DBS Foundation dan Dicoding Bekali Siswa SMK dengan Keterampilan AI

Rahayu Subekti
29 April 2026, 06:16
AI
Katadata/Rahayu Subekti
Head of Group Marketing and Communication Bank DBS Indonesia Mona Monika saat memberikan sambutan dalam acara Camp Workshop di SMk Wikrama Bogor, Selasa (28/4).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kebutuhan keterampilan kecerdasan buatan atau AI di dunia kerja saat ini makin meningkat. Menjawab tantangan tersebut, DBS Foundation bersama Dicoding menyelenggarakan Coding Camp Workshop di SMK Wikrama Bogor.

“Inisiatif ini merupakan sebuah pelatihan luring yang dirancang untuk membekali siswa SMK dengan kompetensi teknologi AI, literasi keuangan, dan soft skill demi kesiapan karier,” kata Head of Group Marketing and Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, di SMK Wikrama Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/4).

Workshop itu menjadi bagian dari Program Coding Camp powered by DBS Foundation yang sudah dilakukan sejak 2023. DBS Foundation berkomitmen memperluas akses pendidikan dan kesiapan kerja bagi kaum muda secara inklusif.

Hingga kini, Coding Camp powered by DBS Foundation telah melatih dan menjangkau sebanyak 227 ribu peserta. Termasuk lebih dari 15 ribu siswa dari 1.500 SMK di seluruh Indonesia. SMK Wikrama Bogor menjadi salah satu kontributor peserta terbesar.

Pada periode 2025-2026, sekolah itu mengirimkan 155 siswa. Angka ini menunjukan sekitar 13% dari total 1.200 peserta SMK dalam program intensif Coding Camp.

Mona menuturkan, pihaknya berkomitmen untuk membekali kaum muda khususnya para pelajar vokasi dengan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja saat ini dan di masa depan, khususnya di era AI ini. "Sehingga mereka memiliki peluang dan kesempatan untuk maju dan berkembang. Hal ini selaras dengan misi DBS Foundation untuk mendorong inklusi keuangan dan digital,” ujarnya.

CEO Dicoding Narenda Wicaksono mengatakan, program pembekalan itu digelar juga untuk memastikan siswa bisa memiliki kapabilitas untuk menggunakan AI. Karenanya, dia menilai pembekalan keterampilan AI itu penting.

“Kalau mereka enggak punya kapabilitas untuk pakai AI, mereka akan ketinggalan,” kata Narenda.

Ia menambahkan, pada era saat ini, pada dasarnya AI tidak akan pernah menggantikan pekerjaan manusia. Namun justru manusia yang tidak bisa memanfaatkan AI akan digantikan oleh manusia yang bisa memanfaatkan AI itu sendiri.

“Itu jadi PR kita bersama memang untuk memastikan bahwa kapabilitas itu kita equip di semuanya. Ini sama kayak tadi saya bilang soal soft skill, di soft skill itu udah jelas 53% itu jadi entry point untuk seseorang bisa di-accept oleh industri,” ujarnya.

Urgensi Keterampilan AI

Transformasi teknologi berbasis AI semakin mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja global, termasuk di Indonesia. Literasi AI kini tidak lagi menjadi keterampilan tambahan, melainkan kompetensi dasar yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja digital.

Data Indonesian Developer Outlook 2026 menunjukkan, sebanyak 86% developer Indonesia telah menggunakan AI dalam pekerjaan mereka. Ini menandakan perubahan signifikan dalam standar keterampilan industri teknologi.

Perubahan ini turut berdampak pada pendidikan vokasi. Lulusan SMK tidak hanya dituntut menguasai kemampuan teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan teknologi baru, berpikir kritis, berkolaborasi lintas disiplin, serta memahami cara memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi di tempat kerja.

Kebutuhan tersebut mendorong pentingnya kurikulum vokasi yang lebih adaptif terhadap perkembangan industri. Khsusunya dengan pendekatan pembelajaran berbasis praktik nyata dan pengalaman langsung menggunakan teknologi terkini. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...