Meta Kenalkan Model AI Baru, Ingin Saingi OpenAI ChatGPT dan Google Gemini

Rahayu Subekti
9 April 2026, 11:21
Mark Zuckerberg, Meta, Muse Sparks
Instagram/zuck
Mark Zuckerberg, CEO Meta
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Meta resmi meluncurkan model kecerdasan buatan atau AI terbaru bernama Muse Spark sebagai upaya serius mengejar dominasi pasar yang saat ini dipimpin oleh OpenAI dan Google lewat produk seperti ChatGPT dan Gemini.

Muse Spark merupakan model pertama dari lini Muse yang dikembangkan oleh Meta Superintelligence Labs, unit AI yang dipimpin oleh Alexandr Wang, yang direkrut Meta melalui investasi besar senilai US$ 14,3 miliar atau setara Rp 243,23 triliun (kurs Rp 17.009 per dolar AS) di Scale AI.

Meta mengakui telah merombak total strategi pengembangan AI mereka selama sembilan bulan terakhir. Langkah ini diambil setelah peluncuran model open-source sebelumnya tidak mendapat respons positif dari pengembang.

CEO Meta, Mark Zuckerberg, mengubah strateginya dengan fokus pada model AI yang lebih efisien namun tetap mampu menangani tugas kompleks seperti sains, matematika, dan kesehatan.

“Selama sembilan bulan terakhir, Meta Superintelligence Labs membangun kembali tumpukan AI kami dari awal, bergerak lebih cepat daripada siklus pengembangan apa pun yang pernah kami jalankan sebelumnya,” kata Meta dalam situs blog resminya dikutip dari CNBC global, Rabu (8/4).

Muse Spark tidak diposisikan sebagai model flagship, melainkan sebagai model ringan yang mengedepankan kecepatan dan efisiensi, namun tetap kompetitif dalam berbagai tugas seperti penalaran dan pemrosesan multimodal.

Kejar Ketertinggalan di Pasar AI

Persaingan di industri AI semakin ketat. Selain OpenAI, pemain besar lain seperti Anthropic dan Google telah melaju pesat,dengan valuasi gabungan industri yang kini menembus lebih dari US$ 1 triliun atau Rp 17.009 triliun.

Di sisi lain, pasar AI generatif global diprediksi tumbuh sangat cepat lebih dari 40% per tahun. Pasar ini tumbuh dari sekitar US$ 22 miliar atau Ro 274,2 triliun pada 2025 menjadi hampir US$ 325 miliar  atau Rp 5.527,9 triliun pada 2033.

Untuk mengejar ketertinggalan, Meta juga meningkatkan belanja modal secara agresif. Pada 2026, perusahaan mengalokasikan dana hingga US$ 115 miliar hingga US$ 135 miliar atau setara Rp 1,96 kuadriliun hingga Rp 2,30 kaudiliun untuk infrastruktur AI, hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

Fokus Efisiensi dan Teknologi Baru

Dalam pengembangannya, Meta mengklaim Muse Spark mampu menyaingi performa model lama seperti Llama 4 dengan kebutuhan komputasi yang jauh lebih rendah. Ini dimungkinkan berkat peningkatan teknik pelatihan AI dan pembaruan infrastruktur teknologi.

"Muse Spark menawarkan kinerja yang kompetitif dalam persepsi multimodal, penalaran, kesehatan, dan tugas-tugas keagenan," tulis pernyataan Meta dalam postingan tersebut.

Namun, Meta mengakui masih perlu meningkatkan kemampuan pada sistem agen jangka panjang dan workflow pengkodean.

Meta juga mulai membuka peluang bisnis baru dari Muse Spark. Perusahaan kini menguji akses API terbatas kepada mitra tertentu. Hal ini dengan rencana menghadirkan layanan berbayar bagi pengembang di masa depan.

Langkah ini mengikuti strategi monetisasi yang telah lebih dulu dijalankan oleh OpenAI dan Google.

Integrasi ke Ekosistem Meta

Muse Spark akan langsung terintegrasi ke berbagai platform milik Meta, termasuk:

  • Facebook
  • Instagram
  • WhatsApp
  • Messenger
  • Kacamata pintar Ray-Ban Meta AI

Model ini juga akan memperkuat layanan Meta AI, termasuk fitur:

  • Mode cepat untuk pertanyaan sederhana
  • Mode analisis untuk tugas kompleks seperti dokumen hukum
  • Mode perenungan untuk penalaran tingkat tinggi berbasis multi-agent

Mode lanjutan ini dirancang untuk menyaingi kemampuan reasoning canggih seperti yang dimiliki Gemini Deep Think dan GPT Pro.

Selain itu, Meta juga menghadirkan fitur baru seperti Mode Belanja yang memungkinkan pengguna mencari inspirasi gaya, membeli pakaian, hingga mendekorasi ruangan berbasis rekomendasi AI.

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...