Studi MIT: AI Berpotensi Gantikan 151 Juta Pekerjaan

Kamila Meilina
1 Desember 2025, 10:26
AI menggantikan pekerjaan manusia, studi mit,
Gemini AI, Katadata/Desy Setyowati
Ilustrasi, robot menggantikan manusia bekerja
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Studi terbaru Massachusetts Institute of Technology atau MIT menyebut AI sudah cukup maju dan murah untuk melakukan pekerjaan setara hampir 12% atau sebanyak 151 juta tenaga kerja di Amerika Serikat.

Melansir Fortune (27/11), temuan MIT itu diperkirakan meningkatkan tekanan bagi perusahaan, pekerja, dan pembuat kebijakan dalam mengantisipasi perubahan di dunia usaha dan ekonomi, akibat perkembangan AI.

Dalam laporan yang ditulis Oktober dan dirilis pekan lalu (26/11), MIT memperkirakan teknologi AI saat ini secara teknis dan ekonomis mampu menggantikan tugas yang terkait dengan 11,7% pasar tenaga kerja AS atau setara 151 juta pekerja. Nilai upah dari porsi pekerjaan tersebut mencapai sekitar US$ 1,2 triliun atau Rp 19.900 triliun.

Berbeda dari studi sebelumnya yang hanya menilai ‘potensi eksposur’ terhadap otomatisasi, riset MIT kali ini menghitung pekerjaan yang secara nyata dapat diambil alih AI dengan biaya yang kompetitif dibanding tenaga manusia.

Temuan itu berasal dari Project Iceberg, simulasi pasar kerja besar-besaran yang dikembangkan MIT bersama Oak Ridge National Laboratory, rumah bagi superkomputer Frontier.  Model ini membuat ‘digital twin’ dari pasar tenaga kerja AS, memetakan 151 juta pekerja sebagai agen individual dengan keterampilan, lokasi, dan jenis pekerjaan spesifik.

Simulasi itu melacak lebih dari 32.000 keterampilan di 923 jenis pekerjaan di 3.000 county atau unit administratif setingkat kabupaten, lalu memadukannya dengan kemampuan AI yang tersedia saat ini.

Riset itu menegaskan bahwa angka 11,7% bukan berarti semua pekerjaan itu pasti hilang. Angka ini hanya menunjukkan bahwa AI mampu mengerjakan tugas-tugas itu dengan biaya yang bersaing. Namun, kemampuan AI terus berkembang, sehingga jarak antara dampak yang terlihat sekarang dan potensi yang mungkin terjadi ke depan makin besar.

Selama ini, adopsi AI paling banyak terjadi di pekerjaan teknologi seperti pemrograman, sekitar 2,2% nilai upah atau US$ 211 miliar atau setara Rp 3.500 triliun. Namun, MIT menemukan bahwa AI mampu mengerjakan banyak tugas kognitif dan administratif di sektor:

  • Keuangan
  • Administrasi kesehatan
  • Sumber daya manusia
  • Logistik
  • Layanan profesional (hukum, akuntansi, konsultansi)

Total nilai upah dari pekerjaan yang sudah bisa dilakukan AI di sektor-sektor tersebut mencapai US$ 1,2 triliun atau hampir lima kali lipat dari dampak yang sudah terlihat saat ini.

Para ekonom MIT menegaskan bahwa kemampuan AI bukan berarti pekerjaan akan langsung hilang. Mengganti pekerja dengan AI sering kali masih terlalu mahal atau belum praktis dilakukan, meski teknologinya sudah ada.

Penelitian MIT Sloan juga menunjukkan bahwa sejak 2010–2023, penggunaan AI tidak menyebabkan PHK besar-besaran. Justru perusahaan yang memakai AI cenderung tumbuh dan menambah karyawan.

Indeks Iceberg sendiri tidak dibuat untuk meramal siapa yang akan di-PHK. Alat ini hanya membantu pemerintah dan perusahaan mencoba berbagai skenario sebelum menentukan anggaran pelatihan, investasi baru, atau aturan terkait AI.

Sejauh ini, beberapa negara bagian seperti Tennessee, North Carolina, dan Utah sudah memakai platform itu untuk merancang strategi tenaga kerja menghadapi AI.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...