TikTok Buat Aplikasi Khusus Drama Pendek PineDrama
Prospek industri drama pendek alias micro drama makin menjanjikan. TikTok pun ikut meramaikan pasar ini lewat peluncuran aplikasi baru bernama PineDrama. Untuk sementara, aplikasi ini baru tersedia di Amerika Serikat (AS) dan Brasil, dan bisa diakses pengguna iOS maupun Android.
Mengutip MLQ.ai, sektor industri drama pendek mulai meledak setelah Cina meluncurkan aplikasi Douyin dan Melolo milik ByteDance. Di Amerika Serikat (AS) saja, sektor ini diperkirakan bisa meraup pendapatan hingga US$ 1,3 miliar pada 2025 atau sekitar Rp 22,02 triliun (kurs Rp 16.935 per dolar AS).
Menariknya, pemasukan tersebut sebagian besar berasal langsung dari penonton. Bahkan secara global, pendapatan industri drama pendek diproyeksikan bisa tembus US$ 26 miliar per tahun pada 2030, setara Rp 440,31 triliun per tahun.
Mirip TikTok, Tapi Isinya Drama
Secara tampilan, PineDrama terasa sangat familiar. Feed-nya vertikal seperti TikTok dan disesuaikan dengan kebiasaan menonton serta interaksi pengguna. Pengguna bisa menjelajahi drama yang sedang tren, memilih kategori favorit, hingga mencari judul serial tertentu.
Fitur tambahan termasuk riwayat tontonan, favorit, navigasi episode, dan bagian komentar untuk keterlibatan penonton juga ada di dalam aplikasi tersebut. Aplikasi ini mendukung tampilan imersif layar penuh tanpa teks atau sidebar.
Meski masih diluncurkan secara gratis, PineDrama dibatasi untuk pengguna berusia 18 tahun ke atas. Pengguna juga tetap harus memiliki akun TikTok, meski pendaftaran bisa dilakukan lewat Google atau Facebook.
TikTok Serius Masuk Dunia Hiburan
Kehadiran PineDrama menandai langkah serius TikTok memperluas sayap ke dunia hiburan berdurasi pendek. Menariknya, TikTok memilih pendekatan berbeda dibanding para pesaingnya.
Saat peluncuran, PineDrama belum menampilkan iklan, berbeda dengan aplikasi sejenis seperti DramaBox atau ReelShort yang biasanya memberi beberapa episode gratis lalu mengarahkan pengguna ke sistem langganan.
Strategi ini memungkinkan TikTok membangun audiens dengan cepat lewat basis pengguna yang sudah ada. Hernan Lopez dari Owl & Co menilai langkah ini sebagai sebuah eksperimen, yang kedepannya berpotensi membuka jalan monetisasi, sekaligus menguji apakah pengalaman menonton tanpa iklan benar-benar diminati pengguna.
