Bos Gojek Ungkap Rencana 2021: Fokus Pasar Luar Negeri dan GoFood

Fahmi Ahmad Burhan
28 Januari 2021, 10:32
Bos Gojek Ungkap Rencana 2021: Fokus Pasar Luar Negeri dan GoFood
Gojek
Bos baru Gojek Kevin Aluwi dan Andre Soelistyo.

Co-CEO Gojek Kevin Aluwi menyampaikan bahwa perusahaan berencana mengembangkan bisnis di luar Indonesia lebih pesat lagi pada 2021. Selain itu, akan berfokus pada lini bisnis pesan-antar makanan GoFood dan kebutuhan pokok (groceries).

Pada tahun lalu, Gojek mencatatkan nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV) naik 10% secara tahunana (year on year/yoy) meski ada pandemi corona. Total transaksi perusahaan pada 2020 mencapai US$ 12 miliar atau Rp 170 triliun.

Kevin mengatakan, kinerja bisnis Gojek di pasar luar negeri juga pulih di tengah pandemi Covid-19. Namun, investasi yang dikeluarkan untuk pasar di luar Indonesia tidak terlalu besar pada tahun lalu.

Itu karena perusahaan menjadikan Indonesia sebagai pasar utama. Pada tahun ini, decacorn Tanah Air itu ingin mengembangkan pasar di luar Indonesia.

"Kami melihat proyeksi pertumbuhan di luar Indonesia saat ini lebih cepat," ujar Kevin saat wawancara virtual dalam program Squawk Box CNBC, dikutip Rabu (27/1).

Gojek memang berekspansi ke pasar luar negeri sejak 2018. Decacorn itu masuk ke pasar Thailand dengan nama GET. Lalu ke Vietnam melalui Go-Viet. Pada pertengahan tahun lalu, perusahaan mengubah nama di kedua negara itu menjadi Gojek.

Startup jumbo itu juga hadir di Singapura. Selain itu, Gojek menguji coba layanan transportasi di Malaysia dengan menggaet perusahaan lokal, Dego Ride pada awal tahun lalu.

Decacorn Tanah Air itu juga memperluas ekosistem ke India pada 2019 dengan mengakuisisi startup rekrutmen karyawan AirCTO yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial inteligince (AI). Selain itu, Gojek mengembangkan kantor baru di Gurugram, India.

Selain mengembangkan pasar luar negeri, perusahaan ingin berfokus pada lini bisnis potensial tahun ini. "Kami memperkirakan pertumbuhan yang kuat di bagian paling penting dari portofolio produk yang lebih kuat," kata Kevin.

Ia menilai, pesan-antar makanan merupakan bisnis yang akan terus tumbuh positif. Selain itu, ia melihat potensi pada lini kebutuhan pokok. "Ini sebenarnya tumbuh sekitar tujuh hingga delapan kali lipat," ujarnya.

Gojek mencatat, bisnis pesan-antar makanan tumbuh 20 kali lipat dalam empat tahun terakhir. Namun, berdasarkan data Momentum Works, nilai transaksi bruto atau GMV GoFood milik Gojek mencapai US$ 2 miliar atau Rp 28 triliun pada 2020. Sedangkan GMV GrabFood kepunyaan Grab US$ 5,9 miliar atau sekitar Rp 83 triliun.

CEO perusahaan venture builder yang berbasis di Singapura, Momentum Works, Li Jianggan mengatakan, startup dapat berkembang pesat di Indonesia karena populasi dan potensi pasarnya yang besar. “Namun, selama bertahun-tahun banyak yang telah belajar bahwa agar untung di negara ini, membutuhkan permainan jangka panjang dan kesabaran,” kata dia dikutip dari SCMP, tiga pekan lalu (7/1).

Ia menilai,  Grab dan induk Shopee, Sea Group memiliki privilege karena cakupan yang luas. Sea Group misalnya, beroperasi di Asia Tenggara, Taiwan, dan Brasil.

Grab dan Sea dapat menggunakan kepemimpinan pasar dan bisnis yang lebih menguntungkan di negara lain untuk terus mendanai pertumbuhan mereka di Indonesia. Sedangkan, menurut Li, Gojek tidak memiliki kemewahan ini.

Hal senada disampaikan oleh peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda. "Dengan jumlah negara cakupan yang lebih banyak, Grab bisa memanfaatkan strategi diskon silang," kata dia kepada Katadata.co.id.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...