BPS Sebut Belanja Online Tumbuh 6,19%, BI, Tokopedia, TikTok Ungkap Datanya
Badan Pusat Statistik alias BPS mencatat transaksi belanja online peritel dan marketplace tumbuh 6,19% secara kuartalan alias quarter to quarter (qtq) pada kuartal III. Bank Indonesia atau BI serta Tokopedia dan TikTok Shop mengungkapkan datanya.
BI beberapa waktu lalu mengumumkan, transaksi belanja online via e-commerce mencapai Rp 134,67 miliar selama kuartal III. Angka ini tumbuh 4,93% qtq dan 3,74% yoy.
Volume transaksinya mencapai 1,44 miliar atau tumbuh 7,72% qtq dan 20,5% yoy.
BI mencatat peningkatan itu didorong oleh rangkaian kampanye diskon besar-besaran yakni 7.7, 8.8, dan 9.9.
Kini e-commerce seperti Shopee, Tokopedia dan TikTok Shop, Lazada hingga Blibli bersiap menggelar kampanye diskon 11.11. Katadata.co.id mencatat, keempat platform ini menawarkan potongan harga 85% sampai 99%.
Terkait pola konsumsi masyarakat, Tokopedia dan TikTok Shop mengungkapkan beberapa data selama periode kampanye 10.10 pada September, di antaranya:
- Jumlah penjual naik 46,8% dibandingkan hari biasa
- Jumlah pesanan rata-rata naik 45%
- Transaksi makanan dan minuman naik 58,4%
- Transaksi produk elektronik dan otomotif naik 75,5%
Senior Director of Tokopedia & TikTok E-commerce Indonesia Stephanie Susilo juga mengungkapkan kategori produk yang laris selama periode diskon 10.10, yakni:
- Handphone dan tablet
- Otomotif
- Makanan dan minuman
- Kecantikan dan perawatan diri
- Fashion muslim
Ia juga mengungkapkan pertumbuhan transaksi tertinggi justru terjadi di wilayah Timur Indonesia, yakni:
- Tokopedia: Papua Barat, Gorontalo, Kalimantan Selatan
- TikTok Shop: Sulawesi Tenggara, Maluku, Jambi
“Lonjakan transaksi ini terjadi merata (di seluruh Indonesia). Paling besar di Papua Barat, Gorontalo, Kalimantan Selatan, Maluku,” kata Stephanie saat konferensi pers ‘Promo Guncang 11.11’ di Jakarta, Rabu (5/11).
BPS mencatat transaksi online peritel dan marketplace tumbuh 6,19% qtq, jauh di atas nasional yakni 1,43% qtq pada kuartal III.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud menjelaskan bahwa transaksi online ditopang oleh pembelian barang-barang perawatan diri alias personal care seperti kosmetik dan skincare, serta peralatan rumah tangga, transportasi rekreasi olahraga dan pakaian.
Pelaksana harian alias Plh Direktur Neraca Pengeluaran Anisa Nuraini mengatakan total transaksi digital mencapai Rp 200 triliun pada kuartal III. Kontribusi berdasarkan kategori produk sebagai berikut:
- Personal care 17% - 18%
- Perlengkapan rumah tangga 14%
- Transportasi 13%
- Rekreasi 13%
- Pakaian dan sepatu 11% - 12%
“Kinerja perekonomian pada triwulan III 2025 ditopang oleh konsumsi masyarakat yang masih terjaga,” kata Edy dikutip dari Antara, Rabu (5/11).
“Konsumsi rumah tangga sangat bergantung pada pendapatan dan optimisme masyarakat. Jika ekonomi tumbuh lebih tinggi dan berdampak pada peningkatan pendapatan rumah tangga, maka hal ini akan mengakselerasi pertumbuhan konsumsi,” Edy menambahkan.
Menurutnya, pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) menjadi faktor kunci. Ketika disposable income meningkat, rumah tangga cenderung meningkatkan konsumsinya.
Selain itu, program-program pemerintah yang dapat merangsang konsumsi, seperti bantuan sosial dan insentif lainnya, juga berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti juga menyampaikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang melambat pada Kuartal III bukan karena melemahnya daya beli masyarakat.
Ia menyebut hal itu karena faktor musiman yang berpengaruh terhadap pola belanja masyarakat. “Pada kuartal III ini, event besar seperti libur keagamaan tidak ada,” kata Amila di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (5/11).
Dia mengatakan, momentum belanja masyarakat pada kuartal II lebih tinggi karena bertepatan dengan rangkaian libur panjang, termasuk Idulfitri dan Iduladha. Dengan begitu, perlambatan pertumbuhan kali ini bukan karena daya beli menurun.

