Binance Beroperasi Lagi Usai Diretas, Nasabah Langsung Tarik Dana Rp 66 Triliun

Desy Setyowati
2 November 2026, 08:53
Binance, hacker,
Shutterstock
Binance
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nasabah Binance menarik dana US$ 3,64 miliar atau Rp 65,96 triliun (kurs Rp 18.127 per US$) setelah bursa mata uang kripto terbesar di dunia itu kembali beroperasi pada Minggu (1/11). Penarikan terjadi setelah peretas atau hacker mencuri aset kripto US$ 6,3 miliar atau Rp 114,2 triliun dari platform ini pada pekan lalu.

Binance menyatakan arus penarikan dana mulai stabil setelah terjadi lonjakan pada tahap awal. Bursa ini juga mengatakan volume deposit nasabah masih cukup besar.

Mengutip Reuters, Binance menyebut penarikan bersih US$ 3,64 miliar atau sekitar Rp 65,96 triliun itu mencerminkan dana yang ditarik dan disetorkan oleh nasabah hingga pukul 15.30 GMT pada Minggu (1/11).

Namun, data dari platform analitik kripto DefiLlama menunjukkan arus keluar dana mencapai US$ 5,81 miliar atau Rp 105,29 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan data sebelumnya US$ 4,36 miliar atau Rp 79,02 triliun.

Binance belum berkomentar mengenai angka terbaru dari DefiLlama. Juru bicara Binance mengatakan penghitungan platform ini tidak mencakup arus dana yang telah disetorkan perusahaan ke dompet panas baru miliknya.

Oleh karena itu, Binance menilai angka tersebut tidak akurat. Perusahaan menyebut pembaruan terakhir yang disampaikan melalui platform X merupakan angka yang paling mendekati kondisi sebenarnya, meskipun belum mencakup seluruh pergerakan dana setelah pembaruan tersebut dipublikasikan.

Penarikan dana nasabah menjadi ujian awal bagi Binance untuk mempertahankan kepercayaan pengguna setelah peretasan. Insiden ini menambah daftar panjang pencurian aset kripto yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut peneliti di TRM Labs, penyerang mencuri aset kripto senilai US$ 2,9 miliar atau sekitar Rp 52,57 triliun dalam hampir 150 insiden sepanjang tahun lalu.

Binance Ganti 95% Aset Kripto yang Dicuri

Di tengah penarikan dana nasabah, Binance menyatakan telah menutupi 95% nilai aset kripto senilai US$ 6,3 miliar atau Rp 114,20 triliun yang dicuri dalam peretasan.

Sebelumnya, Binance mengatakan telah menyiapkan penggantian untuk menutupi kerugian akibat pencurian dengan menggunakan dana perusahaan untuk membeli token pengganti.

Perusahaan menyatakan sisa 5% aset yang belum sepenuhnya didukung terdiri atas token dengan likuiditas lebih rendah. Kondisi ini membuat Binance membutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh token tersebut dalam jumlah yang diperlukan.

Binance sebelumnya juga menyatakan akan menanggung seluruh dampak finansial dari peretasan tersebut.

Perusahaan telah menyisihkan sekitar US$ 6,34 miliar atau Rp 114,93 triliun dalam bentuk dana perusahaan untuk menutupi kerugian akibat pencurian.

Dana penggantian tersebut berasal dari beberapa sumber, termasuk Secure Asset Fund for Users (SAFU) senilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 18,13 triliun, sebagian dana Futures Insurance Fund, serta kas perusahaan.

SAFU merupakan dana cadangan Binance yang ditujukan untuk melindungi pengguna apabila terjadi pelanggaran keamanan.

Co-CEO Binance Yi He mengatakan pada Sabtu (31/10) bahwa perusahaan akan menggunakan 50% dari dana SAFU untuk mendukung penggantian aset yang dicuri. Binance juga berkomitmen menambah kembali dana tersebut hingga mencapai sekitar US$ 1 miliar atau Rp 18,13 triliun.

Sementara itu, Richard Teng, salah satu CEO Binance, mengatakan peretasan tersebut merupakan serangan kompleks yang melibatkan laptop yang diretas dan perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk menghapus bukti aktivitasnya.

Kondisi tersebut menyulitkan proses pelacakan aset dan investigasi serangan.

Binance mulai membuka kembali fitur penarikan secara bertahap dengan memprioritaskan permintaan pengguna. Tahap pertama mencakup 15 token, termasuk Bitcoin, Ethereum, sejumlah stablecoin seperti USDC dan USDT, serta Dogecoin.

Perusahaan mengatakan penentuan prioritas token didasarkan pada data permintaan pengguna selama pekan sebelumnya.

FBI Kaitkan Peretasan dengan Korea Utara

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menyatakan kelompok peretas yang didukung negara Korea Utara, yang dikenal sebagai TraderTraitor, bertanggung jawab atas serangan terhadap Binance.

FBI menyampaikan pernyataan tersebut pada Sabtu (31/10). Badan penegak hukum AS itu juga mengatakan para pelaku mengonversi aset kripto hasil curian menjadi Ethereum dan memperkirakan aset tersebut akan menjalani proses pencucian lebih lanjut menggunakan teknologi terkait.

Para analis dari perusahaan intelijen blockchain TRM Labs dan Chainalysis juga mengaitkan serangan tersebut dengan Korea Utara.

Menurut kedua perusahaan, sebagian besar pencurian berlangsung dalam rentang sekitar 20 menit pada Kamis malam. Pola serangan itu dinilai memiliki kemiripan dengan sejumlah serangan besar sebelumnya yang dituduhkan kepada Korea Utara.

Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan keterlibatan Korea Utara belum dapat dipastikan.

"Kita tidak tahu apakah itu Korea Utara, tetapi jika memang demikian, kita akan berbicara dengan Korea Utara tentang hal itu," kata Trump kepada wartawan pada Sabtu (31/10), dalam komentar yang diunggah oleh akun Gedung Putih di X.

Sementara itu, Binance telah bekerja sama dengan perusahaan kripto lainnya untuk membekukan sebagian aset yang terdampak peretasan. Perusahaan menyebut sekitar US$ 3 miliar atau Rp 54,38 triliun aset telah ditemukan hingga Jumat (30/10).

Pendiri Binance, Changpeng Zhao, juga menyampaikan apresiasi kepada aparat penegak hukum AS atas bantuan dalam pelacakan dan pembekuan aset curian.

Dalam unggahan di X yang mengutip pernyataan FBI mengenai dugaan keterlibatan Korea Utara, Zhao mengatakan dukungan aparat penegak hukum sangat berarti bagi industri kripto.

Binance memiliki 335 juta pengguna terdaftar di seluruh dunia. Perusahaan menyatakan total aset yang dikelolanya mencapai US$ 171 miliar atau Rp 3.099,72 triliun per 28 Oktober 2026.

Penurunan harga kripto sempat terjadi pada Jumat (30/10), ketika Binance berupaya meyakinkan nasabah bahwa dana mereka aman. Kembalinya layanan penarikan secara bertahap dan perkembangan arus dana nasabah menjadi indikator awal bagi perusahaan dalam menghadapi dampak peretasan tersebut.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...