Grab Kerek Target Pendapatan 2026 meski Komisi Ojol Turun Jadi 8% di Indonesia

Rahayu Subekti
6 Agustus 2026, 13:32
ojol, grab,
Katadata/Fauza Syahputra
Pengemudi ojek online (ojol) melintas di Jalan Panglima Polim, Blok M, Jakarta, Selasa (16/9/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Grab Holdings tetap optimistis terhadap prospek bisnis keseluruhan di delapan negara tahun ini, meski komisi atas layanan pengantaran orang ojol di Indonesia turun dari maksimal 20% menjadi 8%. Perusahaan yang berbasis di Singapura ini menaikkan target pendapatan dan laba sebelum pajak atau adjusted EBITDA untuk keseluruhan tahun.

Dalam laporan keuangan kuartal II, Grab menaikkan proyeksi pendapatan tahun ini dari US$ 4,04 miliar – US$ 4,1 miliar atau Rp 72,47 triliun hingga Rp 73,54 triliun  (kurs Rp 17.937 per dolar AS), menjadi US$ 4,1 miliar – US$ 4,15 miliar atau Rp 73,54 triliun hingga Rp 74,4 triliun.

Grab juga meningkatkan target adjusted EBITDA dari US$ 700 juta - US$ 720 juta atau Rp 12,56 triliun hingga Rp 12,91 triliun menjadi US$ 720 juta - US$ 740 juta atau Rp 12,91 triliun hingga Rp 13,27 triliun. Sekadar 

“Angka ini mencerminkan kekuatan bisnis inti kami serta dampak dari konsolidasi Superbank dan akuisisi Stash. Kami tetap berkomitmen pada kerangka alokasi modal yang disiplin,” kata Chief Financial Officer of Grab Peter Oey dalam laporan keuang Grab Kuartal II 2026, dikutip Kamis (6/8).

Kenaikan target itu didorong oleh pertumbuhan bisnis pada kuartal II. Grab membukukan pendapatan US$ 997 juta atau Rp 17.88 triliun, naik sekitar 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Nilai transaksi atau On-Demand Gross Merchandise Value (GMV) juga meningkat 21% menjadi US$ 6,46 miliar atau Rp 115,47 triliun, seiring jumlah pengguna yang bertransaksi bulanan atau Monthly Transacting Users (MTU) tumbuh 17% menjadi 53,9 juta. Di sisi profitabilitas, adjusted EBITDA melonjak 54% menjadi US$ 168 juta atau Rp 3,01 triliun.

Perusahaan juga mencatat peningkatan margin Adjusted EBITDA dari 13,3% pada kuartal II 2025 menjadi 16,9% pada periode yang sama tahun ini. “Hal ini menandai pertumbuhan EBITDA yang Disesuaikan selama delapan belas kuartal berturut-turut dan membuktikan bahwa model bisnis kami mampu berkembang dalam skala besar," katanya.

Chief Executive Officer sekaligus Co-Founder Grab Anthony Tan mengatakan pertumbuhan tersebut ditopang oleh strategi perusahaan yang semakin mengandalkan kecerdasan buatan alias AI. Menurutnya, teknologi AI kini telah diterapkan di seluruh platform Grab untuk meningkatkan pendapatan mitra pengemudi dan merchant sekaligus memperbaiki efisiensi operasional perusahaan.

“Kami memperkirakan lapisan kecerdasan ini akan semakin kuat seiring dengan peningkatan skalanya, yang secara langsung berdampak pada keterlibatan pengguna yang lebih mendalam serta pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan bagi Grab” ujar Anthony.

Bisnis Ojol hingga Finansial Grab

Laporan keuangan itu dirilis di tengah penerapan kebijakan pembatasan komisi maksimal 8% di Indonesia. Namun dalam laporan ini, Grab tidak mengungkapkan dampak kebijakan itu terhadap bisnisnya. 

Meski demikian, kinerja bisnis inti Grab masih menunjukkan pertumbuhan di berbagai segmen. Pada bisnis deliveries seperti GrabFood dan GrabExpress, pendapatan meningkat 21% menjadi US$ 531 juta atau Rp 9,52 triliun, sedangkan GMV naik 22% menjadi US$ 4,25 miliar atau Rp 76,23 triliun.

Di segmen mobility seperti ojol GrabBike dan GrabCar, GMV naik 18% menjadi US$ 2,21 miliar atau Rp 39,64 triliun, sementara pendapatan bertambah 12% menjadi US$ 331 juta atau Rp 5,94 triliun.

Grab mengakui perusahaan meningkatkan insentif kepada mitra pengemudi untuk membantu mengimbangi kenaikan harga bahan bakar di kawasan Asia Tenggara. “Selama kuartal tersebut, kami mengalokasikan dana lebih dari US$ 7 juta atau Rp 125,56 miliar untuk mendukung pendapatan mitra pengemudi layanan di tengah krisis bahan bakar yang masih berlangsung,” tulis Grab dalam laporan tersebut.

Selain meningkatkan target pendapatan, Grab mengumumkan program pembelian kembali saham senilai US$ 750 juta atau Rp 13,45 triliun, sehingga total otorisasi buyback sejak 2024 mencapai US$ 1,75 miliar atau Rp 31,39 triliun.

Sementara itu, bisnis financial services menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat. Pendapatannya meningkat 59% menjadi US$ 134 juta atau Rp 2,40 triliun, sedangkan portofolio pinjaman bruto melonjak 197% menjadi US$ 2,3 miliar Rp 41,26 triliun.

Pertumbuhan itu didorong oleh ekspansi bisnis pinjaman serta mulai dikonsolidasikannya Superbank Indonesia ke dalam laporan keuangan Grab sejak Juni 2026.

Grab juga membukukan laba periode berjalan sebesar US$ 235 juta atau Rp 4,2 triliun meningkat dari US$ 20 juta atau Rp 358,74 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, perusahaan menjelaskan kenaikan tersebut sebagian besar berasal dari keuntungan akuntansi sekitar US$ 307 juta atau Rp 5,51 triliun atas konsolidasi Superbank. “Keuntungan pengukuran ulang Superbank bersifat satu kali (one-off),”  tulis Grab.

 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...