beberapa tahun saja. Pencapaian ini mengalahkan Energizer dan Duracell.

(Baca: Amazon Masuk Indonesia, CEO Tokopedia: UMKM Harus Go-Online)

Mengancam Pemain Besar

Tak hanya itu, Amazon mengembangkan jaringan logistik yang diperkirakan akan mengancam pemain besar pengiriman logistik di USA, seperti US Postal Service Package (USPS) dan FedEx. Seperti dikutip Forbes, laporan ekonomi Gedung Putih memperkirakan pangsa pasar USPS turun dari 63% di 2015 menjadi 45% pada 2023 karena tergerus oleh Amazon. Sementara, FedEx diperkirakan akan kehilangan akun pelanggan lebih dari 4%.

Sementara itu, Director of Shopee Indonesia Handhika Jahja mengatakan, perusahaannya bakal terus berinovasi agar mampu bersaing dengan e-commerce asing. Namun, Shopee juga berharap pemerintah menerbitkan kebijakan yang mendorong terciptanya lingkungan bisnis digital yang sehat. "Kami berharap siapapun e-commerce yang ingin memiliki usaha di Indonesia diberikan kesempatan yang sama," ujarnya.

Menurut Handhika, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perlu ditingkatkan kapasitasnya agar berdaya saing. Dalam hal ini, Shopee berkomitmen untuk mengembangkan UMKM Indonesia lewat program Kampus Shopee.

(Baca: Amazon Akan Investasi Rp 14,5 Triliun di Indonesia dalam 10 Tahun)

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Desy Setyowati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...