BMKG Bantah Isu Modifikasi Cuaca Bisa Pindahkan Hujan dan Buat Cuaca Tak Stabil

Desy Setyowati
29 Januari 2026, 13:09
modifikasi cuaca, bmkg,
ANTARA FOTO/Aji Styawan/rwa.
Pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNM BNPB yang melaksanakan misi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Jawa Tengah lepas landas dari Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (2/11/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

BMKG atau Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika membantah isu yang beredar di media sosial bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mengubah pola hujan, atau bahkan memindahkan hujan ke tempat lain.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto membantah bahwa Operasi Modifikasi Cuaca berisiko menjadi bom waktu, karena dianggap dapat membuat cuaca tidak stabil, memicu fenomena kolam dingin atau cold pool, memindahkan hujan ke wilayah lain, hingga menimbulkan rasa aman palsu bagi masyarakat.

Dikutip dari laman resmi PMEL, cold pool terjadi ketika massa udara dingin di atas lautan tropis menghasilkan perubahan besar pada suhu udara dan kecepatan angin. Cold pool adalah kantong udara yang lebih dingin daripada lingkungan sekitarnya yang terbentuk ketika hujan menguap di bawah badai petir.

Massa udara yang relatif padat dengan diameter antara 10 hingga 200 kilometer, bergerak turun karena berat. Saat menghantam permukaan laut, udara itu menyebar ke samping, membentuk front suhu atau batas udara dingin dan hangat, serta angin kencang yang bisa mengubah cuaca di sekitarnya.

Tri menjelaskan bahwa cold pool merupakan fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami dan selalu terbentuk setiap kali terjadi hujan, baik secara alami maupun melalui Operasi Modifikasi Cuaca.

Fenomena cold pool terjadi akibat penguapan air hujan di bawah awan badai yang mendinginkan udara dan menciptakan massa udara padat yang turun ke permukaan.

Menurut dia, mengaitkan cold pool sebagai dampak berbahaya dari Operasi Modifikasi Cuaca merupakan kekeliruan secara ilmiah. Sebab, OMC dengan teknik penyemaian awan tidak menumbuhkan awan baru, melainkan hanya memicu proses alami pada awan yang sudah terbentuk dan jenuh secara alami.

BMKG menegaskan tujuan Operasi Modifikasi Cuaca murni untuk mitigasi bencana, yakni menambah atau mengurangi curah hujan sesuai kebutuhan pengendalian risiko, bukan memicu ketidakstabilan cuaca.

"Secara skala energi, teknologi manusia saat ini juga tidak mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar seperti yang dikhawatirkan," kata Seto dalam keterangan pers, dikutip dari Antara, Kamis (29/1).

Terkait anggapan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca memindahkan hujan ke wilayah lain, Tri menjelaskan ada dua metode yang digunakan. Pertama, jumping process method dengan menyemai awan di laut agar hujan jatuh sebelum mencapai daratan.

Kedua, competition method untuk meluruhkan intensitas awan yang tumbuh di daratan agar tidak berkembang menjadi awan hujan ekstrem.

Tri menambahkan terjadinya banjir sangat dipengaruhi oleh kemampuan lingkungan dalam merespons curah hujan. Dalam hal ini dicontohkan hilangnya sekitar 800 situ/danau resapan di wilayah Jabodetabek sejak 1930-an menjadi salah satu faktor utama berkurangnya daerah resapan air.

BMKG menekankan bahwa penataan lingkungan tetap menjadi langkah utama dalam penanganan banjir, namun harus berjalan paralel dengan upaya pengendalian curah hujan seperti Operasi Modifikasi Cuaca.

Menurut Seto, penguatan kapasitas modifikasi cuaca dan perbaikan tata lingkungan perlu terus dilakukan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian nyata.

Pemprov Jakarta Gelar Modifikasi Cuaca dengan Semai 3,2 Ton NaCl

Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Provinsi DKI Jakarta melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca dengan menyemai 3,2 ton natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) di langit sekitar Jakarta.

"Pada hari ke-12, kami melaksanakan empat kali sorti penerbangan sebagai upaya menekan curah hujan tinggi," kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta Isnawa Adji di Jakarta, Selasa (27/1).

Menurut dia, pada sorti pertama dilaksanakan pada Selasa (27/1) pagi hari dengan penyemaian awan dilakukan di wilayah overhead perairan utara Jakarta pada ketinggian 8.000-12.000 kaki. Pada sorti ini digunakan bahan semai berupa NaCl sebanyak 800 kilogram.

Pada sorti kedua dilaksanakan pada hari yang sama dengan fokus penyemaian awan di wilayah overhead Jakarta Selatan. Proses penyemaian dilakukan pada ketinggian 6.000 kaki dengan target awan stratocumulus.

"Awan target memiliki base 3.000 kaki dan top 5.000 kaki, dengan arah angin dominan dari barat laut berkecepatan 12 knot," ujar Isnawa.

Pada sorti ini digunakan bahan semai CaO sebanyak 800 kilogram.

"Sementara itu, sorti ketiga dilaksanakan pada siang hari dengan area semai di wilayah overhead Bekasi dan 800 kg CaO disemai," ujarnya.

Pada sore hari, sorti keempat kembali dilaksanakan dengan area penyemaian awan di wilayah overhead Kabupaten Bogor, penyemaian dilakukan pada ketinggian 5.000-7.000 kaki, dengan area semai pada radial 150-210 derajat dan menggunakan CaO sebanyak 800 kilogram.

Isnawa juga menyampaikan bahwa pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca hari ke-12 merupakan langkah antisipatif untuk mengendalikan potensi curah hujan tinggi yang dapat berdampak pada wilayah DKI Jakarta.

"Seluruh pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca dilakukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer dan pemantauan cuaca secara intensif, sehingga penyemaian awan dapat diarahkan ke wilayah yang lebih aman," ujar Isnawa.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...