Adu Kencang Bisnis Fintech, Paylater, Pinjaman GoTo Gojek, Grab, Shopee

Desy Setyowati
18 Agustus 2026, 14:26
gopay, Grab, GoTo, Sea Limited, shopee
ChatGPT, Katadata/Desy Setyowati
Ilustrasi bisnis fintech Grab, GoTo, Sea Limited Shopee
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bisnis layanan keuangan alias fintech menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama Grab, GoTo, dan Sea Limited yang menaungi Shopee pada kuartal II. Ketiganya mencatatkan kenaikan penyaluran kredit dan pendapatan, tetapi berada pada tahap profitabilitas yang berbeda.

GoTo Gojek Tokopedia mencatat pertumbuhan paling agresif dari sisi profitabilitas bisnis fintech melalui GoPay. Sementara itu, bisnis keuangan Sea Limited melalui Monee mencatat pertumbuhan kredit dan pendapatan yang kuat dengan laba operasional yang sudah positif. Grab Financial Services juga tumbuh pesat, tetapi masih mencatat EBITDA yang disesuaikan negatif dan tengah mengejar titik impas pada paruh kedua.

Perbandingan itu mengacu pada laporan kinerja kuartal II masing-masing perusahaan. Grab menyebut layanan keuangan sebagai Financial Services, GoTo menggunakan segmen Fintech melalui GoPay, sedangkan Sea Limited, pemilik Shopee, menggunakan nama Monee untuk bisnis digital payments dan financial services.

GoPay Jadi Mesin Bisnis Baru GoTo

GoPay menjadi salah satu kontributor utama kinerja GoTo pada kuartal II. Pendapatan bersih bisnis fintech mencapai lebih dari Rp 2 triliun, naik 53% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau year on year (yoy).

Namun, pertumbuhan laba operasionalnya jauh lebih tinggi. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA yang disesuaikan GoPay mencapai Rp 481 miliar atau melonjak 447%.

Dengan demikian, GoPay untuk pertama kalinya mencatat profitabilitas yang lebih tinggi dibandingkan bisnis On-demand Services Gojek. EBITDA yang disesuaikan Gojek pada kuartal II 2026 sebesar Rp 464 miliar.

Kinerja itu menunjukkan bahwa fintech mulai menjadi mesin profitabilitas yang semakin penting bagi ekosistem GoTo.

Dari sisi aktivitas pengguna, Monthly Transacting Users atau MTU GoPay naik 29% menjadi 28,8 juta. Pertumbuhan jumlah transaksi bahkan jauh lebih cepat, yakni 91% menjadi 2,4 miliar.

GTV inti GoPay, yang tidak memasukkan transaksi merchant payment gateway, juga melonjak 91% menjadi Rp 157,3 triliun. Sementara total GTV naik 81% menjadi Rp 265,4 triliun.

Artinya, pertumbuhan bisnis GoPay bukan hanya berasal dari bertambahnya jumlah pengguna, tetapi juga dari semakin tingginya intensitas penggunaan. MTU naik 29%, sedangkan transaksi tumbuh 91%.

Pertumbuhan aktivitas pengguna itu ikut mendorong bisnis pinjaman. GoTo mencatat nilai pokok pinjaman yang masih beredar atau loans outstanding principal naik 58% menjadi Rp 11 triliun.

GoTo mengatakan pertumbuhan pinjaman didorong oleh semakin dalamnya engagement pelanggan. Di sisi lain, kualitas kredit disebut tetap terjaga, dengan tingkat tunggakan dan rasio NPL yang stabil.

Kinerja itu membuat GoTo menaikkan target EBITDA fintech untuk sepanjang 2026 dari sebelumnya Rp 1,4 triliun – Rp 1,5 triliun menjadi Rp 1,7 triliun – Rp 1,8 triliun. Sebaliknya, target EBITDA On-demand Services diturunkan dari Rp 1,7 triliun – Rp 1,8 triliun menjadi Rp 1,4 triliun – Rp 1,5 triliun, akibat perubahan batas komisi pengemudi menjadi 8%.

