Malaysia Sudah Panen Investasi Cip, Indonesia Tertinggal

Desy Setyowati
21 Juli 2026, 15:32
Ilustrasi industri cip Malaysia dan Indonesia
ChatGPT, Katadata/Desy Setyowati
Ilustrasi industri cip Malaysia dan Indonesia
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ledakan investasi akal imitasi (AI) membuat semikonduktor menjadi komoditas strategis yang diperebutkan banyak negara. Indonesia mulai menyusun fondasi industri cip melalui kerja sama dengan perusahaan asing dan hilirisasi mineral kritis, sementara Malaysia telah lebih dahulu memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok global.

Tiga perusahaan global menjalin kerja sama dengan Indonesia untuk mengembangkan industri semikonduktor nasional, yakni Essence Global Group dan Tynergy Technology Corporation USA dari Amerika Serikat, serta Arm Limited dari Inggris.

Essence Global Group dan Tynergy Technology Corporation USA akan menggandeng Pengelola Proyek Strategis Nasional (PSN) Wiraraja Green Renewable Energy & Smart Eco-Industrial Park (GESEIP), yakni PT Galang Bumi Industri, sebagai mitra strategis.

Dengan menggaet perusahaan AS itu, pengembangan ekosistem hilirisasi akan mencakup pemurnian kuarsa silika untuk industri kaca melalui PT Quantum Luminous Indonesia, serta pemurnian polysilicon melalui PT Essence Global Indonesia.

Pada fase pertama, investasi yang digelontorkan mencapai US$ 4,9 miliar atau Rp 82,41 triliun (kurs Rp 16.818 per dolar AS). Ma’ruf juga berani menambah investasi hingga US$ 26,7 miliar atau Rp 449,04 triliun jika fase pertama berjalan sukses.

Tambahan investasi ini akan direalisasikan untuk memproduksi ingot wafer, wafer slicing hingga fabrikasi. Dengan begitu dapat membentuk siklus produksi semikonduktor terintegrasi di Indonesia.

Sementara itu, Arm Limited telah meneken kerja sama dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia di London, pada Februari (23/2). Kerja sama ini mencakup desain cip, pengembangan talenta, riset, dan transfer teknologi sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem semikonduktor nasional.

Kerja sama itu akan melibatkan investasi US$ 200 juta atau Rp 3,38 triliun (kurs Rp 16.890/US$) untuk pembangunan industri semikonduktor di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga mengatakan, saat ini pembahasannya berada di tahap negosiasi. “Jadi belum bisa disclose,” katanya, di Jakarta, Maret (5/3). 

Indonesia Tawarkan Mineral Kritis ke Investor Cip

Dalam pertemuan bilateral dengan pimpinan industri India seperti Tata Group dan Netweb Technologies pada Februari, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital atau Komdigi Nezar menjajaki potensi kerja sama pengembangan manufaktur semikonduktor dan infrastruktur AI.

Ia mengatakan Indonesia memiliki cadangan mineral kritis yang melimpah, seperti pasir silika yang merupakan komponen esensial dalam produksi chipset dan semikonduktor. "Pasir silika yang tersedia melimpah di tanah air merupakan potensi besar yang harus kita transformasikan menjadi produk bernilai tambah tinggi,” kata Nezar dalam pernyataan resmi, pada Februari (23/2).

Pada kesempatan berbeda, Nezar mengatakan mineral kritis dapat menjadi modal penting bagi Indonesia dalam membangun industri AI nasional. Namun, nilai tambah tidak akan tercipta jika pengolahan mineral ini masih bergantung pada negara lain.

“Melalui kolaborasi, kami bisa mendapatkan transfer pengetahuan, serta bisa mendapatkan penciptaan nilai dari proses tersebut,” ujar Nezar saat menerima audiensi GreatAsic/Indonesia Chip Design Collaborative Center atau ICDEC di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, dikutip dari Antara.

Menurut dia, pengembangan AI berdaulat tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Indonesia perlu membangun ekosistem yang mencakup sumber daya manusia, infrastruktur komputasi, dan rantai pasok semikonduktor secara bersamaan. “Antara manusia dan juga infrastruktur, kita perlu melakukannya secara bersamaan, paralel,” kata Nezar.

