STT GDC Bangun Pusat Data AI 360 MW, Siap Dukung Platform NVIDIA Vera Rubin

Rahayu Subekti
10 Juni 2026, 17:51
STT GDC, data center, pusat data
Katadata/Rahayu Subekti
Peresmian topping off pusat data STT Jakarta 3 milik ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC) di Cikarang, Jawa Barat, pada Rabu (10/6).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

ST Telemedia Global Data Centres atau STT GDC mempercepat pengembangan kampus pusat data di Jakarta dengan menyiapkan kapasitas infrastruktur siap kecerdasan buatan (AI) lebih dari 360 megawatt (MW). Fasilitas ini juga dirancang untuk mendukung platform AI generasi terbaru NVIDIA Vera Rubin dan Vera Rubin Ultra guna mengakomodasi lonjakan kebutuhan komputasi berkinerja tinggi di Indonesia.

Ekspansi tersebut ditandai dengan mulai beroperasinya STT Jakarta 2, penyelesaian pembangunan struktur utama STT Jakarta 3, serta peletakan batu pertama STT Jakarta 5 dan STT Jakarta 6. Seluruh pengembangan ini menjadi bagian dari investasi jangka panjang STT GDC untuk memenuhi kebutuhan komputasi awan, AI, dan infrastruktur digital yang terus berkembang di Tanah Air.

President and Group Chief Executive Officer STT GDC Bruno Lopez mengatakan, Indonesia menjadi salah satu pasar infrastruktur digital paling penting di Asia Tenggara. Hal ini didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap layanan cloud dan AI.

"Ekspansi ini mencerminkan keyakinan kami terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang Indonesia serta komitmen kami untuk menghadirkan skala, keandalan, dan kesiapan yang dibutuhkan guna mendukung fase berikutnya dari perkembangan digital Indonesia," kata Bruno dalam peresmian STT GDC Kampus Data Center di Cikarang, Rabu (10/6). 

Perusahaan menyatakan ruang data di kampus Jakarta dikembangkan untuk mendukung komputasi AI berkepadatan tinggi. Infrastruktur tersebut dirancang agar kompatibel dengan platform NVIDIA Vera Rubin dan Vera Rubin Ultra generasi berikutnya. Selain itu juga siap mengadopsi teknologi pendinginan cair atau liquid cooling yang menjadi kebutuhan penting untuk beban kerja AI berskala besar.

Sebagai mitra kolokasi NVIDIA, STT GDC juga menyelaraskan desain kampus Jakarta dengan kebutuhan infrastruktur graphics processing unit (GPU) generasi terbaru. Hal ini untuk mendukung implementasi AI dalam skala besar di Indonesia.

Selain memperbesar kapasitas komputasi, perusahaan juga memperkuat keandalan infrastruktur energi melalui gardu induk tegangan tinggi yang berada di dalam kawasan kampus. Kehadiran gardu tersebut diklaim meningkatkan keandalan pasokan listrik dan memperpendek jalur distribusi daya menuju sistem teknologi informasi sehingga mampu mendukung kebutuhan pelanggan hyperscale maupun perusahaan dengan kebutuhan komputasi tinggi.

Country Head STT GDC Indonesia Hendrikus Hendra Gozali mengatakan, Indonesia kini memasuki fase baru pertumbuhan digital yang menuntut kesiapan infrastruktur semakin besar. Begitu juga dengan perluasan layanan komputasi awan, dan transformasi digital dunia usaha. 

"Komitmen jangka panjang STT GDC untuk memenuhi kebutuhan tersebut melalui kapasitas berkepadatan tinggi yang dapat mendukung kebutuhan saat ini maupun generasi berikutnya, didukung pasokan listrik tegangan tinggi yang tersedia di lokasi serta operasional dengan emisi karbon netral sejak hari pertama," kata Hendrikus.

Di sisi keberlanjutan, STT GDC juga menerapkan strategi energi terbarukan bersama PLN yang dirancang memungkinkan kampus beroperasi dengan emisi karbon netral sejak hari pertama. Perusahaan juga mengembangkan program penguatan talenta melalui kerja sama dengan institusi pendidikan vokasi unyuk menyiapkan tenaga kerja yang dibutuhkan industri pusat data dan AI di Indonesia.

Dengan ekspansi ini, STT GDC berharap dapat memperkuat fondasi infrastruktur digital nasional sekaligus mendukung Indonesia dalam menghadapi lonjakan kebutuhan komputasi AI, layanan komputasi awan (cloud), dan transformasi digital di berbagai sektor ekonomi.

Pasar Digital RI Tumbuh Cepat

Direktur Promosi Investasi Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi Republik Indonesia/BKPM Saribua Siahaan mengatakan Indonesia aterus memperkuat posisinya sebagai salah satu pasar digital dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara. Hal ini didorong oleh meningkatnya adopsi komputasi awan, pesatnya perkembangan AI, serta meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur digital yang dikelola di dalam negeri. 

Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai US$ 130 miliar atau Rp 2,358,3 triliun (kurs Rp 18.141 per dolar AS) pada 2026. Hal ini dengan AI diposisikan sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan yang meningkatkan produktivitas, inovasi, dan daya saing.

Dengan memperluas infrastruktur berstandar hyperscale yang berlokasi di dalam negeri di wilayah Jabodetabek, Saribua menilai STT GDC membantu memenuhi kebutuhan Indonesia yerkait infrastruktur digital berperforma tinggi. Ini  memungkinkan layanan AI dan berbagai aplikasi digital lainnya berada lebih dekat dengan pengguna, pelaku usaha, dan regulator.

Ekspansi kampus yang dilakukan secara bertahap ini mencerminkan investasi jangka panjang STT GDC. Ini juga sekaligus  menjadi keyakinan perusahaan terhadap prospek pertumbuhan Indonesia sebagai pasar strategis untuk layanan komputasi awan, AI, dan transformasi digital perusahaan.

“Potensi pengembangan pusat data di Indonesia begitu signifikan karena didorong transformasi digital yang pesat serta permintaan akan infrastruktur teknologi informasi yang terus meningkat," ujar Saribua. 

Pertumbuhan pengguna internet, e-commerce, adopsi layanan-layanan berbasis cloud, serta perkembangan AI merupakan faktor-faktor kunci yang meningkatkan permintaan akan pusat data diIndonesia. Selain itu, letak geografis yang strategis di Asia Tenggara, ukuran pasarnya yang besar, dan dukungan pemerintah yang kuat melalui regulasi maupun insentif bagi investor kian meningkatkan nilainya bagi investor domestik maupun mancanegara. 

“Dengan semua faktor ini, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu titik pusat data yang strategis di kawasan Asia Pasifik," katanya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...