Gap Kredit Perbankan Tetap Tinggi, Prospek Pinjol Diramal Masih Cerah Tahun Ini
Prospek pinjaman online alias pinjol atau peer to peer lending (P2P) yang kini diramal masih akan cerah pada tahun ini.Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menjelaskan, hal ini seiring masih besarnya gap atau kesenjangan kredit di perbankan.
“Ketika masih ada gap kredit, untuk perpindahan atau alternatif financing, termasuk untuk pindar, itu masih akan ada,” kata Huda dalam diskusi Media Gathering Amartha di Jakarta, Jumat (23/1).
Gap kredit ini terlihat dari data Bank Indonesia yang mencatat penyaluran kredit UMKM justru terkontraksi 0,64% secara tahunan pada 2025. Padahal, Ia melihat pertumbuhan kredit UMKM melalui pindar justru meningkat.
“Pertumbuhan untuk kredit ataupun penyaluran di pindar itu meningkat dua digit yakni 20%,” ujar Huda.
Menurut dia, kebutuhan permodalan pelaku usaha kecil masih cukup tinggi untuk pengembangan usaha. Pelaku usaha akhirnya mencari sumber pembiayaan alternatif, salah satunya adalah pinjaman daring.
“Jadi makanya pertumbuhan pinjaman daring masih cukup tinggi di tahun 2025 dan dilanjutkan di tahun 2026,” kata Huda.
Karena itu, Huda mengatakan pinjaman daring juga mendorong adanya inklusi keuangan dari penduduk di desa dengan semakin banyaknya agen bank. Saat ini, pembayaran pinjaman daring bisa melalui agen-agen bank di level desa.
“Permintaan agen bank akan cukup tinggi. Begitu juga dengan adanya pinjaman daring membuka kesempatan orang untuk berusaha maka ada kenaikan industri,” ujarnya.
Untuk memaksimalkan potensi fintech dalam mendorong ekonomi, Huda menyebut sektor swasta perlu jeli dalam melihat peluang dan memutigasi risiko. Ia mencontohkan peluang untuk memasuki pasar di luar Pulau Jawa, menargetkan segmen masif seperti akar rumput, kemitraan dengan institusi, serta diversifikasi produk keuangan yang relevan, bisa membantu fintech untuk memperkuat fondasinya.
Namun, ia mengingatkan ekspansi masif tetap harus diiringi dengan mitigasi risiko. “Adanya gejolak geopolitik global, potensi fraud, hingga masih rendahnya pemahaman masyarakat untuk menggunakan layanan keuangan digital dengan bijak, perlu diantisipasi oleh perusahaan fintech,” kata Huda.
Salah satu fintech yang fokus memberdayakan ekonomi akar rumput, Amartha akan mengambil peluang tersebut. Founder and CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra menyatakan akan berupaya memiliki platform yang dipercaya oleh beragam pendanaan dari dalam negeri atau luar negeri.
“Mereka (pendanaan dari dalam dan luar negeri) mendanai sektor UMKM dengan mengelola risiko dengan baik. Itu terus kita bangun,” ujar Taufan.
Amartha juga menyiapkan strategi untuk proven market di skala nasional, terutana di luar Pulau Jawa. Adopsi digital di desa juga terus meningkat dan UMKM perempuan tetap resilien dengan dukungan yang tepat.
Taufan menambahkan, Amartha juga akan memanfaatkan pengembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Taufan menulai pemanfaatan AI dan digital akan membawa peluang baru.
“AI untuk memperkuat, dimana kita mengenal profil risiko beragam UMKM di Indonesia,” kata Taufan.
Sejak 2010, Amartha sudah menyalurkan lebih dari Rp 37 triliun modal kerja. Angka ini termasuk sebanyak Rp 13,2 triliun pada 2025 kepada lebih dari 3,7 juta UMKM di lebih dari 50 desa.
“Pertumbuhan ini berlandaskan pemahaman Amartha yang mendalam akan kebutuhan dan perilaku masyarakat perdesaan serta pemanfaatan teknologi AI secara tepat guna, sebagai faktor kunci Amartha dalam menjaga kualitas portofolio,” kata Taufan.
Komisaris Utama Amartha Rudiantara menilai potensi fintech bisa untuk menarik minat investor internasional. Menurut Rudiantara hal ini dapt dilakulan melaui model bisnis yang jelas serta manajemen risiko yang baik.
Secara umum, sektor fintech Indonesia masih menunjukkan daya tarik bagi investor global. Di tengah dinamika pendanaan global, aliran investasi asing ke fintech tercatat mencapai US$ 549 juta pada 2024 atau setara Rp 9,28 triliun (Kurs Rp 16.902 per dolar AS).
“Ini menunjukkan bahwa fintech memiliki fondasi dan tetap menarik pendanaan asing,” kata mantan Menteri Komunikasi dan Informatika itu.
Selain menarik minat investor asing, keberadaan fintech turut berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja. Di level akar rumput, Amartha mencatat UMKM mitra binaannya di desa telah membuka lebih dari 110 ribu lapangan kerja.
