India Kini Punya Data Center AI-Ready, Bagaimana Indonesia?
India kini memiliki pusat data yang mendukung beban komputasi kecerdasan buatan alias AI-Ready. Indonesia lebih dulu membangun fasilitas sejenis.
Pusat data AI-Ready pertama di India itu dibangun oleh Equinix di Chennai. Fasilitas ini bernama CN1, dibangun di atas lahan hampir enam acre dengan investasi awal mencapai US$ 69 juta atau Rp 1,14 triliun (kurs Rp 16.583 per US$).
Melansir laman resmi Equinix, kapasitas CN1 mencapai 800 kabinet pada tahap awal. Kapasitasnya akan berkembang hingga 4.250 kabinet saat rampung seluruhnya.
Pusat data itu dirancang untuk mendukung beban komputasi AI yang sangat intensif. CN1 mengadopsi liquid cooling, solusi hemat energi yang menjaga stabilitas server meski suhu meningkat.
Infrastruktur itu juga terhubung langsung dengan jaringan kabel bawah laut serta layanan cloud global seperti AWS, Azure, Google Cloud, dan Oracle Cloud. Dengan standar uptime 99,999%, CN1 hampir tanpa downtime, diklaim menjadikannya tulang punggung bagi inovasi AI di India.
Indonesia Punya Pusat Data AI-Ready Juga?
Kebutuhan pusat data untuk kegiatan sehari-hari, seperti menyimpan dokumen, foto, atau aplikasi perbankan digital, berbeda dengan kebutuhan pusat data yang digunakan dalam pemrosesan data AI.
Indonesia telah mulai mengembangkan sejumlah pusat data yang dirancang untuk mendukung beban kerja komputasi kecerdasan buatan atau AI-Ready. Beberapa perusahaan besar, baik internasional maupun lokal, berperan dalam pembangunan infrastruktur ini.
Equinix telah membangun pusat data AI-Ready di Indonesia. Perusahaan infrastruktur digital ini membangun pusat data pertamanya di Jakarta, JK1 Data Center, melalui kemitraan dengan PT Astra International.
Investasi pusat data tersebut mencapai US$ 74 juta atau Rp 1,2 triliun (kurs Rp16.533 per US$). Pada tahap awal, investasi yang digelontorkan mencapai US$ 38 juta.
JK1 merupakan pusat data pertama Equinix di Indonesia dan menjadi bagian dari jaringan International Business Exchange Equinix yang tersebar di berbagai negara.
Pusat data itu menggunakan teknologi pendinginan modern, termasuk Cooling Array dan liquid cooling, yang mampu mendukung beban kerja komputasi berat seperti AI.
Seluruh operasional JK1 didukung energi terbarukan melalui pembelian sertifikat energi (REC), sejalan dengan komitmen global Equinix yang mencapai penggunaan energi terbarukan 96% pada 2024.
Selain itu, anak usaha Telkom Group, NeutraDC, memperluas kapasitas data center miliknya menjadi AI-Ready. NeutraDC saat ini mengoperasikan Hyperscale Data Center (HDC) di Cikarang dengan kapasitas sekitar 80 megawatt dan menargetkan peningkatan hingga 120 megawatt.
Perusahaan menargetkan ekspansi di HyperScale Data Center (HDC) Cikarang dengan penambahan kapasitas 18 megawatt (MW) yang akan mulai dibangun tahun depan. CEO NeutraDC, Andreuw Th.A.F, mengatakan langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan layanan digital dan AI.
“Kapasitas di NeutraDC sekarang 80 megawatt. Kami pasti akan nambah terus. Kita akan tambah di Batam. Mudah-mudahan kita akan dapat juga tambahan di Singapura,” ujarnya ditemui di sela-sela acara NeutraDC Summit 2025 di Nusa Dua, Bali, bulan lalu (25/8).
