Bos Nvidia Jensen Huang: Jangan Takut AI, Manusia yang Harus Beradaptasi

Rahayu Subekti
13 Juli 2026, 15:41
ceo nvidia jensen huang,
Fauza Syahputra|Katadata
Founder & CEO NVIDIA, Jensen Huang menyampaikan paparan pada acara Indonesia AI Day di The Tribrata Hotel and Convention Center Darmawangsa, Jakarta, Kamis (14/11/2024).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

CEO Nvidia Jensen Huang menilai kecerdasan buatan (AI) bukanlah ancaman yang perlu ditakuti. Menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap teknologi yang berkembang sangat cepat.

Dalam wawancara eksklusif dengan Associated Press (AP) di Sherman, Texas, Jensen Huang mengatakan masyarakat membutuhkan ‘norma sosial baru’ untuk menghadapi era AI. Ia juga mendorong semua orang mulai menggunakan AI agar memahami manfaat sekaligus risikonya.

“Kita perlu menciptakan norma sosial baru,” kata Jensen Huang dalam wawancara itu, dikutip dari AP News. “Saya menganjurkan agar semua orang menggunakan AI. Langsung saja gunakan.”

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran publik mengenai dampak AI terhadap lapangan pekerjaan, keamanan, hingga pesatnya pembangunan pusat data (data center) yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. Menurut Huang, kekhawatiran ini perlu direspons melalui adaptasi masyarakat, bukan dengan menolak perkembangan teknologi.

Jensen Huang menilai AI memiliki potensi mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menghasilkan berbagai terobosan ilmiah. Ia juga berpendapat AI dapat memperkecil kesenjangan teknologi karena masyarakat kini dapat menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan pemrograman.

Menurut Huang, AI kini mampu membantu membuat situs web, menganalisis dokumen yang rumit, mendukung penelitian, hingga membantu merancang renovasi dapur tanpa pengguna harus memahami bahasa pemrograman atau menulis perangkat lunak.

Belajar dari Kemunculan Mobil

Untuk menjelaskan pandangannya, Jensen Huang membandingkan AI dengan kemunculan mobil pada awal abad ke-20.

Ia mengatakan mobil dahulu juga dipandang berbahaya karena sering dikaitkan dengan kecelakaan, termasuk terhadap anak-anak. Namun, masyarakat kemudian membangun norma baru, seperti trotoar, zebra cross, aturan lalu lintas, serta melarang anak-anak bermain di jalan raya.

Menurut Huang, proses serupa juga akan terjadi pada AI. Masyarakat akan membangun aturan, kebiasaan, dan standar keselamatan baru seiring semakin luasnya penggunaan teknologi tersebut.

Meski mendorong adopsi AI secara luas, Jensen Huang menegaskan teknologi tersebut tetap membutuhkan regulasi pemerintah dan standar keselamatan yang jelas.

Ia mengatakan keamanan nasional harus menjadi prioritas dalam penyusunan kebijakan AI, termasuk terkait pengendalian ekspor teknologi. Namun, menurutnya, pemerintah perlu menjelaskan secara spesifik risiko yang ingin diatasi sebelum menetapkan pembatasan tertentu.

“Keamanan nasional harus selalu menjadi perhatian utama semua teknologi,” kata Jensen Huang. “Namun demikian, Anda harus sangat spesifik tentang risiko yang Anda khawatirkan, sebelum menetapkan kebijakan untuk kontrol ekspor.”

Komentar itu disampaikan di tengah meningkatnya persaingan pengembangan AI antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Jensen Huang menilai AS dapat memenangkan kompetisi tersebut apabila tetap terbuka untuk bersaing secara global dalam pengembangan AI.

Selain membahas dampak sosial, Jensen Huang menyoroti kebutuhan infrastruktur untuk menopang perkembangan AI.

Menurutnya, pusat data AI membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar sehingga peningkatan kapasitas pembangkit listrik menjadi salah satu tantangan penting dalam pengembangan teknologi tersebut. Ia menyampaikan hal itu saat menghadiri ekspansi fasilitas manufaktur Nvidia di Sherman, Texas.

Saat ini Nvidia menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar sekitar US$ 5 triliun, didorong oleh tingginya permintaan cip AI. Di tengah lonjakan ini, Jensen Huang mengakui muncul kekhawatiran mengenai ketimpangan ekonomi, konsumsi energi, dan perubahan pasar tenaga kerja. Namun, ia tetap meyakini masyarakat akan mampu beradaptasi sebagaimana ketika menghadapi berbagai lompatan teknologi sebelumnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...