Ilmuwan Sebut Manusia Bisa Hidup 1.000 Tahun Mulai 2050 Berkat AI

Desy Setyowati
14 Agustus 2025, 10:02
Manusia AI
Gemini AI, Katadata/Desy Setyowati
Manusia AI
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Visioner sains, teknologi, dan medis Ray Kurzweil, Ian Pearson, dan Aubrey de Grey percaya bahwa manusia mungkin akan mencapai 'keabadian praktis' dalam 25 tahun lagi atau pada 2050. 

Namun bukan dengan berupaya memperlambat penuaan, melainkan memperpanjang harapan hidup alami hingga sepuluh kali lipat, melalui kombinasi kemajuan AI, komputasi awan alias cloud, dan robotika.

Futuris, penulis, dan ilmuwan komputer Ray Kurzweil mengantisipasi kedatangan singularitas yang digerakkan oleh AI pada 2029, ketika kecerdasan buatan akan melampaui kecerdasan manusia.

Pada 2045, Kurzweil meramalkan penggabungan sejati antara manusia dan mesin, melalui antarmuka otak-komputer atau dan kesadaran berbasis cloud, serta nanobot yang dimasukkan secara non-invasif ke dalam tubuh manusia.

"Bersama-sama, inovasi ini tidak hanya akan mengarah pada keabadian, setidaknya pikiran, tetapi juga pada kecerdasan manusia kolektif yang jutaan kali lebih kuat daripada yang ada saat ini," kata Kurzweil dikutip dari Popular Mechanics, pada 8 Agustus.

Miliarder modal ventura Marc Andreessen, salah satu pendiri peramban internet Netscape di awal 1990-an, sangat yakin akan janji-janji inovasi teknologi di masa depan, seperti yang ia ungkapkan dalam blog berjudul 'Manifesto Tekno-Optimis' yang diunggah pada 2023.

"Peradaban kita dibangun di atas teknologi. Teknologi adalah kejayaan ambisi dan pencapaian manusia, ujung tombak kemajuan, dan perwujudan potensi kita," tulis Marc Andreessen.

Dalam artikel yang diterbitkan pada April 2024 di The Conversation, situs berita nirlaba yang ditulis oleh peneliti, mereka mengatakan bahwa isu-isu kompleks seperti kemiskinan pasti akan memiliki solusi multi-cabang, yang mungkin hanya sebagian saja melibatkan teknologi. Kekhawatiran lain muncul seiring keyakinan bahwa teknologi dapat menyelesaikan semua permasalahan sosial.

"Ada juga konsekuensi politik, lingkungan, dan ekonomi dari pandangan ini. Sebagai posisi ideologis, hal ini mengutamakan kepentingan orang-orang tertentu, seringkali mereka yang sudah memiliki kekuasaan dan sumber daya yang sangat besar, di atas kepentingan orang lain," kata peneliti.

Ilmuwan dan futuris Inggris Ian Pearson mengakui bahwa tampaknya hanya individu terkaya yang dapat menikmati hasil dari teknologi aspiratif apa pun yang berkontribusi pada harapan hidup selama ribuan tahun.

Ia memprediksi bahwa pada 2050, individu-individu beruntung dapat mencapai umur panjang hingga 1.000 tahun, melalui kombinasi rekayasa genetika, robotika, dan kesadaran digital yang diunggah ke ruang virtual, atau bahkan ke dalam tubuh buatan baru.

Dengan demikian, tubuh yang menua secara normal tidak akan lagi menjadi penghalang bagi manusia yang ingin terus hidup. Pearson berpendapat bahwa teknologi-teknologi ini akan mengalir secara bertahap ke kelas menengah.

Namun, Pearson juga meramalkan kemajuan pesat dalam pengobatan penyakit seperti kanker dan penyakit jantung, serta kemampuan untuk membalikkan kerusakan sel, yang pada akhirnya menyebabkan kematian sel dan berkontribusi terhadap penyakit.

Ahli gerontologi biomedis dan futuris Aubrey de Grey sepakat bahwa penuaan suatu hari nanti dapat disembuhkan melalui kemajuan medis. Alih-alih menjadi bagian tak terelakkan dari kehidupan, penuaan akan menjadi kondisi yang dapat diobati pada 2050.

Dalam wawancara di jurnal EMBO Reports, de Grey merasa sulit untuk mengatakan bagaimana otak manusia akan merespons, jika bisa hidup 1.000 tahun. "Anak muda sekarang, di usia remaja atau 20-an, tidak terdorong oleh kematian atau fakta bahwa mereka akan meninggal 50 tahun dari sekarang," kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...