Ia menjelaskan pengembangan AI berdaulat harus ditopang oleh penguatan seluruh rantai nilai industri, mulai dari semikonduktor, infrastruktur komputasi, hingga talenta digital. Penguasaan cip dinilai menjadi faktor strategis karena menentukan posisi suatu negara dalam industri AI sekaligus rantai pasok teknologi global.

Persaingan geopolitik yang semakin ketat membuat berbagai negara berlomba mengamankan teknologi canggih, semikonduktor, dan mineral kritis yang menjadi fondasi industri AI. “Cip dan semikonduktor benar-benar strategis bagi negara-negara yang ingin memasuki industri AI ini dan juga rantai pasokan global AI,” ujar Nezar.

Sementara itu, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan kementerian telah secara aktif mengambil inisiatif untuk terlibat langsung dalam pengembangan desain cip dalam lima tahun terakhir.

“Upaya ini antara lain dimulai sejak 2019 dilanjutkan Hannover Messe pada 2022, ketika Indonesia mulai membangun komunikasi dan penjajakan kerja sama dengan pelaku industri semikonduktor global,” ujar Agus dikutip dari Antara, pada Januari.

Pada ajang Hannover Messe, Kemenperin melakukan pembicaraan awal dengan sejumlah perusahaan teknologi global sebagai bagian dari strategi jangka panjang pengembangan industri berbasis inovasi.

Malaysia Lebih Maju

Dikutip dari Reuters, Malaysia menyumbang 13% dari pengujian dan pengemasan global untuk semikonduktor pada 2024. Negara tetangga ini dipandang memiliki posisi yang baik untuk menarik lebih banyak bisnis karena perusahaan cip Cina melakukan diversifikasi ke luar negeri untuk kebutuhan perakitan, dan telah menarik investasi miliaran dolar dari perusahaan-perusahaan terkemuka dalam beberapa tahun terakhir, termasuk Intel dan Infenion.

Malaysia juga menerima sejumlah investasi digital dari perusahaan teknologi besar tahun lalu, termasuk dari Alphabet, induk Google, sehingga mendorong perekonomiannya dengan pertumbuhan yang melampaui ekspektasi pasar pada kuartal kedua dan ketiga, dan ringgit menjadi salah satu mata uang berkinerja terbaik di Asia pada 2024.

Presiden Asosiasi Industri Semikonduktor Malaysia, Wong Siew Hai memperkirakan ekspor peralatan listrik dan elektronik Malaysia, termasuk semikonduktor, melampaui RM 800 miliar tahun ini atau melampaui RM 711 miliar pada 2025 dan RM 601 pada 2024.

“Saya tidak melihat tren ini melambat, saya justru melihatnya berlanjut. Bahkan, angkanya bisa lebih tinggi tahun ini,” kata Wong Siew Hai dikutip dari Bloomberg, Juni 2026.

Semikonduktor menyumbang sekitar 65% dari ekspor peralatan listrik dan elektronik Malaysia.

Dikutip dari laporan Bank Dunia per April 2026 berjudul 'East Asia & Pacific Economic Update', barang setengah jadi, terutama semikonduktor, tetap menjadi tulang punggung perdagangan terkait AI di seluruh wilayah, meskipun ekspor peralatan seperti perangkat keras pusat data telah tumbuh secara signifikan. Vietnam dan Malaysia menonjol, dengan pangsa ekspor AI meningkat dari sekitar 20% dan 28% dari PDB pada 2023 menjadi sekitar 32% dan 34% pada 2025, masing-masing, termasuk pangsa tertinggi secara global.

Data semikonduktor

Data semikonduktor (Bank Dunia)

"Thailand juga menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam ekspor AI selama periode itu, meningkat dari sekitar 12% menjadi 16% dari PDB. Sebaliknya, pangsa ekspor AI Indonesia tetap dapat diabaikan, dan Filipina menunjukkan penurunan yang moderat," demikian dikutip.

Pengalaman Malaysia memperlihatkan bahwa industri cip dibangun melalui strategi jangka panjang yang mencakup pengembangan talenta, desain cip, penguatan ekosistem pemasok, hingga kemampuan manufaktur bernilai tambah. Tantangan Indonesia kini bukan sekadar menarik modal, melainkan memastikan seluruh mata rantai tersebut tumbuh secara berkelanjutan agar tidak hanya menjadi pemasok bahan baku bagi industri global.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti, Antara, Desy Setyowati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...