Driver Ojol Penghasilan Rp108 Juta Setahun tapi Tak Dapat BHR

Ringkasan
- Berbagai bank BUMN (BMRI, BBRI, BBNI) berencana melakukan buyback saham dengan nilai triliunan rupiah, memicu sentimen positif jangka pendek.
- Alokasi dana untuk buyback tergolong kecil dibanding kapitalisasi pasar perusahaan, sehingga dampak pada harga saham diperkirakan akan singkat.
- Investor disarankan memperhatikan kinerja fundamental dan strategi bisnis perusahaan sebelum berinvestasi, karena pergerakan saham jangka panjang akan lebih dipengaruhi oleh faktor tersebut.

Pengemudi ojol Gojek Rosa Afriyanto meraup Rp 84 juta hingga Rp 108 juta per tahun. Akan tetapi, dirinya tidak mendapatkan Bonus Hari Raya alias BHR.
Rosa bercerita dirinya bisa memperoleh Rp 7 juta – Rp 9 juta per bulan. Angka ini belum menghitung pengeluaran untuk perawatan kendaraan, Bahan Bakar Minyak atau BBM hingga makan sehari-hari selama beroperasi.
Ia tidak memerinci jumlah order yang ia ambil per hari. Akan tetapi, pengemudi ojol yang bergabung dengan Gojek sejak 2017 itu menyatakan sering mengambil pesanan jarak jauh.
Penghasilan hingga Rp 9 juta per bulan ia peroleh dari bekerja sebagai pengemudi ojol selama delapan sampai 10 jam per hari. Rosa bekerja selama enam hari sepekan.
Rosa menduga dirinya tidak mendapatkan Bonus Hari Raya atau BHR Gojek, karena pernah membatalkan order atau pesanan dibatalkan oleh konsumen dalam setahun terakhir. Sementara itu, ia mengetahui salah satu driver ojol di grup WhatsApp yang berisi ratusan anggota, memperoleh BHR Rp 900 ribu.
“Dia satu-satunya dari ratusan driver ojol di grup WhatsApp ini yang memperoleh BHR Rp 900 ribu. Akan tetapi, anehnya, dia hanya mendapatkan tiga order per hari. Mungkin, karena order sedikit, sehingga tidak pernah cancel,” kata Rosa kepada Katadata.co.id, Senin (24/3).
Ia juga mengetahui beberapa temannya mendapatkan Bonus Hari Raya atau BHR Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu.
Katadata.co.id mengonfirmasi kepada Gojek mengenai ada tidaknya kebijakan mengenai cancel order untuk mendapatkan Bonus Hari Raya atau BHR, namun belum ada tanggapan.
Akan tetapi, beredar informasi mengenai kriteria driver ojol yang mendapatkan BHR Gojek, yakni:
Kriteria | Mitra Juara Utama | Mitra Juara | Mitra Unggulan | Mitra Andalan | Mitra Harapan |
Hari aktif per bulan minimal | 25 hari | 25 hari | 25 hari | 25 hari | - |
Jam online per bulan minimal | 200 jam | 200 jam | 200 jam | 200 jam | - |
Tingkat penerimaan bid minimal | 90% | 90% | 90% | 90% | 90% |
Tingkat penyelesaian trip minimal | 90% | 90% | 90% | 90% | 90% |
Periode pencapaian | Mar 2024 - Feb 2025 | Sep 2024 - Feb 2025 | Des 2024 - Feb 2025 | Feb 2025 | Feb 2025 |
Besaran BHR | Rp 900 Ribu | Rp 450 Ribu | Rp 250 Ribu | Rp 100 Ribu | Rp 50 Ribu |
Jika merujuk pada tabel tersebut, cancel order dibatasi maksimal 10% selama setahun untuk bisa memenuhi kriteria penerima Bonus Hari Raya atau BHR Gojek.
Sementara itu, Sri Lestari mendapatkan BHR Rp 50 ribu. Penghasilannya sebulan Rp 1,25 juta sampai Rp 2,5 juta. Perempuan berusia 35 tahun ini berfokus mengambil pesanan GoFood dan GoSend.
Sri yang bergabung sebagai mitra Gojek sejak 2023 menyampaikan pendapatan dari order GoFood dan GoSend kecil karena skema Aceng. Aceng adalah tarif Rp 5 ribu untuk pengangkutan jarak jauh maupun dekat.
Dalam sehari Sri bisa mendapatkan lebih dari 15 order. "Saya selesaikan semua. Cancel misalnya, karena hujan," kata Sri kepada Katadata.co.id, Senin (24/3). "Ketimbang BHR, saya lebih berharap Aceng dihapus."
Selain Sri, Serikat Pekerja Angkutan Indonesia atau SPAI menerima laporan dari seorang pengemudi ojol yang mendapatkan BHR Rp 50 ribu, meski berpenghasilan Rp 33 juta selama setahun atau rata-rata Rp 2,75 juta per bulan.
“Ini jelas tidak adil, karena platform menentukan kategori yang diskriminatif seperti hari aktif 25 hari, jam kerja online 200 jam, tingkat penerimaan order 90%, tingkat penyelesaian perjalanan 90% setiap bulan,” kata Ketua SPAI Lily Pujiati dalam keterangan pers, Minggu (23/3).
Selain itu, kriteria atau syarat lainnya dinilai tidak adil, karena sepinya order para pengemudi ojol bisa disebabkan oleh skema yang diterapkan platform seperti akun prioritas, skema slot maupun aceng alias argo goceng.
“Ini sangat diskriminatif. Ditambah lagi potongan platform hingga 50% yang semakin menurunkan pendapatan pengemudi ojol, serta membuat seolah-olah pengemudi tidak berkinerja baik,” kata dia.
Lily pernah menjelaskan slot adalah memusatkan pesanan pada satu wilayah misalnya, wilayah kuota pengemudi ojol di Rawamangun sudah penuh, maka driver harus memilih lokasi lain seperti Kelapa Gading.
Menurut Lily, besaran BHR Rp 50 ribu tidak sesuai dengan kontribusi pengemudi ojol terhadap pendapatan aplikator. Oleh karena itu, ia membuka posko pengaduan THR ojol melalui nomor WhatsApp 081511982590.
SPAI pun berencana melakukan pengaduan ke Kementerian Ketenagakerjaan atau Kemnaker mengenai besaran Bonus Hari Raya ojol besok (25/3), pukul 10.100 WIB.