Dengan kata lain, kontribusi fintech terhadap profitabilitas GoTo semakin besar.

Monee Shopee Salurkan Pinjaman Rp 198,3 Triliun

Sea Limited mencatat kinerja kuat melalui Monee, bisnis yang menaungi layanan pembayaran digital dan jasa keuangan perusahaan yang terhubung dengan ekosistem Shopee.

Per 30 Juni 2026, pokok pinjaman konsumen dan UMKM Monee mencapai US$ 11,1 miliar atau Tp 198,3 triliun (kurs Rp 17.867 per US$) atau naik 62,5%. Sebanyak US$ 10 miliar di antaranya merupakan pinjaman on-book, sedangkan US$ 1,1 miliar merupakan pinjaman off-book.

Sea menjelaskan bahwa pinjaman off-book terutama mengacu pada skema channeling, yakni pembiayaan yang diberikan lembaga keuangan lain melalui platform Monee.

Pertumbuhan kredit itu tidak dibarengi dengan kenaikan rasio kredit bermasalah yang signifikan. Non-performing loans yang telah lewat jatuh tempo lebih dari 90 hari mencapai 1% dari pokok pinjaman konsumen dan UMKM, termasuk pinjaman on-book dan off-book. Rasio ini stabil dibandingkan kuartal sebelumnya.

Seiring dengan hal itu, pendapatan GAAP Monee naik 58,9% menjadi US$ 1,4 miliar. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh pertumbuhan bisnis kredit karena aktivitas pemberian pinjaman meningkat.

Monee juga mencatat EBITDA yang disesuaikan naik 12,8% menjadi US$ 288 juta.

Namun, pertumbuhan profitabilitas Monee tidak setinggi pertumbuhan pendapatannya. EBITDA naik 12,8%, sementara pendapatan tumbuh 58,9%. Ini menunjukkan bahwa ekspansi bisnis kredit dibarengi biaya yang juga meningkat.

Sea mencatat biaya pendapatan Monee naik 36,4% menjadi US$ 158,1 juta. Biaya ini terutama berasal dari bisnis kredit, termasuk biaya pendanaan, biaya penagihan, biaya transaksi perbankan, serta biaya server dan hosting.

Selain itu, pengeluaran penjualan dan pemasaran Monee melonjak 139,8% menjadi US$ 293,9 juta.

Secara keseluruhan, provision for credit losses naik 71,5% sebesar US$ 555,2 juta pada kuartal II. Dalam informasi segmen, provision for credit losses yang dialokasikan kepada Monee mencapai US$553,7 juta.

Dengan demikian, pertumbuhan bisnis kredit Monee memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan, tetapi sekaligus meningkatkan kebutuhan perusahaan untuk mengantisipasi risiko kredit.

Grab Financial Services Tumbuh 59% tetapi Masih Rugi

Grab menunjukkan pola yang sedikit berbeda. Pendapatan Financial Services naik 59% menjadi US$ 134 juta. Jika dihitung berdasarkan kurs konstan, pertumbuhannya mencapai 62%.

Kenaikan pendapatan terutama didorong peningkatan kontribusi bisnis pinjaman melalui GrabFin dan bank digital, termasuk kontribusi Superbank setelah dikonsolidasikan ke laporan keuangan Grab pada Juni 2026.

Total pinjaman yang disalurkan Grab sepanjang kuartal II mencapai rekor US$ 1,2 miliar, atau naik 72%. Lebih besar lagi yakni pertumbuhan Gross Loan Portfolio sebesar 197% menjadi US$ 2,3 miliar.

Grab menegaskan bahwa apabila kontribusi Superbank dikeluarkan, Gross Loan Portfolio tetap tumbuh dua kali lipat secara tahunan. Jadi, pertumbuhan loan book Grab bukan semata-mata akibat konsolidasi Superbank. Bisnis pinjaman organik Grab juga mengalami ekspansi yang signifikan.

Dari sisi profitabilitas, posisi Grab masih berada di belakang GoTo dan Sea.

