Harga HP Diramal Naik Lagi Imbas Perang Iran dan AS, Terutama Samsung

Rahayu Subekti
27 April 2026, 11:35
Samsung, harga hp,
Samsung
Samsung Galaxy S24+
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga HP sempat naik karena krisis semikonduktor imbas tingginya permintaan untuk AI sejak tahun lalu. Kini, industri semikonduktor juga terganggu oleh perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, sehingga berpotensi membuat harga ponsel kembali naik, terutama Samsung.

Dengan Selat Hormuz yang praktis tertutup sejak awal Maret imbas perang Iran dengan AS, membuat pasokan nafta telah berkurang tajam. Nafta adalah bahan baku utama untuk bahan kimia khusus yang digunakan dalam produksi semikonduktor termasuk photoresist.

Nafta yang dihasilkan selama penyulingan minyak mentah atau gas alam, sangat penting untuk pembuatan cip canggih yang digunakan dalam berbagai aplikasi, mulai dari AI hingga sistem mobil.

Raksasa cip memori Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK Hynix, termasuk di antara mereka yang paling terkena dampak. Padahal, produsen smartphone lebih dulu dihantam krisis cip dan memori, karena tingginya permintaan untuk AI.

Menurut media Korea Selatan, TheElec, pemasok photoresist utama Jepang telah memperingatkan kedua perusahaan itu tentang kemungkinan gangguan terhadap pengadaan bahan baku.

Samsung belum menanggapi permintaan komentar, sementara SK Hynix menolak berkomentar.

Kekurangan pasokan nafta diperkirakan paling berdampak pada node canggih yang bergantung pada litografi ultraviolet ekstrem (EUV), mengingat sensitivitas dan toleransi ketat dari proses tersebut.

“Lamanya hal itu (penutupan Selat Hormuz) berlangsung, sangat bergantung pada durasi perang,” kata ekonom senior di Natixis Corporate and Investment Bank Gary Ng dikutip dari South China Morning Post (SCMP), akhir pekan lalu (25/4).

Jepang mendominasi pasar photoresist global dengan JSR, Tokyo Ohka Kogyo, Shin-Etsu Chemical, dan Fujifilm memimpin pasokan di sektor semikonduktor, layar, dan papan sirkuit tercetak.

Keempat perusahaan itu menguasai 76% pasar global pada 2023. Mereka mencengkeram industri material kelas atas, menurut Shenzhen Enterprise Investment Research, mengutip data dari Asosiasi Industri Material Elektronik Cina.

Situasi itu menggarisbawahi kerapuhan rantai pasokan semikonduktor Asia, di mana produsen cip tetap sangat sensitif terhadap gangguan hulu dan hambatan logistik.

Sektor teknologi secara lebih luas sudah bersiap menghadapi ketidakstabilan berkepanjangan di Timur Tengah, yang dapat membebani produksi cip dan memperlambat perluasan pusat data AI.

Kekurangan Propylene Glycol Methyl Ether (PGME) dan Propylene Glycol Methyl Ether Acetate (PGMEA) diperkirakan memengaruhi node canggih yang menggunakan litografi EUV, menurut Phelix Lee, analis ekuitas senior di Morningstar. PGME dan PGMEA adalah pelarut penting yang dimurnikan secara kimia dari nafta yang memungkinkan pencetakan cip.

“Produsen semikonduktor menyimpan persediaan pengaman selama berbulan-bulan, dan ditambah dengan penggantian sebagian dari AS, kami memperkirakan setengah tahun, atau sedikit lebih dari itu, masih dianggap 'aman' dalam arti mempertahankan produksi chip,” kata Lee.

Taiwan dan Korea Selatan tetap menjadi pasar terbesar untuk photoresist.

Taiwan, tempat berdirinya Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), menyumbang 26,4% dari permintaan global, menurut perusahaan riset yang berbasis di Tokyo, Fuji Keizai. Sementara itu, Korea Selatan menyumbang 25,4%.

Fuji Keizai memperkirakan pasar photoresist global mencapai US$ 2,7 miliar tahun ini, meningkat 9% dibandingkan tahun lalu.

