Harga Saham Induk Google hingga Meta Melonjak Usai Gencatan AS-Iran

Rahayu Subekti
9 April 2026, 09:03
Arnd Wiegmann/File Photo BERKAS FOTO: Seorang pria berjalan melewati logo Google di depan gedung perkantoran di Zurich, Swiss, Rabu (1/7/2021).
ANTARA FOTO/REUTERS/Arnd Wiegmann/File Photo/AWW/sa.
Arnd Wiegmann/File Photo BERKAS FOTO: Seorang pria berjalan melewati logo Google di depan gedung perkantoran di Zurich, Swiss, Rabu (1/7/2021).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saham-saham teknologi Amerika Serikat kembali bergairah setelah Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Sentimen positif ini langsung mendorong reli di pasar saham, terutama pada raksasa teknologi yang sebelumnya tertekan sejak awal tahun.

Perusahaan induk Google, Alphabet Inc, bersama Meta Platforms, Amazon, dan Nvidia memimpin penguatan di tujuh perusahaan teknologi terkemuka. Mengutip CNBC global, Rabu (9/4), saham Meta bahkan melonjak lebih tinggi setelah perusahaan tersebut merilis model kecerdasan buatan atau AI terbarunya, Muse Spark.

Tidak hanya raksasa teknologi, sektor semikonduktor juga ikut meroket. Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company naik sekitar 6%. Sementara ASML dan Applied Materials masing-masing melonjak sekitar 9%. Penguatan juga terlihat pada Micron Technology yang naik hampir 8%.

Kenaikan signifikan turut terjadi pada sejumlah saham chip dan penyimpanan data lainnya. Western Digital melesat hampir 9%, Lam Research naik hampir 10%, dan Intel mencatat lonjakan hingga 11%.

Reli ini terjadi setelah Trump mencabut ancaman eskalasi konflik pada Selasa (7/4) wkatus etempat. Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menghentikan pertempuran, menyusul proposal dari Iran untuk melanjutkan negosiasi.

Meski begitu, situasi di kawasan belum sepenuhnya stabil. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih belum pulih, bahkan infrastruktur energi seperti pipa minyak di Arab Saudi dilaporkan sempat terkena serangan drone.

Penguatan saham teknologi ini menjadi angin segar setelah sektor tersebut mengalami tekanan berat sepanjang awal 2026. Kekhawatiran terhadap konflik Iran sempat memicu aksi jual besar-besaran di pasar, yang menghantam saham teknologi secara signifikan.

Selain faktor geopolitik, tekanan juga datang dari kekhawatiran investor terhadap dampak AI terhadap model bisnis perusahaan perangkat lunak. Banyak pihak mempertanyakan kapan investasi besar-besaran di bidang AI akan mulai menghasilkan keuntungan nyata.

Salah satu yang paling terdampak adalah Microsoft. Saham perusahaan ini anjlok hingga 23% pada kuartal I 2026. Angka ini lebih dalam dibandingkan penurunan indeks Nasdaq Composite yang turun sekitar 7% pada periode yang sama.

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...