Ajaib Garap Investasi Berbasis AI, Bidik Cara Baru Anak Muda Berinvestasi

Rahayu Subekti
31 Agustus 2026, 16:21
ajaib, ai,
Ajaib
Ajaib
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ajaib mulai mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau AI untuk mengubah cara generasi muda Indonesia berinvestasi. Perusahaan aplikasi investasi online itu mengungkapkan pengembangan teknologi tersebut menjadi salah satu fokus perusahaan setelah mendapatkan pendanaan strategis US$ 270 juta atau sekitar Rp 4,8 triliun dari SBI Holdings asal Jepang.

CEO dan Co-founder Ajaib Group Anderson Sumarli mengatakan perusahaan melihat AI sebagai masa depan industri jasa keuangan, termasuk dalam layanan investasi. Oleh karena itu, Ajaib tengah melakukan riset dan pengembangan (R&D) untuk mencari bentuk baru interaksi antara investor dengan platform investasi.

“Kami memang melihat produk kecerdasan buatan atau AI ini adalah masa depan dari jasa keuangan, bukan hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia,” kata Anderson di HQ Office Ajaib, Jakarta, Senin (31/8).

Menurutnya, perubahan perilaku generasi muda dalam menggunakan teknologi menjadi salah satu alasan Ajaib mulai mengembangkan layanan investasi berbasis AI. Generasi muda kini semakin terbiasa berinteraksi dengan teknologi melalui percakapan, termasuk menggunakan aplikasi AI seperti ChatGPT dan Claude.

Sebelum SBI, Ajaib telah didukung deretan investor kelas dunia termasuk Horizons Ventures milik Li Ka-shing yang pernah dinobatkan sebagai orang terkaya di Asia. Selain itu, DST Global dan Ribbit Capital, investor di balik Robinhood dan Coinbase.

Anderson membayangkan ke depan investor tidak lagi hanya berinteraksi dengan aplikasi melalui tombol dan menu, tetapi dapat berkomunikasi langsung dengan layanan investasi.

“Anak muda Indonesia akan berbicara langsung dengan duit mereka. Jadi sudah bukan lagi main dengan tombol-tombol, tetapi mereka akan berbicara langsung,” ujarnya.

Meski demikian, Anderson belum memerinci bentuk produk AI yang tengah dikembangkan maupun kapan layanan tersebut akan diluncurkan. Ia hanya mengatakan pengembangan ini masih berada dalam tahap R&D.

Pengembangan teknologi menjadi bagian dari pemanfaatan dana segar yang diterima Ajaib dari SBI Holdings. Selain teknologi, dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM) serta mengembangkan produk investasi.

Anderson mengatakan perusahaan akan memperbesar tim di sejumlah bidang. Terutama engineering, product, business, dan operations.

Saat ini, Ajaib memiliki sekitar 700 karyawan. “Kami ingin merekrut dan membesarkan SDM kami, terutama di bidang teknologi,” katanya.

Selain memperkuat teknologi, Ajaib akan mengembangkan produk yang memungkinkan anak muda Indonesia mengakses lebih banyak instrumen investasi, baik saham Indonesia, saham luar negeri, maupun aset digital.

Strategi tersebut sejalan dengan perubahan karakter investor muda yang dinilai semakin global. Anderson Ajaib menyebut generasi muda Indonesia kini tidak lagi hanya mengonsumsi informasi mengenai Indonesia dan Asia Tenggara, tetapi juga mengikuti perkembangan ekonomi dan pasar keuangan global.

Ajaib sebelumnya telah membuka akses bagi nasabah Indonesia untuk berinvestasi pada saham Amerika Serikat. Perusahaan juga membuka peluang untuk memperluas akses terhadap pasar modal negara lain.

Ia mengatakan akses terhadap pasar saham luar negeri selama ini relatif sulit bagi investor Indonesia. Sebelum tersedia melalui platform lokal, investor yang ingin mengakses saham Amerika Serikat, misalnya, harus melalui negara seperti Singapura dan memenuhi persyaratan setoran tertentu.

“Kami berharap dapat membawa inovasi-inovasi baru seperti itu agar produk-produk di tanah air kami dapat merefleksikan bagaimana anak muda Indonesia berpikir, yaitu sekarang sudah mengglobal,” ujarnya.

Ajaib Target 28 Juta Pengguna

Pengembangan teknologi dan produk tersebut juga menjadi bagian dari ambisi Ajaib memperluas basis penggunanya. Saat ini, Ajaib memiliki sekitar 7 juta akun pengguna, dengan lebih dari 80% di antaranya disebut merupakan investor pemula dan anak muda.

Setelah mendapatkan pendanaan baru, perusahaan menargetkan jumlah pengguna meningkat hampir empat kali lipat dalam tiga tahun ke depan. “Kami targetnya mau minimal 10% dari penduduk Indonesia. Jadi semoga kita bisa mencapai 28 juta penduduk Indonesia secepatnya,” kata Anderson.

Menurutnya, basis pengguna Ajaib saat ini juga tidak hanya berasal dari kota-kota besar. Platform tersebut telah digunakan oleh investor dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk masyarakat yang baru pertama kali masuk ke pasar modal.

Pertumbuhan investor ritel domestik tersebut dinilai menjadi salah satu perkembangan penting di tengah melemahnya arus pendanaan global ke perusahaan teknologi Indonesia.

Anderson mengatakan pendanaan perusahaan teknologi di Indonesia yang pada 2021 mencapai sekitar US$ 9,4 miliar atau Rp 166,41 triliun (kurs Rp 17.703 per dolar AS) turun menjadi sekitar US$ 340 juta atau Ro 6,02 triliun pada 2023  atau anjlok lebih dari 96%.

Di tengah kondisi tersebut, menurutnya, masyarakat Indonesia justru semakin aktif masuk ke pasar modal. Jumlah investor saham Indonesia disebut telah melampaui 10 juta orang dan mayoritas merupakan investor ritel.

“Ketika modal asing keluar, justru anak muda Indonesia yang masuk ke pasar modal,” ujarnya.

Ia mengatakan mayoritas pengguna merupakan investor ritel dan pemula. Dengan pendanaan dari SBI Holdings, Ajaib berharap dapat memperbesar investasi di Indonesia, termasuk melalui pengembangan teknologi dan perekrutan talenta lokal.

Anderson juga menyebut pendanaan tersebut sebagai bentuk kepercayaan investor global terhadap industri teknologi dan pasar Indonesia setelah periode pendanaan startup yang relatif lesu. “Harapan kami porsi terbesar tetap tertanam di Indonesia,” kata Anderson.

Komisaris Utama Ajaib Group Andi Gani Nani Wea menilai karakter investor saham yang didominasi generasi muda menunjukkan bahwa edukasi dan teknologi finansial telah menjangkau masyarakat di luar kota-kota besar. Nasabah Ajaib, kata dia, tersebar hingga berbagai daerah di Indonesia.

Ia mengatakan banyak nasabah yang pada awalnya mulai berinvestasi dengan nilai kecil, tetapi kemudian terus meningkatkan nilai investasinya seiring bertambahnya pengalaman.

“Bahkan yang baru mulai saja kita mendampingi dan sampai akhirnya ketika mereka masuk dengan nilai yang sangat masih kecil dan sekarang sudah menengah dan bahkan menuju ke besar,” ujarnya. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...