Analis di Isaiah Research, Joseph Chung mengatakan bahwa dampak jangka pendek pada TSMC mungkin dapat dibatasi.

“Dalam hal pengadaan bahan baku, TSMC terus mendiversifikasi strategi pasokannya dan telah membangun basis pemasok yang terdiversifikasi secara global,” katanya, seraya mencatat bahwa produsen cip utama biasanya mempertahankan cadangan persediaan untuk bahan-bahan utama mulai dari beberapa minggu hingga beberapa bulan.

Rantai pasokan semikonduktor Cina tampaknya tidak terlalu terpengaruh secara langsung dibandingkan dengan Korea Selatan, yang mencerminkan fokusnya pada node proses yang sudah matang dan dorongannya untuk mencapai swasembada.

Para pemain domestik, termasuk Xuzhou B&C Chemical, telah memperluas kemampuan di berbagai bidang seperti photoresist. “Perusahaan semikonduktor terkemuka Tiongkok juga menunjukkan ketahanan rantai pasokan yang kuat berdasarkan investigasi kami,” kata Chung.

Negara tersebut kurang terkena dampak dalam artian memiliki rantai pasokan industri yang relatif lengkap untuk memproduksi berbagai material dan mencari solusi alternatif, kata Gary Ng dari Natixis.

Meskipun demikian, Cina tetap bergantung pada Jepang untuk material canggih. Meskipun upaya substitusi lokal sedang berlangsung, penggantian input tertentu masih dapat memengaruhi hasil produksi dan meningkatkan biaya.

Menurut perusahaan riset semikonduktor ICWise, Jepang menyumbang 56% dari impor photoresist Cina pada paruh pertama tahun lalu.

Krisis Cip Imbas AI

Harga HP diramal melonjak mulai tahun ini dan produsen elektronik disebut terancam bangkrut, karena tingginya penggunaan memori untuk industri kecerdasan buatan alias AI.

CEO Phison Electronics, semikonduktor asal Taiwan, Pua Khein-Seng mengatakan tingginya permintaan memori misalnya, NAND Flash untuk industri AI, berpotensi membuat produsen elektronik bangkrut. “Banyak vendor sistem akan bangkrut atau menghentikan lini produk karena kekurangan memori,” kata dia dikutip dari PCGamer, Minggu (22/2).

NAND Flash adalah jenis memori non-volatile atau tidak hilang saat listrik mati, yang dipakai untuk menyimpan data secara permanen. Teknologi ini menjadi fondasi storage modern seperti SSD, kartu memori, dan flash drive, yang menyimpan data dalam bentuk sel seperti SLC, MLC, TLC, QLC dengan kapasitas besar.

Tren AI membuat permintaan cip dan memori melonjak. SK Hynix, produsen memori asal Korea Selatan, memperkirakan kekurangan pasokan akan berlanjut hingga akhir 2027, menunjukkan bahwa krisis ini akan meluas jauh melampaui 2026.

Selain ketersediaan memori yang menipis, produsen elektronik menghadapi tantangan dari sisi persyaratan pengadaan yang diperketat. Bahkan, ada pabrik memori yang meminta pembayaran tunai di muka hingga tiga tahun ke depan, bagi produsen elektronik yang ingin mengamankan kapasitas.

Skema seperti itu berpotensi membebani produsen perangkat yang memiliki margin tipis, terutama merek kecil dan menengah. Jika tidak mampu mengamankan pasokan lebih awal, mereka berisiko kehilangan akses terhadap komponen penting seperti NAND.

Dampaknya bisa beragam, mulai dari berkurangnya pilihan konfigurasi memori, kenaikan harga produk akhir, hingga kemungkinan penghentian sementara lini produk tertentu.

Harga HP Diramal Naik hingga Akhir Tahun

Keterbatasan pasokan cip dan memori juga memicu kenaikan harga. Samsung misalnya, menaikkan harga cip memori 30% - 60% per November 2025, menurut sumber yang dikutip oleh Reuters. TrendForce juga melaporkan bahwa permintaan kontrak NAND Flash melonjak 60% pada November tahun lalu.

