AI Makin Canggih, Wamenkomdigi Ingatkan Humas Perkuat Nilai Humanis
Peran manusia dinilai tetap tidak tergantikan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Meski mampu meningkatkan efisiensi pekerjaan komunikasi, AI belum dapat menggantikan ketulusan dan empati yang menjadi fondasi profesi hubungan masyarakat
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan praktisi humas untuk terus memperkuat nilai-nilai humanis agar profesi tersebut tetap relevan di era AI. Teknologi ini kini semakin banyak dimanfaatkan oleh praktisi humas, mulai dari melacak sentimen publik secara real time, menjaga konsistensi desain komunikasi, hingga membantu menghasilkan konten dan storytelling.
Para praktisi humas juga dapat menggunakan pendekatan baru seperti Generative Engine Optimization (GEO), yang memadukan AI, data, dan storytelling untuk meningkatkan visibilitas suatu merek maupun institusi.
"Perkembangan teknologi tak boleh menghilangkan peran manusia dalam proses komunikasi. Adopsi AI perlu dibarengi tata kelola yang baik serta berlandaskan etika," kata Nezar dalam peluncuran Perhumas Indonesia 2026, di Jakarta Pusat, Sabtu (11/7).
Saat ini, menurut dia, sejumlah perusahaan komunikasi mulai memanfaatkan AI agent yang mampu menjalankan fungsi layaknya seorang praktisi humas. Teknologi tersebut dinilai mampu mengolah data dalam jumlah besar, menyusun narasi, hingga menghasilkan materi komunikasi secara cepat dan presisi.
Namun, ia mengingatkan, AI masih memiliki keterbatasan mendasar. "Storytelling yang dibuat AI sampai hari ini masih belum menampilkan sincerity atau ketulusan. Dalam komunikasi, ada unsur ketulusan yang belum bisa digantikan mesin," ujarnya.
Karena itu, Nezar menilai profesi humas harus terus meningkatkan kapasitas agar tidak tergeser oleh perkembangan teknologi. Dia menekankan pentingnya konsep human in the loop atau keterlibatan manusia dalam setiap proses produksi berbasis AI, sehingga hasil komunikasi tetap mengedepankan empati, tanggung jawab, dan nilai kemanusiaan.
Selain itu, Nezar menyoroti semakin kompleksnya tantangan komunikasi akibat maraknya disinformasi dan misinformasi di ruang digital. Kondisi itu membuat peran humas menjadi strategis sebagai penjaga kepercayaan publik.
"Peran humas menjadi sangat penting ketika ruang komunikasi dipenuhi noise, disinformasi, misinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian. Humas harus mampu menciptakan greenhouse of information dan membangun percakapan yang jujur," katanya.
Ia menekankan, Indonesia perlu memanfaatkan AI secara optimal, tetapi tetap mempertahankan prinsip tata kelola, etika, dan pengawasan manusia. Dengan demikian, teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat komunikasi publik tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti profesi humas.
Perhumas Gelar Konferensi, Angkat Tema Penguatan Kepercayaan Era AI
Di tengah tantangan itu, Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Indonesia menggelar rangkaian konferensi Perhumas Indonesia 2026 dengan tema "Humas sebagai Daya Bangsa: Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia". Konferensi yang digelar di Surakarta pada 17--18 Oktober 2026 dan diharapkan menjadi gerakan nasional untuk memperkuat kepercayaan publik di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan AI.
Ketua Umum Perhumas Indonesia Boy Kelana Soebroto menilai, tantangan komunikasi saat ini semakin kompleks. Selain perkembangan AI yang berlangsung sangat cepat, masyarakat juga dihadapkan pada maraknya disinformasi dan perubahan reputasi yang dapat terjadi hanya dalam hitungan menit.
Di tengah kondisi tersebut, menurut dia, tantangan terbesar bukan semata perkembangan teknologi, melainkan krisis kepercayaan yang semakin dirasakan di berbagai sektor.
"Ketika kepercayaan hilang, fakta sering kali tidak lagi cukup. Di sinilah peran humas menjadi semakin strategis. Kami bukan lagi sekadar penyampai informasi, tetapi penjaga kepercayaan," katanya dalam kesempatan yang sama.
Menurut Boy, Indonesia memiliki banyak cerita positif, mulai dari prestasi, inovasi, budaya, hingga talenta anak bangsa. Namun, potensi tersebut membutuhkan komunikasi yang mampu membangun legitimasi, memperkuat kolaborasi, dan menumbuhkan optimisme terhadap masa depan Indonesia.
"Humas memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar mengelola komunikasi. Humas adalah kekuatan yang mampu membangun legitimasi, memperkuat kolaborasi, dan menumbuhkan optimisme tentang masa depan Indonesia," ujarnya.
Konferensi Perhumas Indonesia 2026 mengusung tiga filosofi utama, yakni weave (menenun), bond (mengikat), dan movement (menggerakkan). Filosofi tersebut mencerminkan upaya menyatukan berbagai perspektif dan gagasan, membangun ikatan kepercayaan antarpemangku kepentingan, serta menjadikan kepercayaan sebagai energi untuk mendorong kolaborasi dan kemajuan.
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, konferensi tahun ini dikemas sebagai Festival of Trust and Influence. Perhumas ingin menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, media, komunitas, akademisi, dan generasi muda untuk berbagi pengalaman, praktik terbaik, hingga tantangan dalam membangun komunikasi publik.
Seluruh pembahasan dalam konferensi akan dibagi ke dalam empat tema utama, yakni Trust in Crisis, Trust in Power, Trust in Technology, dan Trust in Culture. Keempat tema tersebut akan menjadi benang merah dalam berbagai diskusi sepanjang rangkaian kegiatan.
