Investasi ke Startup Singapura, Vietnam, Malaysia Diramal Melonjak Berkat AI

Kamila Meilina
12 November 2025, 15:08
investasi ke startup,
Katadata
Diskusi KatadataForum dengan tema "Transformasi Indonesia Menuju Raksasa Ekonomi Digital" di Jakarta, pada 2018
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Mayoritas investor memperkirakan investasi ke startup meningkat di Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Bagaimana dengan Indonesia?

Merujuk pada laporan eConomy SEA 2025 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, mayoritas investor menekankan investasi pada startup perangkat lunak dan layanan, AI, dan deep technology seperti Internet of Things alias IoT dan lainnya.

Persentase investor yang memperkirakan investasi ke startup meningkat pada 2025 – 2029 sebagai berikut:

  • Singapura: 100%
  • Vietnam: 79%
  • Malaysia: 64%
  • Indonesia: 50%
  • Filipina: 43%

Hanya 50% investor di Indonesia yang memproyeksikan investasi ke startup meningkat pada 2025 – 2029. Namun Google, Temasek, dan Bain & Company tidak memerinci alasannya.

Secara keseluruhan, nilai pendanaan swasta di Asia Tenggara meningkat 15% dalam 12 bulan terakhir menjadi US$ 7,7 miliar. Angkanya masih sekitar 70% di bawah rekor tertinggi pada 2021, yakni US$ 27 miliar. 

“Pemulihan ini masih tertinggal dari tren global, di mana investasi private equity (PE) dan venture capital (VC) tumbuh sekitar 25% pada periode yang sama,” demikian dikutip.

Data lima tahun terakhir menunjukkan fluktuasi yang tajam dalam pendanaan startup di kawasan Asia Tenggara:

  • 2020: US$ 12 miliar (1.853 kesepakatan)
  • 2021: US$ 27 miliar (2.697 kesepakatan)
  • 2022: US$ 22 miliar (2.080 kesepakatan)
  • 2023: US$ 8 miliar (883 kesepakatan)
  • Semester 1 2024: US$ 3 Miliar (305 kesepakatan) 
  • Semester 2 2024: US$ 5 Miliar (270 kesepakatan) 
  • Semester 1 2025: US$ 3 miliar (191 kesepakatan)

Laporan mencatat bahwa sebagian besar investasi kini berfokus pada pendanaan tahap akhir, sementara dana untuk startup tahap awal turun dari sekitar 30% menjadi 20% dalam setahun terakhir. Akibatnya, nilai setiap transaksi meningkat, tetapi jumlah kesepakatan turun sekitar 25%.

Sektor startup yang dibidik oleh investor di antaranya:

  • Software & Services: 79% (persentase investor Asia Tenggara yang berminat)
  • AI & Deep Tech: 71%
  • Healthtech/Medtech: 50%
  • Sustainability Tech: 50%
  • Fintech: 36%
  • Consumer Products: 36%

Sektor kecerdasan buatan alias AI menjadi salah satu incaran utama investor dalam mengalirkan pendanaan ke startup di kawasan Asia Tenggara. Dalam 12 bulan terakhir, tercatat lebih dari US$ 2,3 miliar telah diinvestasikan pada startup terkait AI di Asia Tenggara.

Startup berbasis AI kini menyerap lebih dari 30% total nilai pendanaan swasta di regional, naik dari 30% pada paruh kedua 2024 menjadi 32% pada paruh pertama 2025. 

Sebagian besar dana ini masih mengalir ke perusahaan yang menggunakan AI sebagai fitur tambahan (AI as a feature), seperti untuk meningkatkan efisiensi layanan utama, sementara porsi untuk startup yang menjadikan AI sebagai produk inti (AI as a core product) masih lebih kecil.

Asia Tenggara kini menampung lebih dari 680 startup AI aktif yang berdiri sejak 2020 dengan rincian sebagai berikut:

  • Singapura menjadi pusat utama dengan lebih dari 495 perusahaan, 
  • Malaysia 60
  • Indonesia 45
  • Vietnam 40
  • Thailand 20
  • Filipina 10

Meski investasi AI di kawasan ini baru mewakili sekitar 2% dari total global, proporsinya sudah sebanding dengan kontribusi Asia Tenggara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia yang mencapai 4%. 

Investor memperkirakan pendanaan untuk startup berbasis AI akan terus meningkat. Saat ini, sekitar 50% investor sudah menempatkan sebagian besar investasi pada startup yang menjadikan AI sebagai produk utama. Angkanya diperkirakan naik menjadi 71% dalam setahun.

Selain itu, semua investor diprediksi akan berinvestasi pada startup yang memanfaatkan AI sebagai fitur pendukung.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...