Harga HP Naik hingga 45% di Indonesia, Konsumen Disarankan Pilih Ponsel Awet
Harga smartphone di Indonesia mengalami kenaikan di tengah kelangkaan cip memori global. Berdasarkan data Counterpoint Research, kenaikan harga HP di pasar Indonesia berkisar 7% hingga 45%, baik model lama maupun produk baru.
Kenaikan harga HP itu terjadi seiring tekanan pasokan memori global. Produsen memori mengalihkan lini produksi DRAM dan NAND ke cip untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) yang memiliki margin lebih tinggi. Kondisi ini membuat pasokan memori untuk perangkat elektronik konsumen menyusut.
Tekanan kenaikan harga tersebut membuat konsumen perlu mengubah cara memilih smartphone. Bukan hanya melihat kapasitas RAM atau chipset terbaru, konsumen disarankan memperhatikan daya tahan baterai, konsistensi performa, serta umur pakai perangkat.
Harga HP global diproyeksikan naik 27,6% pada 2026 menjadi rekor US$ 581 atau Rp 10,3 juta (kurs Rp 17.700 per US$). Proyeksi ini meningkat dari perkiraan awal sebesar US$ 523 pada Februari 2026 berdasarkan data IDC.
Di Indonesia, dampak kenaikan harga terutama dirasakan segmen entry-level dan kelas menengah. Pengiriman smartphone di Indonesia turun 9% secara tahunan atau year on year (yoy) pada kuartal I 2026 karena konsumen menunda penggantian ponsel, berdasarkan Counterpoint Indonesia Smartphone Tracker.
Segmen entry-level dengan harga di bawah US$ 150 atau Rp 2,7 juta juga turun 19% syoy. Sebaliknya, segmen premium dengan harga di atas US$ 600 atau Rp 10,6 juta mencatat kontribusi tertinggi terhadap total pengiriman, yakni 8,3%. Segmen ini juga tumbuh 30% secara tahunan.
"Segmen entry-level paling terpukul. Konsumen di segmen ini memilih menunda pembelian atau beralih ke ponsel bekas," kata Shilpi Jain, Senior Analyst, Counterpoint Research, dalam riset Indonesia Smartphone Tracker Q1 2026.
Harga Memori Jadi Beban
Kenaikan harga HP terjadi karena memori menjadi salah satu komponen yang paling terdampak kelangkaan cip global.
Produsen memori mengalihkan kapasitas produksi DRAM dan NAND untuk memenuhi kebutuhan cip memori pita lebar tinggi atau HBM yang digunakan pusat data AI. Dalam siaran pers disebutkan, chip memori untuk pusat data AI kini menyerap sekitar 70% produksi memori global, dengan margin tiga hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan memori konsumen.
Sementara itu, pasokan DRAM pada 2026 hanya tumbuh 16% dan NAND 17%, di bawah kisaran pertumbuhan 20%-30%, ketika permintaan terus meningkat berdasarkan data IDC.
Tekanan harga juga semakin terlihat. Pada kuartal I 2026, harga DRAM global naik lebih dari 50% dibandingkan kuartal sebelumnya. Harga NAND Flash bahkan melonjak lebih dari 90% berdasarkan Counterpoint Memory Price Tracker.
Pada kuartal II 2026, biaya memori tercatat naik hampir 300% dibandingkan tahun sebelumnya berdasarkan data IDC.
Dampaknya tidak dirasakan secara merata oleh seluruh kelas smartphone. Memori menyumbang 15%-20% dari total biaya komponen atau bill of materials (BOM) ponsel kelas menengah, sementara porsinya pada flagship sekitar 10%-15%.
Biaya komponen ponsel dengan harga di bawah US$ 200 atau Rp 3,5 juta juga disebut naik 20%-30% sejak awal 2026 berdasarkan data Counterpoint Research.
Pada kuartal II 2026, memori menyumbang lebih dari 65% BOM pada segmen entry-level sehingga bisnis smartphone pada rentang harga tersebut semakin sulit dipertahankan, menurut IDC.
Konsumen Diminta Pilih HP yang Awet
Tekanan biaya komponen membuat produsen smartphone melakukan penyesuaian konfigurasi. Sejumlah flagship 2026, misalnya, tetap menggunakan RAM 12GB dan tidak meningkatkan kapasitas menjadi 16GB.
Di kelas menengah, sejumlah produsen juga menyesuaikan konfigurasi RAM dan penyimpanan dengan tetap mempertahankan nama model yang sama. Sementara sebagian model dasar menyesuaikan memori menjadi 4GB DRAM agar harga tetap terjangkau.
Penyesuaian tidak hanya terjadi pada memori. Senior Analyst Counterpoint Research Shenghao Bai mengatakan sejumlah model juga mengalami perubahan pada komponen lain. "Pada sejumlah model, kami melihat penurunan komponen seperti modul kamera," ujarnya.
Menurut Bai, perubahan serupa juga terjadi pada layar, komponen audio, dan konfigurasi memori.
Kondisi tersebut membuat konsumen disarankan tidak hanya membandingkan spesifikasi ketika memilih smartphone. Daya tahan perangkat menjadi salah satu pertimbangan penting karena harga smartphone meningkat.
Ada tiga ukuran yang disebut dapat digunakan konsumen dalam memilih smartphone, yakni daya tahan baterai, konsistensi performa, dan umur pakai.
Dari sisi baterai, konsumen disarankan memperhatikan kemampuan perangkat bertahan sepanjang hari serta kondisi kapasitas baterai setelah dua hingga tiga tahun pemakaian.
Untuk performa, konsumen dapat melihat apakah smartphone tetap responsif saat berpindah aplikasi, stabil dalam pemakaian rutin, dan tidak melambat drastis setelah setahun digunakan.
Sementara dari sisi umur pakai, konsumen perlu memperhatikan ketahanan fisik, ketersediaan suku cadang, serta berapa lama produsen memberikan pembaruan sistem dan keamanan.
Calon pembeli juga dinilai perlu memperhatikan berapa lama produsen menjanjikan pembaruan sistem dan keamanan, bukan hanya kapasitas RAM. Konsumen juga dianjurkan memperhatikan bagaimana perangkat bekerja setelah setahun pemakaian serta ketahanan fisiknya.
Senior Research Director for Worldwide Consumer Devices Nabila Popal menyebut perubahan struktur biaya tersebut membuat ekspektasi konsumen dan strategi produsen perlu menyesuaikan. "Era smartphone ultramurah telah berakhir," ujar dia.
Menurutnya, vendor yang mampu menyesuaikan strategi dengan struktur biaya baru dan menjaga permintaan pada tingkat harga yang lebih tinggi yang akan bertahan.
Di tengah kondisi tersebut, menunda pembelian smartphone sambil menunggu harga kembali turun disebut bukan langkah yang realistis. Lembaga riset memperkirakan harga memori tidak akan kembali ke tingkat 2025, bahkan setelah pasokan normal.
Pabrik memori baru diperkirakan baru berproduksi penuh pada 2027, sementara IDC memproyeksikan tekanan harga memori berlanjut setidaknya hingga 2028. Sejumlah eksekutif produsen memori juga memperingatkan ketimpangan pasokan dapat bertahan hingga melewati 2030.
Imbas tekanan tersebut diperkirakan berlangsung bertahun-tahun, konsumen disarankan lebih memperhatikan ponsel yang dapat digunakan dalam jangka panjang. Daya tahan baterai, konsistensi performa, ketahanan fisik, ketersediaan suku cadang, serta dukungan pembaruan sistem dan keamanan menjadi pertimbangan dalam memilih perangkat.
