Inggris Terancam Krisis Air Imbas Tren Data Center AI
Industri air di Inggris memperingatkan bahwa negara itu berpotensi tidak memiliki pasokan air yang cukup untuk menopang ledakan pembangunan pusat data (data center) yang didorong oleh ambisi pemerintah mengembangkan akal imitasi (AI).
Peringatan itu disampaikan oleh Water UK, badan perdagangan yang mewakili perusahaan-perusahaan air di Inggris dan Irlandia Utara. Organisasi itu menilai proyeksi kebutuhan air pemerintah memiliki 'cacat fatal' karena secara eksplisit tidak memasukkan kebutuhan air pusat data.
Dalam laporan tertulis kepada anggota parlemen, Water UK menyebut pemerintah sama sekali tidak menyinggung aspek kebutuhan air dalam berbagai kebijakan AI, mulai dari zona pertumbuhan AI, strategi AI untuk sains, hingga AI Opportunities Action Plan.
Selain itu, kerangka kerja nasional terbaru mengenai sumber daya air yang diterbitkan Environment Agency pada Juni 2025 dinilai tidak memasukkan perkiraan kebutuhan air untuk pusat data.
"Tampaknya ada anggapan bahwa negara ini akan selalu memiliki cukup air untuk kebutuhan ekonominya. Tidak ada yang lebih jauh dari kebenaran," tulis Water UK, dikutip dari The Guardian, Selasa (21/7).
Kekhawatiran itu muncul ketika House of Lords pada Mei lalu memperingatkan Inggris berpotensi mengalami kekurangan pasokan air publik hingga 5 miliar liter per hari pada 2055.
Konsumsi Air Data Center Terus Meningkat
Pusat data membutuhkan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan panas yang dihasilkan ribuan server. Air digunakan secara langsung melalui menara pendingin, pendingin (chiller), dan sistem pelembapan. Selain itu, kebutuhan air juga meningkat secara tidak langsung karena tingginya konsumsi listrik pusat data.
Water UK memperkirakan pusat data di Inggris saat ini mengonsumsi sekitar 6,6 juta liter air minum setiap hari.
Sejalan dengan target pemerintah yang ingin melipatgandakan kapasitas pusat data hingga tiga kali lipat pada 2030, kebutuhan air diperkirakan ikut meningkat menjadi 19,8 juta liter per hari.
Saat ini, pusat data hanya diizinkan menggunakan air minum sesuai ketentuan perizinan dari Environment Agency.
Banyak Dibangun di Wilayah Kekurangan Air
Water UK menyoroti bahwa lebih dari tiga perempat pusat data di Inggris berada di wilayah selatan dan timur, kawasan yang justru mengalami tekanan pasokan air paling besar.
Jutaan warga di wilayah itu bahkan telah dikenai larangan menggunakan selang air setelah cuaca panas ekstrem berkepanjangan dan minimnya curah hujan.
Menurut Water UK, pertumbuhan pusat data baru di kawasan tersebut kemungkinan sulit diwujudkan tanpa perubahan kebijakan karena jaringan air sudah berada di bawah tekanan.
Organisasi itu menjelaskan satu-satunya cara menambah pasokan baru adalah meningkatkan pengambilan air dari lingkungan, yang berpotensi merusak ekosistem, atau membangun infrastruktur baru seperti waduk yang membutuhkan waktu hingga 15 tahun untuk direncanakan dan dibangun.
Water UK juga mencatat perusahaan-perusahaan air telah memangkas kebocoran sekitar 40% sejak privatisasi dan berencana menguranginya lagi sebesar 17% pada 2030.
Namun, Greenpeace pekan lalu menyatakan perusahaan air justru membuang air lima kali lebih banyak melalui kebocoran pipa dibandingkan penghematan yang bisa diperoleh dari larangan penggunaan selang air secara nasional.
Data Center Bisa Setara Ribuan Rumah
Konsentrasi pusat data terbesar di Inggris berada di Slough yang dilayani oleh Affinity Water.
Sekitar 125 pusat data sedang direncanakan atau dibangun di wilayah layanan perusahaan tersebut, yang sebagian besar juga berada di bawah larangan penggunaan selang air.
Affinity Water mengungkapkan kepada parlemen bahwa beberapa pusat data meminta pasokan hingga 3 juta liter air per hari, setara dengan kebutuhan air puncak sekitar 3.500 rumah.
Perusahaan itu menyatakan sistem perencanaan saat ini masih didasarkan pada pertumbuhan rumah tangga dan konsumsi per kapita, sehingga belum mampu mengakomodasi pengguna komersial dengan kebutuhan air yang setara sebuah kota kecil.
Pemerintah Dinilai Gagal Mengantisipasi
Water UK menyebut kekurangan air di Inggris saat ini mencapai 220 juta liter per hari lebih besar dibandingkan asumsi pemerintah.
Defisit tersebut sementara ini ditutup dengan menerima risiko kerusakan lingkungan yang lebih besar serta menerapkan pembatasan penggunaan air ketika terjadi kekeringan.
Wakil Direktur Water UK Jon Chappel menyebut kondisi tersebut sebagai sesuatu yang "tidak dapat dimaafkan" dan merupakan "kegagalan pemerintah yang sesungguhnya".
Menurut Chappel, Water UK telah meminta pemerintah menerbitkan hierarki kekeringan yang menetapkan sektor mana yang harus diprioritaskan ketika pasokan air terbatas. Namun hingga kini pemerintah belum melakukannya.
"Tanpa ini akan ada kompromi di seluruh masyarakat," katanya.
Kekhawatiran serupa juga muncul di Irlandia, ketika larangan penggunaan selang air memicu kritik terhadap perusahaan air dan pemerintah terkait kurangnya transparansi mengenai konsumsi air pusat data.
Pemerintah Inggris telah menetapkan pusat data sebagai infrastruktur nasional yang penting karena gangguan terhadap fasilitas tersebut dinilai dapat berdampak besar terhadap layanan penting, keamanan nasional, pertahanan, dan fungsi negara.
Namun, Kepala Divisi Big Tech dan Kampanye Global Action Plan Oliver Hayes mempertanyakan alasan penetapan status tersebut.
Ia menilai perusahaan air bisa kehilangan kewenangan membatasi penggunaan air pusat data sehingga berisiko memprioritaskan kebutuhan pusat data dibandingkan rumah tangga ketika terjadi puncak permintaan air.
"Saya pikir sangat mungkin kita akan melihat pusat data yang sebenarnya menjalankan chatbot, atau memungkinkan orang melakukan hal-hal yang tidak berbahaya dan sangat boros, justru mendapatkan perlindungan dan perlakuan istimewa dalam penggunaan sumber daya," katanya.
Sementara itu, pemerintah Inggris menyatakan perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan harus berjalan beriringan.
Pemerintah mengatakan akan tetap menjaga pasokan air sambil mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk mencari alternatif atau cara meminimalkan dampak pusat data terhadap penggunaan air dan pengolahan limbah.
Selain itu, pemerintah menyatakan tengah mengamankan pasokan air melalui investasi infrastruktur dalam jumlah rekor, termasuk pembangunan sembilan waduk baru.
