Goldmans Sachs Naikkan Proyeksi Harga Emas 2026 Buntut Ketidakpastian Global
Goldman Sachs memproyeksikan harga emas akhir pada akhir 2026 tembus ke level US$ 5.400 per ons troi atau setara Rp 91,27 juta (kurs JISDOR Rp 16.902 per dolar AS). Level ini naik dari level sebelumnya U$4.900 per ons troi atau setara Rp 182,82 juta.
Logam safe haven ini telah naik lebih dari 11% pada 2026. Level harga emas ini memperpanjang reli luar biasa yang membuatnya melonjak 64% pada tahun lalu.
Goldman Sachs menilai kenaikan harga emas ini karena gejolak ekonomi global yang mempengaruhi keputusan investasi. “Kami memperkirakan pembeli diversifikasi dari sektor swasta yang membeli emas, berfungsi sebagai lindung nilai terhadap risiko kebijakan global dan telah mendorong kenaikan prediksi harga kami,” tulis Goldman Sachs dikutip dari Reuters, Kamis (22/1).
Tak hanya itu, kepemilikan emas mereka sepanjang 2026 juga diprediksi tidak akan dilepas atau dijual. Hal ini secara efektif membuat Goldman Sachs menaikan proyeksi harga emas pada tahun ini.
Perusahaan juga memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral akan rata-rata mencapai 60 ton pada 2026. Hal ini dikarenakan bank sentral di negara berkembang kemungkinan akan terus melakukan diversifikasi cadangan emas.
Namun, penurunan risiko terkait arah kebijakan moneter global dalam jangka panjang bisa menekan harga emas. Hal ini bisa terjadi jika memicu likuidasi lindung nilai makro.
Commerzbank juga pada pekan lalu menaikkan perkiraan harga emasnya menjadi $4.900 per ons troi atau setara Rp 182,82 juta pada akhir tahun ini. Hal ini karena meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
