Bukan Sekadar Kasih Utang, Startup Pindar Kini Berfokus ke Kesehatan Bisnis UMKM

Rahayu Subekti
21 Mei 2026, 08:01
fintech, umkm, pinjol,
ANTARA FOTO/Auliya Rahman/kye
Perajin membuat baju adat Dayak di rumah produksi Jawet Suring, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (16/4/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Industri financial technology atau fintech mulai mengubah fokus bisnisnya. Jika sebelumnya layanan keuangan digital identik dengan memperluas akses pinjaman, kini pelaku industri mulai menempatkan kesehatan finansial atau financial health sebagai target utama pemberdayaan masyarakat akar rumput, termasuk UMKM.

Hal itu mengemuka dalam Media Briefing Road to The 2026 Asia Grassroots Forum yang digelar Amartha di Jakarta, Selasa (20/5). Dalam forum tersebut, Amartha menilai inklusi keuangan tidak lagi cukup diukur dari banyaknya masyarakat yang memiliki akses terhadap layanan finansial.

“Keberhasilan inklusi keuangan tidak lagi hanya diukur dari jumlah masyarakat yang mengakses produk keuangan, tetapi dari kemampuan mereka bertahan dan mencapai tujuan kesejahteraan di tengah dinamika ekonomi,” kata Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha Aria Widyanto dalam acara Media Briefing Road to The 2026 Asia Grassroots Forum di Jakarta, Rabu (21/5).

Menurutnya, kesehatan finansial menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi akar rumput yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekosistem keuangan yang terintegrasi.

Konsep kesehatan finansial sendiri mengacu pada kemampuan seseorang atau keluarga dalam memenuhi kebutuhan harian, mengelola kewajiban keuangan, menghadapi risiko, hingga merasa percaya diri terhadap kondisi finansial mereka di masa depan.

Dalam konteks UMKM, kesehatan finansial mencakup kemampuan pelaku usaha mengatur arus kas, menghadapi pengeluaran tak terduga, serta mengambil keputusan bisnis secara lebih percaya diri.

Namun, Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda menilai akses permodalan masih menjadi tantangan terbesar yang dihadapi UMKM di Indonesia. Menurutnya, banyak pelaku UMKM masih menghadapi tantangan struktural, mulai dari keterbatasan permodalan, tekanan biaya hidup, pendapatan yang tidak stabil, hingga kemampuan mengelola keuangan rumah tangga dan usaha.

Huda mengatakan, kondisi itu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi akar rumput perlu didorong. Khususnya melalui akses keuangan serta ekosistem yang mampu memperkuat kesehatan finansial.

Berdasarskan data Celios, permodalan merupakan tantangan terbesar yang dihadapi UMKM di Indonesia. Sebagian besar pelaku UMKM masih kesulitan menghadapi permasalahan ini, padahal permodalan menjadi salah satu cara untuk bisa tumbuh secara berkelanjutan.

Bagi banyak UMKM, termasuk perempuan di akar rumput, akses terhadap permodalan masih menjadi tantangan utama. Huda mengatakan fintech, termasuk P2P lending, dapat menjembatani kebutuhan ini dengan cara yang lebih cepat dan tepat.

“Namun, pembiayaan digital perlu diarahkan untuk kegiatan produktif dan didukung tata kelola yang baik agar dapat membantu UMKM memperluas pasar serta menjaga keberlanjutan usahanya,” ujar Huda.

Data Amartha menunjukkan tantangan tersebut masih relevan. Meski UMKM menyumbang lebih dari 60% dari produk domestik bruto atau PDB nasional dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja Indonesia, banyak pelaku usaha kecil masih menghadapi masalah keterbatasan modal, tekanan biaya hidup, hingga pendapatan yang tidak stabil.

Kondisi itu juga dirasakan UMKM perempuan yang sering kali memegang peran ganda sebagai pengelola usaha sekaligus pengatur keuangan keluarga. Associate Professor Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Poppy Ismalina menilai pemberdayaan perempuan perlu dilihat secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari sisi akses permodalan.

Poppy mengatakan pemberdayaan ekonomi perempuan bukan hanya tentang memberikan akses permodalan, tetapi juga memastikan perempuan berada dalam posisi pengambilan keputusan, memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan terhadap sistem keuangan, serta dapat mengakses produk keuangan digital dengan baik.

“Perempuan yang mendapatkan solusi keuangan yang sesuai dapat lebih percaya diri dalam mengelola kebutuhan keluarga, kesehatan finansial, dan keberlanjutan usahanya,” ujar Poppy.

Sebagai bagian dari upaya mendorong ekonomi akar rumput yang lebih sehat secara finansial, Amartha akan menggelar The 2026 Asia Grassroots Forum pada 3-4 Juni 2026 di Shangri-La Jakarta. Forum tersebut akan membahas pembiayaan inklusif, pemanfaatan fintech dan AI, hingga kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem UMKM di Asia.

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...