Sementara itu, Firma riset pasar khusus teknologi Counterpoint Research memproyeksikan harga memori naik 30% pada kuartal keempat 2025 dan berpotensi naik lagi 20% pada awal 2026.

Kondisi itu kemudian berdampak pada ketersediaan dan harga HP. Produksi ponsel pintar diperkirakan berkurang 200 juta sampai 250 juta unit.

Analis industri telekomunikasi memperkirakan kenaikan harga terburuk akan terjadi pada pertengahan 2026, setelah kontrak produksi baru mulai berlaku, sebagaimana dikutip dari Red94, pada Desember (10/12/2025).

Produsen yang terikat perjanjian jangka panjang yang dinegosiasikan sebelum kekurangan pasokan akan mulai merasakan kenaikan biaya yang pada kuartal kedua dan ketiga 2026.

International Data Corporation atau IDC dan Counterpoint Research sama-sama memperingatkan bahwa harga jual rata-rata smartphone akan meningkat secara signifikan selama paruh pertama tahun ini.

Harga jual rata-rata ponsel pintar diperkirakan naik menjadi US$ 465 atau Rp 7,75 juta (kurs Rp 16.680 per US$) pada 2026, dibandingkan US$ 457 atau Rp 7,6 juta pada 2025, menurut Direktur Riset Senior di IDC Nabila Popal dikutip dari CNN pada Desember.

Presiden Xiaomi Lu Weibing menekankan bahwa tekanan biaya pada produksi smartphone akan memburuk tahun depan. “Saya memperkirakan tekanan biaya akan jauh lebih berat tahun depan dibandingkan tahun ini,” kata dia dikutip dari Qoo10, pada November (24/11/2025).

Kepala Pemasaran Produk Global Realme Francis Wong mengatakan industri semikonduktor sudah terbiasa bergulat dengan perubahan harga seiring munculnya teknologi baru. Akan tetapi, kali ini, mereka belum siap menghadapi kecepatan permintaan AI yang signifikan.

"Di sektor semikonduktor, akan selalu ada ketidaksesuaian (antara penawaran dan permintaan)," ujar Wang dikutip dari CNN, pada Desember (10/12). "Ini agak di luar dugaan."

Dikutip dari 91Mobiles, Francis Wong mengatakan penyebab utama kenaikan harga HP pada 2026 yakni meningkatnya biaya untuk komponen NAND Flash, DRAM, dan SSD, bagian integral dari penyimpanan dan memori di setiap gadget.

DRAM atau Dynamic Random Access Memory adalah memori volatile, data hilang saat listrik mati. Ini merupakan RAM utama komputer atau server yang dipakai untuk memproses data secara cepat. Sedangkan, SSD atau Solid State Drive adalah perangkat penyimpanan berbasis NAND Flash yang menggantikan hard disk lama. SSD menggunakan controller dan cip NAND untuk menyimpan data dengan performa jauh lebih cepat.

Komponen-komponen itu mengalami kenaikan harga yang berkelanjutan, karena pasokan yang semakin ketat dan persaingan yang meningkat untuk mendapatkan cip seiring tren AI. Tren AI mendorong permintaan memori kelas atas. Komponen yang selama ini digunakan untuk smartphone hingga laptop, kini diprioritaskan untuk pusat data AI, server, dan komputasi bandwidth tinggi.

Produsen cip telah mengalihkan kapasitas dari DRAM dan NAND standar kelas gadget ke memori kelas perusahaan seperti HBM atau High Bandwidth Memory. Pergeseran ini berdampak terhadap harga HP. “Ini masalah di seluruh industri, tidak ada merek yang dapat menghindar,” kata Wong dikutip dari 91Mobiles, pada November (27/11/2025).

Situasi itu semakin memburuk karena ketegangan perdagangan yang berkelanjutan, penyesuaian kembali rantai pasokan, dan fluktuasi mata uang. Dengan negara-negara yang memperketat aturan ekspor teknologi dan mendiversifikasi pusat manufaktur mereka, biaya produksi meningkat bersamaan dengan waktu tunggu yang lebih lama.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...