Booming Data Center AI, Bikin Konsumsi Listrik AS Setara 106 Reaktor Nuklir

Kamila Meilina
2 Desember 2025, 13:12
as, data center, ai,
UPT TI PPDIKTI
Ilustrasi data center
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Tren AI membuat pembangunan pusat data atau data center melonjak. Hal ini membuat konsumsi listrik di Amerika Serikat 106 gigawatt atau GW pada 2035, menurut laporan terbaru BloombergNEF (BNEF). 

Angka itu melonjak 36% dibandingkan proyeksi pada April, sebagaimana laporan Bloomberg. Sebagai gambaran, 1 GW setara dengan output satu reaktor nuklir dan cukup untuk memasok listrik sekitar 750 ribu rumah di AS.

Kenaikan kebutuhan listrik itu dinilai menunjukkan bagaimana ekspansi AI mengubah peta energi global, meski model bisnis AI dianggap belum sepenuhnya terbukti menghasilkan keuntungan.

Dalam laporan bertajuk US Data Center Outlook, BNEF memperkirakan porsi kapasitas data center yang digunakan untuk pelatihan dan inferensi AI akan melonjak dari sekitar 12% saat ini menjadi hampir 40% pada 2035. 

Aktivitas AI itu membuat tingkat pemanfaatan data center meningkat lebih tinggi dibanding layanan digital konvensional.

Lonjakan kebutuhan itu memicu kekhawatiran baru di pasar energi dan keuangan, terutama terkait apakah investasi besar-besaran untuk membangun dan memasok listrik ke data center dapat berkelanjutan.

Muncul Kekhawatiran Gelembung AI

Para analis mulai melihat tanda-tanda munculnya ‘gelembung AI’, mirip dengan ‘gelembung dot-com’ di akhir 1990-an yang akhirnya runtuh. Alasannya, perusahaan teknologi kini menghabiskan uang dalam jumlah sangat besar, hingga ratusan miliar dolar, untuk membeli cip dan membangun data center. 

Gelembung AI adalah kondisi ketika nilai pasar dan investasi di sektor AI meningkat jauh lebih cepat dibanding bukti nyata bahwa teknologi tersebut mampu menghasilkan keuntungan berkelanjutan.

Investasi itu bukan hanya untuk kebutuhan chatbot seperti ChatGPT atau Gemini, tetapi juga untuk mempersiapkan masa depan ketika banyak pekerjaan dialihkan ke mesin. Jika ditotal, nilai investasinya bisa mencapai triliunan dolar.

Beberapa perusahaan AI seperti OpenAI, Anthropic, dan xAI bahkan didukung oleh pola pendanaan yang dinilai berisiko, yaitu circular financing

Dalam skema ini, investor seperti Nvidia menanamkan modal ke startup AI, lalu startup tersebut memakai uang itu untuk membeli chip dari Nvidia lagi. Pola pendanaan seperti ini memunculkan kekhawatiran bahwa sebagian pertumbuhan industri AI sebenarnya tidak murni.

OpenAI disebut menyiapkan anggaran infrastruktur hingga US$1,4 triliun, sementara berbagai startup AI diperkirakan masih akan merugi dengan total arus kas negatif US$115 miliar hingga 2029.

Sementara itu, lima perusahaan teknologi terbesar, Amazon, Alphabet, Microsoft, Meta, dan Oracle, mengambil utang hingga US$108 miliar pada 2025, jumlah tertinggi dalam sembilan tahun terakhir, untuk membiayai pembangunan data center AI.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...