Hanya 11% Perusahaan RI Siap Hadapi Ancaman Siber Modern, Ini Peringatan Indosat
Percepatan transformasi digital di Indonesia dinilai belum diimbangi dengan kesiapan perusahaan dalam menghadapi ancaman keamanan siber modern. Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) mengungkapkan, saat ini hanya 11% organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi risiko siber yang semakin kompleks.
Temuan tersebut merujuk pada Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 yang turut diangkat dalam whitepaper terbaru Indosat Business bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience. Whitepaper ini disusun bersama pakar keamanan siber Dr Ir Charles Lim.
Director and Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Buldansyah mengatakan, Indonesia tengah memasuki fase baru ekonomi digital dengan proyeksi nilai mencapai US$ 340 miliar pada 2030. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, ancaman siber berkembang semakin cepat seiring adopsi teknologi seperti AI, cloud, internet of things (IoT), hingga fintech.
“Indonesia sedang memasuki fase baru ekonomi digital, namun pertumbuhan digital juga harus diiringi dengan ketahanan siber yang memadai. Hari ini, cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, tetapi fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” ujar Buldansyah dalam pernyataan tertulisnya, Senin (11/5).
Menurutnya, kebutuhan enterprise kini tidak lagi sebatas konektivitas dan teknologi. Tetapi juga kemampuan membangun sistem ketahanan siber yang adaptif dan terintegrasi menghadapi ancaman modern.
“Karena itu, kami bekerja sama dengan Charles Lim yang memiliki pengalaman panjang dan pemahaman mendalam di bidang cybersecurity untuk menghadirkan perspektif yang lebih komprehensif mengenai tantangan dan kesiapan cyber resilience di Indonesia,” ujarnya.
Dalam whitepaper tersebut, Indosat menyoroti fenomena resilience gap yakni kondisi ketika laju transformasi digital berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan kesiapan organisasi membangun ketahanan siber.
Ancaman siber juga dinilai semakin sulit dideteksi dengan munculnya berbagai modus baru berbasis kecerdasan buatan atau AI. Charles Lim mengatakan, penggunaan AI kini mulai dimanfaatkan untuk penipuan identitas melalui teknologi deepfake maupun AI voice impersonation.
“Ancaman siber berkembang jauh lebih cepat dan semakin sulit dideteksi, terutama dengan munculnya AI-enabled fraud dan deepfake. Organisasi perlu beralih dari pendekatan yang reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” ujar Charles.
Whitepaper tersebut mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550% di sektor fintech Indonesia. Risiko tersebut juga berdampak pada potensi kerugian perusahaan akibat kebocoran data yang rata-rata dapat mencapai sekitar Rp 15 miliar.
Selain itu, implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) turut mendorong perusahaan memperkuat kemampuan monitoring dan respons keamanan siber secara real-time. Termasuk memenuhi kewajiban pelaporan insiden dalam waktu 72 jam.
Indosat Business juga menilai tantangan keamanan siber kini semakin besar di berbagai sektor strategis, mulai dari finansial, manufaktur, pemerintahan, hingga pendidikan yang semakin agresif melakukan digitalisasi.
Melalui whitepaper tersebut, Indosat berharap perusahaan di Indonesia mulai menempatkan ketahanan siber sebagai bagian penting dari strategi transformasi digital dan daya saing bisnis jangka panjang di era AI. Indosat Business terus memperkuat peran dalam membantu perusahaan membangun fondasi digital yang lebih aman, adaptif, dan terpercaya di era AI dan ekonomi digital.