Financial Services Grab mencatat EBITDA yang disesuaikan negatif US$ 15 juta, membaik dibandingkan periode yang sama tahun lalu minus US$ 26 juta. Perbaikan ini menunjukkan bahwa bisnis Grab sedang bergerak menuju titik impas. Manajemen menargetkan Financial Services mencapai profitabilitas pada paruh kedua.

Grab juga mencatat total simpanan nasabah pada tiga bank digitalnya, GXS Bank di Singapura, GXBank di Malaysia, dan Superbank di Indonesia, mencapai US$ 2,5 miliar pada akhir kuartal II 2026.

Konsolidasi Superbank menjadi salah satu faktor penting dalam ekspansi bisnis keuangan Grab. Sebelumnya, Grab mengumumkan bahwa setelah transaksi dengan Singtel, Superbank akan menjadi anak perusahaan Grab dan laporan keuangannya dikonsolidasikan ke segmen Financial Services. Superbank memiliki lebih dari 6 juta nasabah dan telah mencatat laba penuh pertama pada 2025.

Strategi GoTo, Grab, dan Shopee yang Berbeda

GoTo mengandalkan engagement ekosistem untuk mendorong transaksi dan pinjaman. Jumlah pengguna GoPay tumbuh 29%, tetapi transaksi meningkat 91%. Core GTV juga melonjak 91% menjadi Rp157,3 triliun. Pertumbuhan penggunaan ini kemudian diterjemahkan menjadi ekspansi pinjaman 58% menjadi Rp11 triliun.

Sea Limited lewat Monee mengandalkan skala kredit yang lebih besar. Portofolio pinjaman konsumen dan UMKM mencapai US$ 11,1 miliar, dengan pertumbuhan 62,5%. Monee juga sudah menghasilkan EBITDA positif US$288 juta, meski biaya pencadangan kredit dan pemasaran meningkat.

Sementara itu, bisnis fintech Grab masih berada dalam fase ekspansi menuju profitabilitas. Gross Loan Portfolio melonjak 197% menjadi US$ 2,3 miliar, pendapatan Financial Services naik 59%, tetapi EBITDA masih negatif US$ 15 juta. 

 

IndikatorGrab Financial ServicesGoTo Fintech/GoPaySea/Monee
PendapatanUS$ 134 jutaRp 2,07 triliunUS$ 1,4 miliar
Pertumbuhan pendapatan59%53%58,9%
Adjusted EBITDA-US$ 15 jutaRp 481 miliarUS$ 288 juta
Pertumbuhan EBITDARugi menyusut 41%447%12,8%
Loan portfolio/outstandingUS$ 2,32 miliarRp 11,03 triliunUS$ 11,1 miliar
Pertumbuhan kredit197%*58%62,5%
Pengguna28,8 juta MTU
Transaksi2,4 miliar
Kualitas kreditStabilNPL 90+ days 1%

*Pertumbuhan Gross Loan Portfolio Grab turut mencerminkan konsolidasi Superbank pada Juni 2026.

Catatan: Angka-angka di atas berasal dari metrik yang didefinisikan masing-masing perusahaan sehingga tidak seluruhnya identik. Oleh karena itu, tabel digunakan untuk memberikan gambaran kinerja, bukan sebagai perbandingan akuntansi yang sepenuhnya apple-to-apple.

Dari sisi pertumbuhan EBITDA, GoPay menjadi yang paling agresif. Sementara dari sisi pertumbuhan portofolio kredit, Grab mencatat lonjakan terbesar, yakni 197%. Namun angka ini dipengaruhi konsolidasi Superbank pada Juni 2026. Di luar Superbank, Grab mengatakan portofolionya tetap tumbuh dua kali lipat. Monee mencatat pertumbuhan outstanding loans 62,5%, sedangkan pinjaman GoPay tumbuh 58%.

Kinerja GoTo Gojek, Grab, dan induk Shopee pada kuartal II 2026 memperlihatkan perubahan penting dalam model bisnis perusahaan teknologi besar di Asia Tenggara.

Fintech tidak lagi sekadar menjadi fitur pembayaran untuk mendukung e-commerce, transportasi online, atau delivery. Bisnis ini mulai menjadi sumber pendapatan dan profitabilitas tersendiri.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...