Danantara Genjot Adopsi AI untuk Perkuat Daya Saing BUMN
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menegaskan komitmennya untuk menjadikan teknologi sebagai pilar utama transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Tidak sekadar mengejar profitabilitas, Danantara kini memprioritaskan adopsi teknologi maju, khususnya kecerdasan buatan (AI) dan machine learning untuk memperkuat daya saing ekosistem pelat merah di kancah global.
Managing Director Strategic Technology Initiatives BPI Danantara Ricardo Irwan Rei mengungkapkan bahwa mandat Danantara melampaui sekadar pengelolaan aset. Menurutnya, setiap investasi yang dikucurkan harus mampu menghasilkan dampak sosial-ekonomi yang signifikan melalui transformasi teknologi.
“Dari sisi teknologi inovasi, tentu kami berfokus pada teknologi yang strategis. Jadi AI, bioengineering, apa pun ya yang memang memiliki impact yang besar,” kata Irwan dalam acara Innovation Data Economy (IDE) Katadata Future Forum 2026 di Jakarta, Rabu (15/4).
Ia mengatakan Danantara selalu memperhatikan machine learning, advanced tech, dan sebagainya jika berkaitan dengan pemanfaatan AI. Begitu juga dengan percepatan adopsi teknologi baru hingga layak untuk dikomersialisasikan.
“Ini bagaimana kami memperkuat kolaborasi dengan institusi riset dan sebagainya. Bagaimana caranya teknologi itu bisa kami adopsi untuk penguatan kinerja BUMN?” ujarnya.
Danantara juga memperhatikan bagaimana proses transformasi yang ada bisa menciptakan lapangan kerja sekaligus knowledge transfer. Ia menegaskan, setiap proyek dirancang untuk memberdayakan ekonomi sekitar serta meningkatkan kapasitas dan daya saing nasional.
Namun ia mengatakan semua transformasi digital itu membutuhkan waktu. “Ini marathon, nggak bisa besok. Jadi ini strategi jangka panjang. Ya walaupun harapan kami, kalau bisa tercapainya kondisi ideal itu sesegera mungkin,” kata Irwan.
Danantara juga memiliki pimpinan yang khusus menangani technology office untuk memperkuat kapabilitas dan kinerja ekosistem BUMN. Posisi ini dibentuk agar Danantara tidak hanya menghasilkan kinerja namun juga kapabilitasnya.
“Ini guna menjunjung impact atau outcome yang diharapkan itu adalah pertumbuhan ekonomi serta menguatkan daya saing Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, kunci utamanya adalah berkelanjutan. Hal ini dilakukan melalui penguatan inovasi dan adopsi teknologi maju mulai dari AI, bioengineering, satelit, laser, dan lainnya yang diharapkan bisa membantu meningkatkan daya saing.
Danantara tengah mengawal proyek hilirisasi lintas sektor dengan nilai investasi total mencapai US$ 27 miliar atau setara Rp 462,64 triliun (kurs Rp 17.135 per dolar AS). Proyek hilirisasi ini ada di sektor mineral, energi, dan pangan.
Iwan mengatakan nantinya juga akan dilanjutkan juga dengan 14 proyek lain. “Ini total investasinya sekitar US$ 19 miliar (Rp 325,56 triliun). Semuanya (penggunaan teknologi) tentu kembali untuk mencapai tujuan itu,” kata Irwan.
