Komdigi Buka Suara soal Viral Dugaan Starlink Gratis Dipungut Rp 20 Ribu per Jam

Kamila Meilina
3 Desember 2025, 15:54
Starlink, aceh,
Berbagai Sumber
Starlink Segera Hadir di Indonesia
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Viral di media sosial yang menyebutkan bahwa layanan internet Starlink, yang semestinya disediakan gratis di daerah bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, justru dikenakan biaya Rp 20 ribu per jam. Kementerian Komunikasi dan Digital alias Komdigi buka suara terkait hal ini.

Netizen dengan nama akun X @narraesya bercerita temannya di Langsa, Aceh, dikenakan biaya Rp 20 ribu per jam oleh oknum, jika ingin menggunakan layanan internet Starlink. Unggahan itu menandai akun Elon Musk, pemilik SpaceX yang menyediakan Starlink.

“Info dari teman saya di Langsa, Aceh: layanan Starlink yang seharusnya gratis malah disewakan dengan harga Rp 20 ribu per jam. Apa yang harus kami lakukan?” tulis @narraesya, Senin (1/12). Unggahan ini dilihat lebih dari 1,6 juta kali dan dibagikan oleh 9,6 ribu pengguna lainnya per Rabu (3/12).

Sumber yang enggan disebut namanya, yang berada di Langsa, Aceh mengatakan bahwa oknum mengenakan biaya Rp 10 ribu per ponsel, jika ingin menggunakan layanan internet Starlink. “Ini di warung kopi pribadi,” kata dia kepada Katadata.co.id, Rabu (3/12).

Katadata.co.id beberapa kali mengonfirmasi kabar itu kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNBP. Namun instansi belum mau berkomentar.

Begitu juga dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Aceh.

Kementerian Komdigi menegaskan layanan Starlink yang termasuk dalam bantuan pemerintah untuk korban bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat tidak dibebankan biaya kepada masyarakat alias gratis.

Komdigi menyatakan telah menyalurkan 32 unit perangkat Starlink untuk mendukung pemulihan layanan komunikasi di daerah yang mengalami kerusakan infrastruktur akibat bencana. Perangkat ini diberikan sebagai hibah kepada BPBD Sumbar dan sepenuhnya dapat digunakan masyarakat tanpa dipungut biaya.

Kepala Balai Monitor Kelas II Padang Kementerian Komdigi M. Helmi menegaskan bahwa tidak ada pungutan apa pun yang dikenakan terhadap masyarakat terkena dampak bencana.

“Komdigi tidak memungut biaya untuk penggunaan Starlink ini oleh masyarakat terdampak bencana. Setelah masa tanggap darurat berakhir, kebijakan penggunaan akan disesuaikan, termasuk kemungkinan pemanfaatan komersial,” ujarnya dalam konferensi pers di Media Center Penanggulangan Bencana Sumbar, Rabu (3/12), dikutip dari siaran pers.

Helmi menambahkan bahwa jumlah perangkat Starlink yang disalurkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan, berdasarkan permintaan dari wilayah terdampak.

Setiap unit Starlink yang dipasang memiliki jangkauan 500 meter hingga satu kilometer, dan mampu melayani hingga 60 pengguna secara bersamaan. Kapasitasnya masih bisa ditingkatkan dengan penambahan perangkat hotspot lain sebagai pendukung.

Perangkat Starlink mampu menghasilkan kecepatan internet hingga 300 Mbps, sehingga sangat efektif sebagai jaringan komunikasi darurat di wilayah yang mengalami kerusakan atau lumpuhnya infrastruktur telekomunikasi.

Menurut Helmi, Starlink digunakan sebagai jaringan pengganti sementara (backup) saat Base Transceiver Station (BTS) mengalami gangguan akibat listrik padam, transmisi terputus, atau kerusakan fisik infrastruktur.

Selain itu, Starlink membuka akses komunikasi di daerah blankspot, sehingga mempercepat pemulihan jaringan. “Akses komunikasi melalui satelit tidak bergantung pada kondisi infrastruktur darat, sehingga membantu percepatan pemulihan jaringan di daerah terkena dampak,” ujarnya.

Selain itu, Starlink sudah menegaskan bahwa layanan internet gratis bagi pelanggan baru maupun lama yang tinggal di wilayah banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kebijakan ini juga disampaikan melalui akun resmi Starlink di X pada Sabtu (29/11).

“Bagi mereka yang terdampak banjir parah di Indonesia, Starlink menyediakan layanan gratis untuk pelanggan baru dan lama hingga akhir Desember,” tulis akun @Starlink.

Dalam penjelasan rinci, Starlink menyebut beberapa kategori penerima layanan gratis:

  • Pelanggan aktif: otomatis mendapatkan paket gratis hingga 31 Desember 2025.
  • Pelanggan yang ditangguhkan/dijeda: dapat mengaktifkan kembali dan menggunakan layanan tanpa biaya.
  • Pelanggan baru di wilayah terdampak: bisa membuat tiket dukungan dengan mencantumkan “Indonesia Flood Support” untuk mengakses layanan secara gratis.

Starlink juga bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk merelokasi terminal dan memulihkan konektivitas internet di daerah bencana.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...