Kapasitas Data Center Akan Naik 3,5 Kali Lipat, Siapkah Air dan Listriknya?

Desy Setyowati
18 November 2025, 13:43
pusat data, data center
TheDigitalArtist-pixabay.com
Ilustrasi data center
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kapasitas pusat data Indonesia diperkirakan bertambah 250% dari 330 Megawatt atau MW menjadi 1.155 MW. Asosiasi Data Center Indonesia atau IDPRO mengungkapkan soal ketersediaan air dan listriknya.

Angka kapasitas data center itu merujuk pada proyek yang direncanakan, sedang dibangun, telah dikomitmenkan, dan dalam tahap awal,

Rincian per negara di Asia Tenggara, merujuk pada laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company sebagai berikut:

NegaraKapasitas SebelumnyaTambahan KapasitasTotal Kapasitas BaruKenaikan
Singapura1.000 MW+300 MW1.300 MW30%
Malaysia690 MW+2.415 MW3.105 MW350%
Thailand350 MW+700 MW1.050 MW200%
Indonesia330 MW+825 MW1.155 MW250%
Filipina180 MW+270 MW450 MW250%
Vietnam55 MW+110 MW165 MW200%
TOTAL2.208 MW+4.620 MW7.225 MW894%

Laporan itu mencatat bahwa lonjakan terjadi akibat keterbatasan pasokan energi di Singapura, yang selama ini menjadi pusat utama data center di kawasan. Akibatnya, penyedia layanan cloud besar mulai mengalihkan fokus ke negara tetangga seperti Malaysia dan Indonesia.

Kebijakan lokalisasi data di Indonesia dan Thailand juga mendorong pembangunan pusat data domestik, karena data berdampak tinggi wajib disimpan di dalam negeri. Namun, kebijakan ini juga disebut dapat membatasi aliran data lintas-batas yang penting bagi pengembangan AI secara regional.

Infrastruktur perangkat keras kawasan terus berkembang pula berkat perluasan jaringan 5G, peningkatan keandalan jaringan listrik (grid reliability), dan semakin luasnya ketersediaan layanan cloud

Namun laporan eConomy SEA 2025 menyoroti tiga tantangan utama dalam pengembangan pusat data di kawasan Asia Tenggara, yakni memastikan pasokan energi yang cukup yang sebaiknya dari sumber terbarukan, menjaga kestabilan jaringan listrik, dan menyediakan pasokan air yang andal untuk kebutuhan pendinginan pusat data.

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengakui ada tantangan untuk mendapatkan air guna proses pendinginan. “Ini tantangan terbesar,” kata dia kepada Katadata.co.id, Senin (17/11).

Dalam hal listrik, ia menyampaikan anggotanya sudah mencadangkan 76% dari energi yang akan diproduksi seiring dengan pembangunan pusat data.

Secara bertahap, asosiasi mendorong penggunaan energi ramah lingkungan. “Saat ini, masih 62% listriknya dari batu bara. Butuh waktu untuk transisi ke energi bersih,” ujar dia.

Untuk mendukung target net zero emission nasional, IDPRO sudah membuat Green Data Center White Paper pada 2022. Hal ini akan dikembangkan menjadi Indonesia Data Center Sustainable Standard, yang dimulai dari indeks

“Beberapa anggota IDPRO sudah mencoba untuk mencari solusi, misalnya dengan melakukan biomassa ataupun pemasangan solar farm,” kata Hendra.

Dia berharap pemerintah memberikan insentif, misalnya tidak menaikkan tarif listrik per kilowatt jika menggunakan energi ramah lingkungan.

Sementara itu, NeutraDC yang baru-baru ini meresmikan pusat data AI bernama NeutraDC Nxera Batam memastikan kota ini memiliki air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan data center di Kawasan Industri Terpadu Kabil.

Senior Vice President NeutraDC Batam Indrama YM Purba menyebutkan Graphics Processing Unit atau GPU di NeutraDC Nxera Batam memiliki daya listrik 200 sampai 300 watt. Ia memastikan fasilitas pendinginan cukup untuk memenuhi kebutuhan server dan GPU dengan daya sebesar itu, termasuk panas yang dihasilkan.

Data center AI di Batam itu menggunakan pendingin cairan atau liquid cooling. Dikutip dari Vertiv.com, liquid cooling adalah sistem pendinginan dengan cara mengirimkan langsung cairan, seperti air deionisasi atau fluida dielektrik lainnya, ke server maupun GPU.

Indrama menjelaskan NeutraDC mendapatkan air dari kerja sama dengan PAM. “Kawasan Industri Terpadu Kabil memiliki reservoir sendiri. Jadi kami ada backup. Jadi, soal sumber air, kami tidak ada masalah dan sudah ada MoU dengan mereka untuk provide,” kata dia saat peresmian di Batam, pada bulan lalu (30/10).

Ia menyebutkan NeutraDC dapat menghemat air hingga 70% karena menggunakan teknologi liquid cooling. “Konsumsi airnya akan berkurang,” ujar dia.

Regulasi terkait penggunaan air untuk data center di Indonesia diatur lewat Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat atau Permen PUPR Nomor 2/2024 tentang Tata Cara Perizinan Berusaha Penggunaan Sumber Daya Air dan Persetujuan Penggunaan Sumber Daya Air.

Pemohon wajib menyiapkan:

  1. Rencana kebutuhan air (volume, debit, durasi, lokasi pengambilan)
  2. Kajian dampak lingkungan (AMDAL / UKL-UPL) jika pengambilan air berpotensi memengaruhi ekosistem
  3. Desain teknis pengambilan dan pemanfaatan (pompa, jaringan pipa, reservoir)
  4. Rencana konservasi air dan rencana reuse (penggunaan ulang kondensat, air hujan, dan lainnya)

Pasal 23 berbunyi, “setiap pengguna sumber daya air harus menyusun rencana efisiensi penggunaan air dan rencana penggunaan ulang (reuse) air limbah”.

Selain itu, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan atau Permen LHK Nomor 1 Tahun 2021 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, pemerintah mendorong pemberian insentif bagi pelaku usaha yang mencapai efisiensi air dan energi.

Namun tidak ada rincian mengenai efisiensi air maupun energi. Sementara di Malaysia, MITI atau Ministry of Investment, Trade and Industry mengeluarkan Guidelines for Sustainable Development of Data Centre, yang melarang perusahaan membangun pusat data baru di lokasi Water Stress Index (WSI) ≥ 0.8.

WSI adalah ukuran seberapa besar permintaan air dibandingkan dengan ketersediaannya di suatu wilayah. Nilai 0 berarti air melimpah, sedangkan satu menunjukkan seluruh sumber air yang tersedia sudah digunakan atau krisis pasokan air.

Komisi Layanan Air Nasional atau SPAN Malaysia sedang menyusun pedoman ketat dan bisa mewajibkan penggunaan sumber non-potable, air olahan, air sumur, recycled condensate, serta menetapkan persyaratan perizinan pasokan dan potensi premium pricing untuk air terolah untuk data center.

Dengan pengaturan yang lebih detail, Malaysia menjadi pilihan raksasa teknologi seperti Nvidia dan Google untuk membangun pusat data alias data center, khususnya untuk AI.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Desy Setyowati, Kamila Meilina, Ade Rosman

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...