Piala Dunia 2026 Jadi Etalase AI Global, Smart Ball hingga Perang Disinformasi

Rahayu Subekti
20 Juli 2026, 10:14
Piala Dunia, Piala Dunia 2026, AI, bola
Katadata
Kecerdasan buatan (AI) semakin mendominasi penyelenggaraan turnamen sepakbola modern, seperti Piala Dunia 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Spanyol resmi keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina 1-0 pada babak final di MetLife Stadium, New Jersey, Minggu (19/7) waktu setempat. Namun, laga puncak yang mempertemukan dua raksasa sepak bola dunia itu juga menjadi simbol bagaimana kecerdasan buatan alias AI semakin mendominasi penyelenggaraan turnamen sepak bola modern.

Di balik kemenangan Spanyol, teknologi AI bekerja di hampir setiap aspek pertandingan, mulai dari smart ball, sistem offside semiotomatis, video assistant referee (VAR), hingga analisis ribuan data pertandingan. Pada saat yang sama, AI juga memunculkan tantangan baru berupa banjir disinformasi yang menyebar di media sosial sepanjang turnamen.

Ketua Komite Wasit FIFA Pierluigi Collina menyebut teknologi kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan turnamen sepak bola terbesar di dunia. Bahkan, setiap keputusan kontroversial dapat langsung dianalisis dari pusat komando teknologi FIFA di Miami yang menjadi pusat kendali seluruh pertandingan.

Menurut Collina, kehadiran VAR, sistem teknologi yang membantu wasit di lapangan, justru tidak menghilangkan emosi dalam sepak bola seperti yang sering dikeluhkan sebagian penggemar. "Ketika gol tercipta, pemain tetap merayakannya. Setelah itu memang ada momen menunggu karena VAR melakukan pemeriksaan. Namun ketika gol akhirnya disahkan, muncul perayaan kedua. Emosinya justru menjadi dua kali lipat," kata Collina dikutip dari Tech Radar, Senin (20/7).

Smart Ball hingga Analisis 2.000 Metrik

Pada Piala Dunia 2026, teknologi yang digunakan jauh lebih kompleks dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. FIFA memanfaatkan sistem offside semiotomatis yang didukung AI. Ribuan pemain dipindai menggunakan laser untuk membangun avatar tiga dimensi sehingga proses penentuan offside menjadi lebih transparan. Sementara itu, sistem VAR dijalankan melalui workstation Lenovo ThinkStation yang dipadukan dengan teknologi Hawk-Eye.

Tidak hanya itu, AI juga digunakan untuk menghasilkan Referee View, yakni tayangan dari kamera yang dipasang di tubuh wasit dengan stabilisasi gambar berbasis AI. Teknologi ini mampu mengurangi guncangan kamera hingga 60% sehingga penonton dapat melihat pertandingan dari sudut pandang wasit secara lebih nyaman.

Di luar pertandingan, FIFA juga memakai Football AI Pro untuk membantu persiapan para pengadil lapangan. Sistem tersebut menganalisis lebih dari 2.000 metrik pertandingan untuk seluruh tim peserta sehingga wasit memperoleh gambaran detail mengenai karakter permainan setiap tim sebelum memimpin laga.

Meski demikian, Collina menegaskan AI tetap memiliki keterbatasan. Menurutnya, teknologi tidak akan pernah bisa sepenuhnya menggantikan penilaian manusia dalam menentukan pelanggaran fisik seperti dorongan atau tarikan antarpemain. Keputusan akhir tetap bergantung pada interpretasi wasit di lapangan.

Memicu Kontroversi

Semakin canggih teknologi yang digunakan, namun semakin besar pula kontroversi yang muncul sepanjang Piala Dunia 2026.

VAR menjadi pusat hampir seluruh perdebatan besar selama turnamen berlangsung. Menurut laporan The Guardian, sejumlah gol dianulir karena sensor pada bola pintar mampu mendeteksi sentuhan yang bahkan tidak terlihat oleh mata manusia.

Kritikus menilai penggunaan teknologi tersebut kerap melampaui tujuan awal VAR sehingga memunculkan anggapan penerapannya tidak konsisten.

Kontroversi semakin membesar ketika sejumlah keputusan VAR memicu tuduhan keberpihakan terhadap Argentina. Kekalahan Mesir di babak 16 besar, misalnya, melahirkan berbagai teori konspirasi.

Hal itu terjadi setelah pelatih Hossam Hassan menuding FIFA menginginkan Argentina tetap bertahan di turnamen. Tuduhan serupa terus bergulir hingga babak-babak berikutnya seiring kemenangan Argentina.

“Mungkin mereka ingin mempertahankan juara dunia di kompetisi? Mungkin mereka ingin Messi tetap berada dalam persaingan?” kata Hassan kepada penyiar Qatar beIN Sports setelah pertandingan.

AI Jadi Mesin Penyebar Disinformasi

Persoalan terbesar justru datang dari luar lapangan. The Guardian mencatat sepanjang Piala Dunia 2026 media sosial dibanjiri gambar dan video hasil rekayasa AI yang sulit dibedakan dari konten asli.

Hal itu mulai dari foto yang memperlihatkan sosok mirip Adolf Hitler merayakan gol Jerman dan gambar mantan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengenakan jersey Kroasia. Begitu juga dengan video palsu yang memperlihatkan pelatih Belanda Ronald Koeman mengeluarkan komentar rasis.

Konten-konten tersebut menyebar dengan sangat cepat karena memainkan emosi publik sekaligus memanfaatkan polarisasi politik yang sudah terjadi di berbagai negara.

Menurut laporan tersebut, banjir konten AI membuat batas antara fakta dan rekayasa semakin kabur. Disinformasi tidak hanya memperkeruh perdebatan soal hasil pertandingan, tetapi juga memicu sentimen rasial, xenofobia, hingga teori konspirasi yang menyasar FIFA maupun negara peserta.

Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa AI telah menjadi fondasi baru penyelenggaraan ajang olahraga terbesar di dunia. Teknologi membantu meningkatkan akurasi keputusan wasit, mempercepat analisis pertandingan, hingga menghadirkan pengalaman menonton yang lebih interaktif.

Namun pada saat yang sama, AI juga membuka tantangan baru berupa penyebaran disinformasi yang mampu memengaruhi persepsi publik terhadap jalannya kompetisi.

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...