Perbandingan Bisnis GoTo Gojek dan Grab: Untung Sebelum Komisi 8% Diterapkan

Desy Setyowati
18 Agustus 2026, 12:33
goto, grab, gojek, perpres ojol,
Katadata/Fauza Syahputra
Pengemudi ojek online (ojol) membawa penumpang di kawasan Palmerah, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

GoTo Gojek Tokopedia dan Grab sama-sama membukukan untung pada kuartal II atau April – Juni. Namun kedua perusahaan menghadapi kebijakan penurunan komisi atas layanan pengantaran orang dari maksimal 20% menjadi 8% yang berlaku Juli.

Kebijakan penurunan komisi layanan pengantaran orang itu akan tertuang dalam Peraturan Presiden tentang Ekosistem Transportasi Digital atau Perpres Ojol yang kini memasuki tahap finalisasi.

Pemerintah dan DPR hanya perlu melakukan satu kali pertemuan, yang dijadwalkan pada hari ini (18/8), untuk kemudian menerbitkan Perpres Ojol.

GoTo Gojek Tokopedia mengatakan penurunan komisi itu akan berpengaruh terhadap kinerja bisnis perusahaan. Direktur Utama Grup GoTo Gojek Tokopedia Hans Patuwo menyebutkan bisnis ojol menyumbang sekitar 7% dari total pendapatan bersih Grup.

"Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil," kata Hans dalam siaran pers, bulan lalu (29/7).

Sebelum kebijakan itu berlaku, GoTo Gojek Tokopedia kembali membukukan laba bersih Rp 171 miliar pada kuartal I dan Rp 252 miliar pada kuartal II. Nilai transaksi bruto atau GTV naik 83% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 164 triliun dan pendapatan bersih melonjak 31% menjadi Rp 5,7 triliun.

Selain itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA grup meningkat 137% menjadi Rp 1,01 triliun. “Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA grup yang disesuaikan naik lebih dari dua kali lipat,” kata Hans.

Jumlah pengguna bertransaksi tahunan atau Annual Transacting Users (ATU) tumbuh 19% menjadi 71 juta pengguna.

Yang menarik, GoPay menjadi motor pertumbuhan utama GoTo pada kuartal II tahun ini. Pendapatan bersih fintech naik 53% menjadi Rp 2,07 triliun, sedangkan EBITDA melonjak 447% menjadi Rp 481 miliar. 

Di sisi operasional, jumlah pengguna yang bertransaksi bulanan atau Monthly Transactions Users (MTU) mencapai 28,8 juta, naik 29%. Jumlah transaksi bahkan melonjak 91% menjadi 2,4 miliar transaksi, sementara core GTV meningkat 91% menjadi Rp 157 triliun. Nilai buku pinjaman juga tumbuh 58% menjadi Rp 11 triliun.

Sebaliknya, pertumbuhan bisnis Gojek mulai melambat. Pendapatan bersih On-demand Services memang masih lebih besar, yakni Rp 3,6 triliun, namun pertumbuhannya hanya 20% secara tahunan. Sementara EBITDA hanya meningkat 41% menjadi Rp 464 miliar. 

Sementara itu, GTV hanya tumbuh 2% menjadi Rp 16,7 triliun dan jumlah pesanan yang selesai naik 3%.

Data itu menunjukkan pertumbuhan bisnis fintech kini jauh lebih cepat dibandingkan layanan transportasi dan pengantaran.

Oleh karena itu, seiring dengan kebijakan komisi yang turun dari 20% menjadi 8%, GoTo menurunkan target EBITDA On-demand Services atau Gojek dari Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,8 triliun menjadi Rp 1,4 triliun hingga Rp 1,5 triliun. Sementara target fintech alias Gopay, naik  dari Rp 1,4 hingga Rp 1,5 triliun menjadi Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,8 triliun.

Pergeseran target tersebut mempertegas bahwa dalam beberapa tahun ke depan, mesin pertumbuhan GoTo diperkirakan akan semakin bergantung pada bisnis fintech. Sementara Gojek dan GoFood diarahkan menjadi bisnis yang lebih efisien, menjaga margin, dan tidak lagi mengandalkan promosi agresif untuk mendorong pertumbuhan.

Grab Untung

Grab membukukan laba periode berjalan US$ 235 juta atau Rp 4,2 triliun (kurs Rp 17.851 per US$) pada kuartal II. Jika dihitung sejak Januari, maka keuntungannya US$ 355 juta.

Selain laba bersih, indikator profitabilitas operasional Grab terus membaik. EBITDA yang disesuaikan tumbuh 54% menjadi US$ 168 juta. Sementara itu, laba operasional naik 186% menjadi US$ 19 juta.

Pendapatan perusahaan tumbuh 22% menjadi US$ 997 juta pada kuartal II. Pertumbuhan ini ditopang oleh bisnis On-Demand seperti ojol dan taksi online yang naik 12% menjadi US$ 331 juta dan fintech yang melonjak 59% menjadi US$ 134 juta.

Data itu menunjukkan pertumbuhan bisnis layanan keuangan lebih tinggi ketimbang On-Demand Services, sama seperti GoTo Gojek. Meski secara nilai, lini fintech Grab masih di bawah On-Demand Services.

Pendapatan Financial Services Grab tumbuh 59%, dengan portofolio pinjaman bruto naik 19% menjadi US$ 2,3 miliar.

Nilai transaksi bruto atau GMV On-Demand Grab juga naik 21% menjadi US$ 6,5 miliar. MTU mencapai rekor 54 juta pengguna. Namun perusahaan belum memerinci dampak kebijakan komisi turun menjadi 8% terhadap kinerja bisnis.

Berbeda dengan Gojek yang hanya tersedia di Indonesia, layanan Grab tersebar di delapan negara.

Tanpa memerinci soal dampak kebijakan komisi 8% di Indonesia, Grab menaikkan panduan pendapatan untuk sepanjang 2026 menjadi sekitar US$ 4,10 miliar hingga US$ 4,15 miliar.

Pemerintah Indonesia sebelumnya mengatakan, Perpres Ojol juga akan mengatur layanan pengantaran barang dan makanan dengan kementerian pengampu yakni Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Namun belum ada rincian apakah layanan ini juga akan diatur besaran komisi dan tarifnya, atau hanya formula perhitungannya. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...