Meta Kalah Dalam 2 Gugatan di AS, Desain Platform Dinilai Bikin Kecanduan Remaja

Rahayu Subekti
1 April 2026, 09:45
meta, remaja,
Katadata/AI
Ilustrasi Meta dan YouTube.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Raksasa teknologi Meta menghadapi pukulan hukum beruntun setelah kalah dalam dua kasus pengadilan di Amerika Serikat yang menyoroti dampak negatif platformnya terhadap remaja.

Putusan ini artinya untuk pertama kalinya Meta dinyatakan bertanggung jawab bukan atas konten pengguna, melainkan desain produknya yang dinilai mendorong kecanduan dan membahayakan remaja.

Mengutip TechCrunch, Selasa (31/3), kekalahan pertama terjadi dalam gugatan yang diajukan negara bagian Amerika Serikat yakni New Mexico. Pengadilan menyatakan Meta melanggar Undang-undang Praktik Tidak Adil setelah persidangan selama enam minggu dan menjatuhkan denda hingga total US$ 375 juta atau setara Rp 6,37 triliun (kurs Rp 16.999 per dolar AS).

Sehari berselang, Meta kembali kalah dalam kasus terpisah di Los Angeles. Dalam putusan, Meta dinilai bertanggung jawab 70% atas kerugian psikologis seorang pemuda berusia 20 tahun dengan inisial KGM, sementara YouTube menanggung 30%. Total ganti rugi dalam kasus ini mencapai US$ 6 juta atau sekitar Rp 101,9 miliar.

Berbeda dari perkara media sosial sebelumnya, kedua kasus ini tidak berfokus pada konten yang diunggah pengguna. Pengadilan justru menyoroti fitur desain seperti infinite scroll dan notifikasi tanpa henti yang dianggap mendorong penggunaan berlebihan, khususnya di kalangan remaja.

Pendekatan ini disebut mirip dengan strategi hukum yang dulu digunakan terhadap industri tembakau dengan menyerang desain produk yang bersifat adiktif.

“Mereka berfokus pada fitur-fitur yang membuat ketagihan ini. Ternyata, setidaknya dalam dua kasus ini, itu adalah argumen yang menang,” kata pengacara media digital dan mitra di Davis+Gilbert Allison Fitzpatrick kepada TechCrunch.

Putusan tersebut membuka jalan bagi gelombang gugatan serupa. Saat ini, ribuan kasus masih menunggu proses hukum, sementara puluhan jaksa negara bagian di AS telah mengajukan gugatan terhadap Meta dengan tuduhan sejenis.

Meski kalah dalam dua persidangan ini, Meta menyatakan tidak sependapat dengan hasil putusan. “Kami dengan hormat tidak setuju dengan putusan ini dan akan mengajukan banding,” kata juru bicara Meta kepada TechCrunch.

Meta menganggap, mereduksi sesuatu yang kompleks seperti kesehatan mental remaja menjadi satu penyebab tunggal sangat berisiko. Sebab hal ini mengabaikan banyak masalah yang lebih luas yang dihadapi remaja saat ini.

“Ini mengabaikan fakta bahwa banyak remaja bergantung pada komunitas digital untuk terhubung dan menemukan rasa memiliki.” Kata Juru Bicara Meta.

Selama persidangan, sejumlah dokumen internal perusahaan terungkap dan memperkuat tuduhan. Salah satunya menunjukkan hasil studi pada 2019 yang menyimpulkan bahwa dampak Facebook terhadap kesejahteraan pengguna cenderung negatif.

Dokumen lain juga mengindikasikan upaya perusahaan untuk meningkatkan waktu penggunaan remaja, termasuk mendorong keterlibatan bahkan saat jam sekolah.

Pernyataan dari CEO Mark Zuckerberg dan Kepala Instagram Adam Mosseri turut disorot karena menekankan pentingnya meningkatkan keterlibatan pengguna muda. Dalam salah satu dokumen, mereka menyiapkan strategi agar fitur tertentu tetap menarik bagi remaja tanpa menarik perhatian orang tua atau guru.

Dalam dokumen lain, karyawan Meta bahkan berbicara santai tentang tujuan perusahaan untuk meningkatkan retensi pengguna remaja. “Kami mengetahui salah satu hal yang perlu kami optimalkan adalah mengintip ponsel Anda di tengah pelajaran Kimia,” tulis seorang karyawan dalam email kepada CPO Meta, Chris Cox.

Meta Klaim Telah Hadirkan Fitur Perlindungan

Meski dokumen itu mencuat, Meta menegaskan telah menghadirkan berbagai fitur perlindungan, termasuk pengaturan akun privat dan pengingat waktu penggunaan pada Instagram.

Di sisi lain, Direktur Pemasaran Produk Meta periode 2009-2024, Kelly Stonelake saat ini juga menggugat Meta. Gugatan ini diajukan atas dugaan diskriminasi dan pelecehan berbasis gender.

Stonelake tidak terkejut dengan kekalahan Meta dalam dua persidangan itu. “Banyaknya bukti yang terungkap benar-benar menunjukkan apa yang saya alami sendiri,” kata Stonelake kepada TechCrunch.

Di Meta, Stonelake memimpin strategi “go-to-market” untuk aplikasi sosial VR Horizon Worlds saat diluncurkan untuk remaja. Ia mengklaim telah menyampaikan kekhawatiran tentang kurangnya alat moderasi konten yang efektif di metaverse, tetapi keberatannya tidak ditanggapi dengan serius.

Dengan tekanan hukum yang meningkat dan potensi denda yang bisa membengkak dari ribuan gugatan serupa, Meta kini menghadapi tantangan besar. Bukan hanya soal reputasi, tetapi juga model bisnis yang selama ini bertumpu pada keterlibatan pengguna, termasuk dari kelompok usia paling rentan.

Pengungkapan kasus di dua persidangan ini juga memperkuat kekhawatiran lama tentang dampak media sosial terhadap anak muda. Isu ini sebelumnya juga mencuat setelah kebocoran dokumen oleh whistleblower Frances Haugen pada 2021 yang menunjukkan bahwa Meta mengetahui potensi bahaya platformnya bagi remaja, terutama perempuan.

“Tidak ada kemungkinan bahwa pengesahan undang-undang sensor atau verifikasi usia, dengan dalih keamanan anak-anak, tidak akan menyebabkan sensor daring besar-besaran terhadap konten,” kata direktur Fight for the Future, Evan Greer, dalam sebuah pernyataan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...