Adopsi AI di Industri Tambang Dinilai Tambah Potensi Ekonomi Rp 5.200 Triliun

Kamila Meilina
24 April 2025, 15:32
tambang, AI, komdigi,
YouTube AI Revolution
Ilustrasi AI generatif
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau AI di industri pertambangan diperkirakan menambah potensi ekonomi US$ 308 miliar atau Rp 5.200 triliun.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital atau Wamenkomdigi Nezar Patria menjelaskan analisis data dan pengambilan keputusan yang diakselerasi oleh AI dapat mempercepat seluruh siklus, mulai dari eksplorasi, pengambilan produksi hingga distribusi mineral.

“Ini memang tujuan dari adopsi teknologi AI itu, dengan potensi mencapai US$ 308 miliar,” kata Nezar dalam acara Indonesia AI Day for Mining Industri, di Jakarta Pusat, Kamis (24/4).

Menurut Nezar, keunggulan utama AI dalam pertambangan terletak pada otomatisasi proses. Hal ini tak hanya mempercepat kegiatan eksplorasi hingga distribusi mineral, tetapi juga membebaskan pekerja dari tugas-tugas repetitif.

Dengan begitu, tenaga kerja bisa dialihkan ke aktivitas yang lebih bernilai seperti inovasi dan pengembangan bisnis.

Lebih dari itu, AI turut mendukung agenda pertambangan berkelanjutan. Teknologi ini memungkinkan perusahaan mengelola limbah tambang secara lebih efisien, meminimalkan dampak lingkungan, serta mendukung upaya dekarbonisasi.

Meski menjanjikan, integrasi AI di industri pertambangan bukan tanpa tantangan. Salah satu isu krusial yakni konsumsi energi tinggi untuk GPU atau Graphics Processing Unit.

GPU mempunyai ribuan core kecil yang bisa bekerja secara paralel. Cara kerja ini cocok untuk pengembangan AI, terutama deep learning, yang butuh banyak perhitungan matriks dan vektor secara bersamaan.

Menjawab dinamika tersebut, pemerintah melalui Kementerian Komdigi mengembangkan strategi 3P: Policy, People, dan Platform untuk memperkuat ekosistem AI. Penjelasannya sebagai berikut:

  • Policy: Fokus pada regulasi adaptif yang tidak menghambat inovasi. Pendekatannya bersifat horizontal alias lintas-sektor dan vertikal yang spesifik seperti sektor pendidikan, kesehatan, dan pertambangan.
  • People: Pengembangan talenta digital melalui kerja sama dengan kampus, industri, dan asosiasi. Program seperti Digital Talent Scholarship menjadi langkah strategis menjawab kebutuhan sekitar tiga juta talenta digital tiap tahun.
  • Platform: Mendorong kolaborasi multipihak dalam membentuk ekosistem AI yang inklusif. Pemerintah telah menerbitkan surat edaran etika AI dan sedang menyusun peta jalan serta regulasi AI, yang berpotensi dituangkan dalam Perpres atau Permen.

Di samping itu, Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, mengungkapkan bahwa adopsi awal teknologi AI di Indonesia memiliki potensi signifikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam laporan riset yang diterbitkan awal tahun lalu, perusahaan menunjukkan bahwa integrasi AI secara luas dapat membantu Indonesia meningkatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto atau PDB dari 5% menjadi 8%. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...