Menteri Digital Singapura: Kami Tak Ingin Manusia Tersingkir karena AI
Katadata
Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Singapura Josephine Teo (kanan) saat berbicara dengan sejumlah jurnalis Indonesia di kantornya, Singapura, Senin (13/7). Foto: Ameidyo Daud/Katadata
Singapura - Pemerintah Singapura menjanjikan perkembangan kecerdasan buatan atau AI tak akan menyingkirkan manusia. Jiran Indonesia itu akan menjadikan AI jadi mitra yang mampu menggenjot produktivitas manusia.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Singapura Josephine Teo saat berbincang bersama sejumlah jurnalis Indonesia awal pekan lalu. Menurutnya, keberadaan AI harus tetap berpusat kepada manusia.
"Kami ingin AI bekerja untuk melayani manusia. Kami ingin AI menjadi asisten, jadi rekan tim, jadi kolaborator. Kami tidak ingin manusia tersingkir," kata Teo.
Menurutnya, ada beberapa pandangan mengenai dampak AI terhadap lapangan pekerjaan. Salah satunya, AI akan mengikuti pola revolusi teknologi yang memangkas pekerjaan lama, tapi secara bersamaan akan memunculkan profesi baru.
Ia juga mengakui ada pandangan kedua yang menyebut AI berkembang terlalu cepat sehingga mengambil alih sebagian pekerjaan manusia. Teo lalu menjelaskan apa sikap Singapura menghadapi perkembangan kecerdasan buatan.
"Saya pikir pendekatan kami adalah jangan anggap enteng apa pun dan jangan berasumsi. Itulah pendekatan umum yang kami ambil di Singapura," katanya.
Dia juga menyoroti fenomena di mana perkembangan AI berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurutnya, perubahan yang paling cepat bukanlah AI mengambil alih pekerjaan.
"Orang yang memiliki kemampuan AI akan menggantikan orang yang tidak memiliki kemampuan AI," ujarnya.
Negeri Singa saat ini menyiapkan kebijakan yang berfokus pada penguasaan AI. Tujuannya, agar kemampuan penduduk di bidang kecerdasan buatan akan menjadi faktor pembeda di pasar kerja.
Negara tersebut juga memberikan insentif bagi korporasi untuk segera mengadopsi AI. Perusahaan nantinya akan melatih para pekerja agar kemampuan mereka meningkat dan bisa mendorong produktivitas.
"Kita tidak bisa hanya berinvestasi dalam membangun keterampilan di tingkat individu. Kita juga harus membuat perusahaan-perusahaan menjadi lebih kompeten dan mampu," katanya.
Singapura juga menetapkan tiga arah transformasi digital yang akan dijaga dalam pengembangan AI. Tiga hal tersebut adalah menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap kecerdasan buatan, menjaga kohesi sosial, serta memastikan ekonomi tetap tumbuh dengan pengembangan kecerdasan buatan.
"Saya masih percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk menciptakan pekerjaan," katanya.
